Kisah Sunan Kudus Hentikan Wabah Virus di Arab, Minta Upah Batu

loading...
Kisah Sunan Kudus Hentikan Wabah Virus di Arab, Minta Upah Batu
Ilustrasi/Ist
DI dalam legenda dikisahkan bahwa Raden Jakfar Sodiq atau Sunan Kudus gemar mengembara, baik ke Tanah Hindustan maupun ke Tanah Suci Makkah . Buku Kisah dan Ajaran Wali Sanga karya H Lawrens Rasyidi berkisah sewaktu berada di Makkah Sunan Kudus menunaikan ibadah haji.

Baca juga: Jejak Sunan Kalijaga di Bukit Surowiti Gresik

Pada saat itu, wabah penyakit yang sukar di atasi tengah menjangkiti Negeri Arab. Penguasa di sana mengadakan sayembara, siapa yang berhasil melenyapkan wabah penyakit itu akan diberi hadiah harta benda yang cukup besar jumlahnya.

Sudah banyak orang mencoba tapi tak pernah berhasil. Pada suatu hari Sunan Kudus menghadap penguasa negeri itu tapi kedatangannya disambut dengan sinis. “Dengan apa Tuan akan melenyapkan wabah penyakit itu?” tanya sang Amir.

“Dengan do’a,” jawab Jakfar Sodiq singkat.



“Kalau hanya do’a kami sudah puluhan kali melakukannya. Di Tanah Arab ini banyak para ulama dan Syekh-Syekh ternama. Tapi mereka tak pernah berhasil mengusir wabah penyakit ini.”

“Saya mengerti, memang Tanah Arab ini gudangnya para ulama. Tapi jangan lupa ada saja kekurangannya sehingga do’a mereka tidak terkabulkan,” jawab Jakfar Sodiq.

“Hem, sungguh berani Tuan berkata demilian,” kata Amir itu dengan nada berang. “Apa kekurangan mereka?”

“Anda sendiri yang menyebabkannya,” kata Jakfar Sodiq dengan tenangnya. “Anda telah menjanjikan hadiah yang menggelapkan mata hati mereka sehingga do’a mereka tidak ikhlas. Mereka berdo’a hanya karena mengharap hadiah.”

Sang Amirpun terbungkam atas jawaban itu. Selanjutnya penguasa Arab itu mempersilakan Jakfar Sodiq melaksanakan niatnya.

Baca juga: Raden Paku, Sehari Menikah Dua Kali, Salah Satu Istrinya Putri Sunan Ampel

Kesempatan itu tak disia-siakan. Secara khusuk Jakfar Sodiq berdo’a dan membaca beberapa amalan. Dalam tempo singkat wabah penyakit mengganas di negeri Arab telah menyingkir. Bahkan beberapa orang yang menderita sakit keras mendadak saja sembuh.

Bukan main senangnya hati sang Amir. Rasa kagum mulai menjalari hatinya. Hadiah yang dijanjikannya bermaksud diberikannya kepada Jakfar Sodiq, tapi Jakfar Sodiq menolaknya. Dia hanya minta sebuah batu yang berasal dari Baitul Maqdis. Sang Amir mengizinkannya.

Batu itupun dibawa ke Tanah Jawa, di pasang di pengimaman masjid yang didirikannya sekembali dari Tanah Suci.

Lawrens Rasyidi menulis Jakfar Sodiq adalah pengikut jejak Sunan Kalijaga, dalam berdakwah menggunakan cara halus atau Tutwuri Handayani. Adat istiadat rakyat tidak ditentang secara frontal, melainkan diarahkan sedikit demi sedikit menuju ajaran Islami.

Rakyat kota Kudus pada waktu itu masih banyak yang beragama Hindu dan Budha. Para Wali mengadakan sidang untuk menentukan siapakah yang pantas berdakwah di kota itu. Pada akhirnya Jakfar Sodiq yang bertugas di daerah itu. Karena masjid yang dibangunnya dinamakan Kudus maka Raden Jakfar Sodiq pada akhirnya disebut Sunan Kudus.

Baca juga: Kisah Sunan Ampel (2): Sesepuh Wali Songo yang Sangat Toleran

Senopati Demak
Menurut salah satu sumber, tulis Lawrens Rasyidi, Sunan Kudus adalah putra Raden Usman Haji yang bergelar Sunan Ngudung dari Jipang Panolan. Ada yang mengatakan letak Jipang Panolan ini di sebelah utara kota Blora.

Di dalam Babad Tanah Jawa, disebutkan bahwa Sunan Ngudung pernah memimpin pasukan Demak Bintoro yang berperang melawan pasukan Majapahit. Sunan Ngudung selaku senopati Demak berhadapan dengan Raden Timbal atau Adipati Terung dari Majapahit. Dalam pertempuran yang sengit dan saling mengeluarkan aji kesaktian itu Sunan Ngudung gugur sebagai pahlawan sahid. Kedudukannya sebagai senopati Demak kemudian digantikan putranya, Sunan Kudus bernama asli Ja’far Sodiq.

Pasukan Demak hampir saja menderita kekalahan, namun berkat siasat Sunan Kalijaga, dan bantuan pusaka dari Raden Patah yang dibawa dari Palembang kedudukan Demak dan Majapahit akhirnya berimbang.

Selanjutnya melalui jalan diplomasi Patih Wanasalam dan Sunan Kalijaga, peperangan itu dapat dihentikan. Adipati Terung yang memimpin lasykar Majapahit diajak damai dan bergabung dengan Raden Patah yang ternyata adalah kakaknya sendiri. Kini keadaan berbalik. Adipati Terung dan pengikutnya bergabung dengan tentara Demak dan menggempur tentara Majapahit hingga ke belah timur. Pada akhirnya perang itu dimenangkan oleh pasukan Demak.

Baca juga: Sunan Giri, Ahli Jurnalistik yang Tulisannya Mengguncang Kerajaan Majapahit
(mhy)
cover top ayah
وَمَا مَنَعَهُمۡ اَنۡ تُقۡبَلَ مِنۡهُمۡ نَفَقٰتُهُمۡ اِلَّاۤ اَنَّهُمۡ كَفَرُوۡا بِاللّٰهِ وَبِرَسُوۡلِهٖ وَلَا يَاۡتُوۡنَ الصَّلٰوةَ اِلَّا وَهُمۡ كُسَالٰى وَلَا يُنۡفِقُوۡنَ اِلَّا وَهُمۡ كٰرِهُوۡنَ
Hal yang menghalangi nafkah mereka untuk diterima adalah karena mereka mengkufuri kepada Allah dan Rasul-Nya dan mereka tidak melaksanakan shalat, melainkan dengan malas dan tidak menginfakkan harta mereka, melainkan dengan rasa terpaksa.

(QS. At-Taubah:54)
cover bottom ayah
TULIS KOMENTAR ANDA!