Dua Rasa Cinta

Selasa, 03 November 2020 - 07:41 WIB
Harus ada cinta seperti ini. Cinta seperti ini adalah cinta yang tidak melahirkan pengagungan kepada yang dicintainya. Cinta kepada sesama Muslim tidak boleh sampai mengagungkan saudara kita sesama Muslim. Cinta kepada orang tua tidak boleh sampai kultus kepada orang tua. Cinta seperti ini tidak boleh melahirkan sikap merendahkan diri, merasa hina di hadapan orang tersebut.

Cinta seperti ini cinta yang keberadaannya tidak menyebabkan terjerumus kedalam perbuatan syirik. Dibolehkan, bahkan tadi diharuskan untuk hal-hal tertentu.

Tetapi bila suatu saat berbenturan antara mahabbah khashah dengan mahabbah musytarakah, harus didahulukan mahabbah khashah. Kalau berbenturan antara cinta kepada Allah dengan cinta kepada sesama makhluk, halus dahulukan cinta kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.

(Baca juga : Kasus Kebakaran Kejagung, Bareskrim Periksa Tersangka Dirut PT APM Hari Ini )

Mahabbah khashah inilah yang disebutkan oleh Allah dalam Al-Qur’an Al-Karim surah Al-Baqarah 165. Allah berfirman:

وَمِنَ النَّاسِ مَن يَتَّخِذُ مِن دُونِ اللَّـهِ أَندَادًا يُحِبُّونَهُمْ كَحُبِّ اللَّـهِ

“Dan di antara manusia ada orang-orang yang menyembah tandingan-tandingan selain Allah; mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah.” (QS. Al-Baqarah: 165)

Disamakan, kepada Allah cinta tapi kepada selain Allah yang mereka sembah juga cinta. Padahal kata Allah:

وَالَّذِينَ آمَنُوا أَشَدُّ حُبًّا لِّلَّـهِ

“Adapun orang-orang yang beriman amat sangat cintanya kepada Allah.” (QS. Al-Baqarah : 165)

(Baca juga : Jokowi Sudah Wanti-wanti Investasi Jangan Lewati Minus 5%, Luhut Gagal )

Berkat Al-Imam Ibnul Qayyim Rahimahullah dalam kitab Madarijus Salikin ketika menerangkan ayat ini. Kata beliau, “Di dalam ayat ini Allah menginformasikan bahwa siapa orang yang mencintai sesuatu selain Allah seperti dia mencintai Allah berarti orang itu telah menjadikan tandingan bagi Allah dalam hal cinta dan mengagungkan.”

Jadi kecintaan kepada yang lain tidak boleh menyemai kecintaan kepada Allah. Berkata Imam Ibnu Katsir Rahimahullah dalam kitab tafsirnya bahwa di dalam ayat ini Allah menerangkan keadaan orang-orang yang musyrik di dunia dan menerangkan adzab yang Allah akan timpakan kepada mereka di akhirat. Ketika orang musyrik menjadikan tandingan bagi Allah berupa sesembahan, berupa patung-patung, mereka mencintai patung-patung sesembahan itu seperti mereka mencintai Allah.

(Baca juga : Cuaca Jakarta Hari Ini, Waspadai Hujan Disertai Petir dan Angin Kencang )

Maknanya mereka menyamakan patung sesembahan dengan Allah dalam hal cinta dan pengagungan. Seperti yang kita sudah jelaskan, orang Musyrik juga menyembah kepada Allah dengan cara mereka sendiri. Kenapa disebut Musyrik? Karena selain menyembah kepada Allah, mereka juga punya sesembahan yang lain. Mereka menyamakan cinta mereka kepada sesembahan seperti cinta mereka kepada Allah, mengagungkan sesembahan seperti pengagungan mereka kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!