Kisah Satria Mega Pethak Menyebarkan Ajaran Islam Versi Lawrens Rasyidi
Selasa, 29 Desember 2020 - 13:05 WIB
Ilustrasi/Ist
Alkisah, seorang pemuda berusia dua puluh lima tahun maju menghampiri Julung Pujud yang masih duduk di atas kudanya. Wajahnya bersih bercahaya. Kepalanya dibungkus dengan kain putih hingga sebagian rambutnya tak kelihatan kecuali di dekat pelipis dan telinga.
“Ki Julung Pujud !” tegur pemuda itu dengan suara mantap. ”Sudah lama kudengar nama dan sepak terjangmu! Sungguh sangat kebetulan sekali sekarang dapat bertemu denganmu. Mana anak buahmu?” (Baca juga: Kisah Sunan Gresik: Ketika Kakek Bantal Menaklukkan Dewa Hujan )
Pimpinan perampok ini mendelik. Hampir saja sepasang matanya meloncat keluar saking marahnya. Baru kali ini ada seorang penduduk berani berkata seperti itu kepada dirinya.
Biasanya mereka tak berani menatap wajahnya, menunduk bahkan menyembah-nyembah.
“Edan! Gila!” umpatnya keras-keras. “Lancang sekali mulutmu anak muda. Sudah bosan hidup rupanya. Katakan kaukah yang mengumpulkan para penduduk untuk bersembunyi di tempat ini?”
Pemuda itu malah menatap lekat ke arah Julung Pujud. Lalu ganti ke arah lelaki di sampingnya yaitu Tekuk Penjalin yang lebih suka berdiam diri dan nampaknya lebih tenang. Tak ada rasa takut maupun gentar. Julung Pujud benar-benar merasa dilecehkan. (Baca juga: Kisah Sunan Gresik: Syahbandar itu Pionir Pendidikan Pesantren )
"Ki Julung Pujud! Sebagian orang memang takut kepadamu. Terutama wanita yang lemah dan anak-anak. Tetapi tadi kami berkumpul di surau bukannya bersembunyi. Melainkan sedang mengerjakan shalat dhuhur!” jawab pemuda tampan itu.
Julung Pujud menoleh ke arah Tekuk Penjalin yang tetap berdiam diri namun sepasang matanya menatap tajam-tajam ke arah si pemuda.
“Hem, akhirnya kita ketemu macan juga rupanya,“ guman Tekuk Penjalin lirih.
“Macan?” tukas Julung Pujud. “Masih perlu dibuktikan lagi, apakah dia seekor macan atau sekadar kucing buduk dan anjing kurap yang biasanya cuma mengonggong!”
“Buktikanlah!" sahut Tekuk Penjalin tanpa basa basi. “Baik, panggil anak buah kita supaya dapat menyaksikan bagaimana caranya aku menggebuk anjing muda-muda ini supaya lari terkaing-kaing!” kata Julung Pujud sembari melompat dari atas kuda dan langsung hinggap di hadapan si pemuda tampan.
Tekuk Penjalin memutar kudanya dan segera memacu ke arah anak buahnya yang sudah bersiap-siap hendak membakar rumah-rumah penduduk.
“Cepat berkumpul. Buang obor kalian! Kita bakal menyaksikan pertandingan menarik!” teriak Tekuk Penkalin begitu melihat anak buahnya.
Maka delapan belas orang berkuda itu segera mengikuti langkah kaki kuda Tekuk Penjalin untuk menuju ke tempat Julung Pujud sedang berhadapan dengan si pemuda tampan.
“Anak muda !” hardik Julung Pujud. ”Sebelum nyawamu lepas dari badan. Katakan siapa namamu supaya orang-orangku mengetahui bahwa pernah ada seorang anak muda berani coba-coba melawanku, dan akhirnya bernasib sial!”
“Namaku Ghafur! Tetapi lidah orang-orang Jawa memanggilku Gapur. Kuperingatkan kepadamu, tinggalkan dunia kejahatan, jadilah orang baik-baik sebelum terlambat!” (Baca juga: Kisah Sunan Gresik: Ketika Raja Gedah Membujuk Raja Brawijaya Memeluk Islam )
“Hoo! Jadi namamu Kapur?” ejek Julung Pujud. ”Pantas wajah dan kulitmu putih seperti mayat. Dan memang kau akan segera jadi mayat!”
