Kisah Sufi: Tanggung Jawab Guru dan Permata Dzun-Nun
Senin, 30 November 2020 - 10:19 WIB
Ilustrasi/Ist
Kisah-kisah berikut dinukil dari Idries Shah dalam bukunya yang berjudul The Way of the Sufi dan telah diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia oleh Joko S. Kahhar dan Ita Masyitha dengan judul "Jalan Sufi: Reportase Dunia Ma'rifat". Baca juga: Kisah Sufi: Ats-Tsauri dalam Perenungan dan Doa untuk Orang Mati
TANGGUNG JAWAB GURU
Haji Bektash menunjuk Nuruddin Chaqmaq sebagai Khalifahnya di utara jauh. Pada saat itu Syeikh Chaqmaq sudah mempunyai banyak murid, karena ia seorang darwis yang menarik perhatian beberapa lingkaran pengikut, melalui dedikasinya serta bacaan-bacaan guru-guru kuno. Selain itu, ia berhubungan dekat dengan lebih dari satu guru.
Haji memberinya ajaran yang pada permukaannya sangat berlainan dengan kebiasaan-kebiasaan dan pemikiran-pemikiran tradisional, yang sudah terbiasa bagi murid-muridnya.
Baca juga: Kisah Sufi: Hilali, Kutukan Badui, dan Mengapa Darwis di Istana
Chaqmaq mencoba menghindari tanggung jawabnya dengan menyerahkan pengikutnya kepada Haji. Tetapi Haji Bektash menolak, dan berkata pada Chaqmaq, "Hanya dengan bertindak sebagai saluran dariku kepada orang-orangmu, engkau sendiri akan berubah."
Chaqmaq khawatir bahwa ajaran barunya ini akan mengganggu otoritasnya, "Bila engkau mengajar hanya melalui otoritas, engkau sama sekali tidak mengajar," ujar Haji Bektash. Beberapa murid Chaqmaq kemudian datang mengeluh pada Haji Bektash, bahwa guru mereka berperilaku eksentrik. "Kami tidak lagi dapat memiliki kenyamanan beribadah seperti biasanya," kata mereka. "Inilah sebenarnya yang kuinginkan terjadi," ujar Haji.
Murid-murid lainnya khawatir, bahwa Haji Bektash terpengaruh oleh Chaqmaq dan akan mempengaruhi mereka dengan cara yang sama. Hal ini dilaporkan kepada Haji. Katanya, "Mereka melihat sesuatu yang baik terjadi pada diri Chaqmaq tetapi mereka berpikir itu adalah buruk. Ini adalah suatu demam yang harus dipadamkan sendiri."
Baca juga: Kisah Sufi: Muhammad Shah, Mursyid dari Turkistan
Empat tahun berlalu, sebelum, sepenuhnya melalui perumpamaan Haji Bektash, murid-murid Chaqmaq menyadari bahwa Bektash telah memiliki hal-hal lain yang dikerjakan daripada 'menangkap kuda pincang'. Bektash berkata, "Itu adalah rasa harga dirimu tentang dirimu sendiri yang telah membuatmu membayangkan bahwa engkau adalah sesuatu, di mana siapa pun akan menyusahkan dirinya sendiri untuk memperbudak."
Baca juga: Kisah Sufi: Adakah Nilai Dalam Memuja Orang Suci?
PERMATA
TANGGUNG JAWAB GURU
Haji Bektash menunjuk Nuruddin Chaqmaq sebagai Khalifahnya di utara jauh. Pada saat itu Syeikh Chaqmaq sudah mempunyai banyak murid, karena ia seorang darwis yang menarik perhatian beberapa lingkaran pengikut, melalui dedikasinya serta bacaan-bacaan guru-guru kuno. Selain itu, ia berhubungan dekat dengan lebih dari satu guru.
Haji memberinya ajaran yang pada permukaannya sangat berlainan dengan kebiasaan-kebiasaan dan pemikiran-pemikiran tradisional, yang sudah terbiasa bagi murid-muridnya.
Baca juga: Kisah Sufi: Hilali, Kutukan Badui, dan Mengapa Darwis di Istana
Chaqmaq mencoba menghindari tanggung jawabnya dengan menyerahkan pengikutnya kepada Haji. Tetapi Haji Bektash menolak, dan berkata pada Chaqmaq, "Hanya dengan bertindak sebagai saluran dariku kepada orang-orangmu, engkau sendiri akan berubah."
Chaqmaq khawatir bahwa ajaran barunya ini akan mengganggu otoritasnya, "Bila engkau mengajar hanya melalui otoritas, engkau sama sekali tidak mengajar," ujar Haji Bektash. Beberapa murid Chaqmaq kemudian datang mengeluh pada Haji Bektash, bahwa guru mereka berperilaku eksentrik. "Kami tidak lagi dapat memiliki kenyamanan beribadah seperti biasanya," kata mereka. "Inilah sebenarnya yang kuinginkan terjadi," ujar Haji.
Murid-murid lainnya khawatir, bahwa Haji Bektash terpengaruh oleh Chaqmaq dan akan mempengaruhi mereka dengan cara yang sama. Hal ini dilaporkan kepada Haji. Katanya, "Mereka melihat sesuatu yang baik terjadi pada diri Chaqmaq tetapi mereka berpikir itu adalah buruk. Ini adalah suatu demam yang harus dipadamkan sendiri."
Baca juga: Kisah Sufi: Muhammad Shah, Mursyid dari Turkistan
Empat tahun berlalu, sebelum, sepenuhnya melalui perumpamaan Haji Bektash, murid-murid Chaqmaq menyadari bahwa Bektash telah memiliki hal-hal lain yang dikerjakan daripada 'menangkap kuda pincang'. Bektash berkata, "Itu adalah rasa harga dirimu tentang dirimu sendiri yang telah membuatmu membayangkan bahwa engkau adalah sesuatu, di mana siapa pun akan menyusahkan dirinya sendiri untuk memperbudak."
Baca juga: Kisah Sufi: Adakah Nilai Dalam Memuja Orang Suci?
PERMATA
Lihat Juga :