Tepat pada saat itu Tekuk Penjalin datang bersama tiga belas orang anak buahnya.
“Hem,” ujar Tekuk Penjalin. “Jadi kaupun ikut-ikutan jadi anjing, Pujud? Apakah kaupun hanya akan mengajak anak muda itu untuk saling mengonggong?”
Julung Pujud melirik ke arah Tekuk Penjalin dengan hati mendongkol. “Penjalin! Aku hanya sekadar mengisi waktu untuk menunggu kedatanganmu!” ujarnya pedas.
“Nah, mulai meraung lagi. Kenapa tidak lekas kau bikin modar anak muda itu?” tukas Tekuk Penjalin.
Sementara itu pemuda bernama Gafur segera melipat lengan bajunya yang panjang.
Agaknya pertarungan antaranya dengan Julung Pujud tak bias dihindarkan lagi. "Sebenarnya aku paling benci menggunakan kekerasan. Tapi kepala kalian memang kepala batu yang patut dipukul dengan tangan besi!” ujar Gafur.
“Hiaaaaat !” Tanpa basa basi lagi karena malu terus diejek Tekuk Penjalin, lelaki berewokan itu menerjang maju ke arah Gafur. Sepasang tangannya membentuk cakar rajawali di arahkan ke wajah Gafur yang putih bersih.
Semua orang, terutama para pendududk desa yang berdiri di belakang Gafur berteriak kaget. Sebab Gafur sepertinya tak bereaksi, hanya diam saja, Seolah membiarkan Julung Pujud menampar dan mencakar wajahnya begitu saja.
“Plak! Dess!” ternyata tidak. Begitu jarak serangan tinggal sekilan (kurang lebih 10 cm) Gafur menangkis tangan yang hendak mencengkeram wajahnya bahkan langsung balik mengirim serangan dengan menendang dada Julung Pujud. Julung Pujud mengaduh kesakitan dengan tubuh terdorong ke belakang beberapa langkah. Dadanya terasa bagai di hantam palu godam puluhan kilo. Benar-benar kecele.
Sudah diperhitungkan, melihat keberanian si pemuda tentulah Gafur itu mempunyai sedikit kepandaian. Tapi sungguh tak disangkanya jika kepandaian ilmu silat si pemuda demikian tingginya sehingga sekali gebrak dia dibikin mundur sempoyongan dengan dada ampek. (Baca juga: Islam Masuk ke Jawa: Kisah Sultan Al-Ghabbah Sampai Ruqyah Syaikh Subakir )
Tadinya ia berharap akan meringkus pemuda itu dengan sekali serangan saja. Itu sebabnya dia langsung mengerahkan jurus Rajawali Sakti tingkat ke delapan belas. Dia ingin mencengkeram dan langsung memutar leher Gafur, sekali pelintir putuslah nyawa pemuda itu. Tapi siapa sangka keadaan jadi terbalik. Justru dia yang terkena tendangan telak.
Kini dengan wajah merah padam Julung Pujud langsung mencabut golok di pinggangnya. Dan dengan teriakan mengguntur dia merangsak lagi ke depan. Menebaskan goloknya ke arah perut Gafur. Namun dengan mudahnya pemuda itu berkelit ke sana kemari. Semua serangan Julung Pujud hanya mengenai tempat kosong. Keringat dingin segera membasahi wajahnya. Ia merasa malu dan penasaran. Tekuk Penjalin juga merasa terkejut.
Dia adalah seorang pendekar kawakan. Belum pernah dia melihat kecepatan gerak seorang pesilat seperti Gafur. Ia terus memperhatikan cara-cara Gafur mengelak dan balas menyerang.
Akhirnya dia dapat menyimpulkan ciri khas dari ilmu silat yang dimiliki pemuda itu. “Lembu Sekilan..?” teriaknya agak ragu.
Julung Pujud yang mendengar teriakan Tekuk Penjalin terkejut sekali. Lembu Sekilan adalah ilmu tingkat tinggi. Tak sembarang orang mampu mempelajari ilmu itu. Tapi Gafur yang berusia semuda itu sudah menguasainya dengan baik. Sehingga setiap serangan yang dilancarkan tidak akan pernah menyentuhnya. Selalu berjarak kurang dari sekilan dari sasaran. Tiga puluh jurus telah berlalu. Selama ini Gafur lebih banyak mengalah. Ia lebih sering mengelak atau menangkis, hanya sesekali balas menyerang dengan tenaga biasa.
Sementara Julung Pujud sangat bernafsu merobohkan atau membunuh pemuda itu dengan seluruh kemampuan yang ada. Ia telah mengerahkan semua ilmunya. Baik ilmu yang dipelajarinya dari satuan pasukan elite Majapahit maupun ilmu kotor dengan jurus-jurus keji yang penuh gerak tipuan. Semua itu ternyata tak mampu dipergunakan untuk menyentuh tubuh Gafur.
“Dasar tak tahu diri!” tiba-tiba Tekuk Penjalin angkat bicara. “Kalau mau sebenarnya sudah mampu mencabut nyawamu sejak tadi!”
Julung Pujud makin panas mendengar ejekan rekannya itu. Tekuk Penjalin memang selalu jadi saingannya dalam segala hal. Ilmu mereka berimbang tapi Tekuk Penjalin nampak lebih tenang dan penuh perhitungan. Tak gampang terbawa arus nafsu amarah yang merusak segala pertimbangan akal sehat. Kini Julung Pujud menyerang Gafur dengan membabi buta. (Baca juga: Sunan Kalijaga (5): Mubaligh yang Seniman dan Budayawan )
Hingga suatu ketika Gafur merasa sudah saatnya memberikan pelajaran kepada pemimpin gerombolan perampok itu.
“Trang ! Desss ! Desss !”
Saat itu Julung Pujud membacokkan goloknya ke arah kepala Gafur. Gafur menangkis dengan tangan kirinya. Semua orang terkejut. Mengira tangan Gafur yang bakal putus dibabat golok itu. Ternyata justru golok itulah yang patah menjadi dua. Dan sebelum hilang rasa terkejutnya, Julung Pujud tahu-tahu merasa perutnya kena tendangan teramat keras dari sepasang kaki Gafur yang dilancarkan secara beruntun.
Tubuh Julung Pujud terjungkal ke belakang dengan terjembab ke tanah dengan keras sekali. Mulutnya mengeluarkan darah segar. Nafasnya terengah-engah. Tiga belas anak buahnya hanya memandanginya dengan bengong, tak tahu apa yang harus dilakukannya.
“Goblok !” umpatnya dengan nafas tersenggal. “Mengapa kalian diam saja. Cepat serbu bangsat itu ! Bunuh dia !”
“Ki Julung Pujud !” tegur pemuda itu dengan suara mantap. ”Sudah lama kudengar nama dan sepak terjangmu! Sungguh sangat kebetulan sekali sekarang dapat bertemu denganmu. Mana anak buahmu?” (Baca juga: Kisah Sunan Gresik: Ketika Kakek Bantal Menaklukkan Dewa Hujan )
Pimpinan perampok ini mendelik. Hampir saja sepasang matanya meloncat keluar saking marahnya. Baru kali ini ada seorang penduduk berani berkata seperti itu kepada dirinya.
Biasanya mereka tak berani menatap wajahnya, menunduk bahkan menyembah-nyembah.
“Edan! Gila!” umpatnya keras-keras. “Lancang sekali mulutmu anak muda. Sudah bosan hidup rupanya. Katakan kaukah yang mengumpulkan para penduduk untuk bersembunyi di tempat ini?”
Pemuda itu malah menatap lekat ke arah Julung Pujud. Lalu ganti ke arah lelaki di sampingnya yaitu Tekuk Penjalin yang lebih suka berdiam diri dan nampaknya lebih tenang. Tak ada rasa takut maupun gentar. Julung Pujud benar-benar merasa dilecehkan. (Baca juga: Kisah Sunan Gresik: Syahbandar itu Pionir Pendidikan Pesantren )
"Ki Julung Pujud! Sebagian orang memang takut kepadamu. Terutama wanita yang lemah dan anak-anak. Tetapi tadi kami berkumpul di surau bukannya bersembunyi. Melainkan sedang mengerjakan shalat dhuhur!” jawab pemuda tampan itu.
Julung Pujud menoleh ke arah Tekuk Penjalin yang tetap berdiam diri namun sepasang matanya menatap tajam-tajam ke arah si pemuda.
“Hem, akhirnya kita ketemu macan juga rupanya,“ guman Tekuk Penjalin lirih.
“Macan?” tukas Julung Pujud. “Masih perlu dibuktikan lagi, apakah dia seekor macan atau sekadar kucing buduk dan anjing kurap yang biasanya cuma mengonggong!”
“Buktikanlah!" sahut Tekuk Penjalin tanpa basa basi. “Baik, panggil anak buah kita supaya dapat menyaksikan bagaimana caranya aku menggebuk anjing muda-muda ini supaya lari terkaing-kaing!” kata Julung Pujud sembari melompat dari atas kuda dan langsung hinggap di hadapan si pemuda tampan.
Tekuk Penjalin memutar kudanya dan segera memacu ke arah anak buahnya yang sudah bersiap-siap hendak membakar rumah-rumah penduduk.
“Cepat berkumpul. Buang obor kalian! Kita bakal menyaksikan pertandingan menarik!” teriak Tekuk Penkalin begitu melihat anak buahnya.
Maka delapan belas orang berkuda itu segera mengikuti langkah kaki kuda Tekuk Penjalin untuk menuju ke tempat Julung Pujud sedang berhadapan dengan si pemuda tampan.
“Anak muda !” hardik Julung Pujud. ”Sebelum nyawamu lepas dari badan. Katakan siapa namamu supaya orang-orangku mengetahui bahwa pernah ada seorang anak muda berani coba-coba melawanku, dan akhirnya bernasib sial!”
“Namaku Ghafur! Tetapi lidah orang-orang Jawa memanggilku Gapur. Kuperingatkan kepadamu, tinggalkan dunia kejahatan, jadilah orang baik-baik sebelum terlambat!” (Baca juga: Kisah Sunan Gresik: Ketika Raja Gedah Membujuk Raja Brawijaya Memeluk Islam )
“Hoo! Jadi namamu Kapur?” ejek Julung Pujud. ”Pantas wajah dan kulitmu putih seperti mayat. Dan memang kau akan segera jadi mayat!”
Tepat pada saat itu Tekuk Penjalin datang bersama tiga belas orang anak buahnya.
“Hem,” ujar Tekuk Penjalin. “Jadi kaupun ikut-ikutan jadi anjing, Pujud? Apakah kaupun hanya akan mengajak anak muda itu untuk saling mengonggong?”
Julung Pujud melirik ke arah Tekuk Penjalin dengan hati mendongkol. “Penjalin! Aku hanya sekadar mengisi waktu untuk menunggu kedatanganmu!” ujarnya pedas.
“Nah, mulai meraung lagi. Kenapa tidak lekas kau bikin modar anak muda itu?” tukas Tekuk Penjalin.
Sementara itu pemuda bernama Gafur segera melipat lengan bajunya yang panjang.
Agaknya pertarungan antaranya dengan Julung Pujud tak bias dihindarkan lagi. "Sebenarnya aku paling benci menggunakan kekerasan. Tapi kepala kalian memang kepala batu yang patut dipukul dengan tangan besi!” ujar Gafur.
“Hiaaaaat !” Tanpa basa basi lagi karena malu terus diejek Tekuk Penjalin, lelaki berewokan itu menerjang maju ke arah Gafur. Sepasang tangannya membentuk cakar rajawali di arahkan ke wajah Gafur yang putih bersih.
Semua orang, terutama para pendududk desa yang berdiri di belakang Gafur berteriak kaget. Sebab Gafur sepertinya tak bereaksi, hanya diam saja, Seolah membiarkan Julung Pujud menampar dan mencakar wajahnya begitu saja.
“Plak! Dess!” ternyata tidak. Begitu jarak serangan tinggal sekilan (kurang lebih 10 cm) Gafur menangkis tangan yang hendak mencengkeram wajahnya bahkan langsung balik mengirim serangan dengan menendang dada Julung Pujud. Julung Pujud mengaduh kesakitan dengan tubuh terdorong ke belakang beberapa langkah. Dadanya terasa bagai di hantam palu godam puluhan kilo. Benar-benar kecele.
Sudah diperhitungkan, melihat keberanian si pemuda tentulah Gafur itu mempunyai sedikit kepandaian. Tapi sungguh tak disangkanya jika kepandaian ilmu silat si pemuda demikian tingginya sehingga sekali gebrak dia dibikin mundur sempoyongan dengan dada ampek. (Baca juga: Islam Masuk ke Jawa: Kisah Sultan Al-Ghabbah Sampai Ruqyah Syaikh Subakir )
Tadinya ia berharap akan meringkus pemuda itu dengan sekali serangan saja. Itu sebabnya dia langsung mengerahkan jurus Rajawali Sakti tingkat ke delapan belas. Dia ingin mencengkeram dan langsung memutar leher Gafur, sekali pelintir putuslah nyawa pemuda itu. Tapi siapa sangka keadaan jadi terbalik. Justru dia yang terkena tendangan telak.
Kini dengan wajah merah padam Julung Pujud langsung mencabut golok di pinggangnya. Dan dengan teriakan mengguntur dia merangsak lagi ke depan. Menebaskan goloknya ke arah perut Gafur. Namun dengan mudahnya pemuda itu berkelit ke sana kemari. Semua serangan Julung Pujud hanya mengenai tempat kosong. Keringat dingin segera membasahi wajahnya. Ia merasa malu dan penasaran. Tekuk Penjalin juga merasa terkejut.
Dia adalah seorang pendekar kawakan. Belum pernah dia melihat kecepatan gerak seorang pesilat seperti Gafur. Ia terus memperhatikan cara-cara Gafur mengelak dan balas menyerang.
Akhirnya dia dapat menyimpulkan ciri khas dari ilmu silat yang dimiliki pemuda itu. “Lembu Sekilan..?” teriaknya agak ragu.
Julung Pujud yang mendengar teriakan Tekuk Penjalin terkejut sekali. Lembu Sekilan adalah ilmu tingkat tinggi. Tak sembarang orang mampu mempelajari ilmu itu. Tapi Gafur yang berusia semuda itu sudah menguasainya dengan baik. Sehingga setiap serangan yang dilancarkan tidak akan pernah menyentuhnya. Selalu berjarak kurang dari sekilan dari sasaran. Tiga puluh jurus telah berlalu. Selama ini Gafur lebih banyak mengalah. Ia lebih sering mengelak atau menangkis, hanya sesekali balas menyerang dengan tenaga biasa.
Sementara Julung Pujud sangat bernafsu merobohkan atau membunuh pemuda itu dengan seluruh kemampuan yang ada. Ia telah mengerahkan semua ilmunya. Baik ilmu yang dipelajarinya dari satuan pasukan elite Majapahit maupun ilmu kotor dengan jurus-jurus keji yang penuh gerak tipuan. Semua itu ternyata tak mampu dipergunakan untuk menyentuh tubuh Gafur.
“Dasar tak tahu diri!” tiba-tiba Tekuk Penjalin angkat bicara. “Kalau mau sebenarnya sudah mampu mencabut nyawamu sejak tadi!”
Julung Pujud makin panas mendengar ejekan rekannya itu. Tekuk Penjalin memang selalu jadi saingannya dalam segala hal. Ilmu mereka berimbang tapi Tekuk Penjalin nampak lebih tenang dan penuh perhitungan. Tak gampang terbawa arus nafsu amarah yang merusak segala pertimbangan akal sehat. Kini Julung Pujud menyerang Gafur dengan membabi buta. (Baca juga: Sunan Kalijaga (5): Mubaligh yang Seniman dan Budayawan )
Hingga suatu ketika Gafur merasa sudah saatnya memberikan pelajaran kepada pemimpin gerombolan perampok itu.
“Trang ! Desss ! Desss !”
Saat itu Julung Pujud membacokkan goloknya ke arah kepala Gafur. Gafur menangkis dengan tangan kirinya. Semua orang terkejut. Mengira tangan Gafur yang bakal putus dibabat golok itu. Ternyata justru golok itulah yang patah menjadi dua. Dan sebelum hilang rasa terkejutnya, Julung Pujud tahu-tahu merasa perutnya kena tendangan teramat keras dari sepasang kaki Gafur yang dilancarkan secara beruntun.
Tubuh Julung Pujud terjungkal ke belakang dengan terjembab ke tanah dengan keras sekali. Mulutnya mengeluarkan darah segar. Nafasnya terengah-engah. Tiga belas anak buahnya hanya memandanginya dengan bengong, tak tahu apa yang harus dilakukannya.
“Goblok !” umpatnya dengan nafas tersenggal. “Mengapa kalian diam saja. Cepat serbu bangsat itu ! Bunuh dia !”
Lihat Juga :