Begini Syaikh Abdul Qadir Memaknai Kembali dari Jihad Kecil, Menuju Jihad Besar

Jum'at, 08 Januari 2021 - 16:49 WIB
Ilustrasi/Ist
Syaikh Abdul Qadir Al-Jilani memaknai sabda Nabi Muhammad SAW: “Kita telah kembali dari jihad kecil, dan menuju jihad besar” dalam kitabnya Futuh Al-Ghaib .

Menurutnya, bila kau bertanya melawan dan berhasil mengatasi diri, maka Allah membangkitkannya kembali, dan ia menuntut darimu pemuasan keinginan, baik yang diharamkan maupun yang dihalalkan, hingga kau berupaya lagi mengatasi diri, sampai pahala tertulis bagimu begitu kau berupaya kembali".

Nah, inilah makna sabda Nabi SAW “Kita telah kembali dari jihad kecil , dan menuju jihad besar.”

Baca juga: Syaikh Abdul Qadir Ingatkan Mereka yang Tak Memohon Sesuatu kepada Allah Ta'ala

Ia berkata bahwa kembali berupaya mengatasi diri senantiasa terjadi. Dan inilah makna firman Allah: “Mengabdilah kepada Tuhanmu, hingga kepastian (kematian) datang kepadamu.” (QS.15:99)

Allah telah memerintahkan Nabi-Nya untuk mengabdi kepada-Nya. Menurut Syaikh Abdul Qadir, hal ini bertentangan dengan diri. Sebab semua pengabdian ditolak oleh diri yang menginginkan sebaliknya, hingga datang kepastian (kematian).

Bila ditanya: “Bagaimana mungkin diri Nabi menolak pengabdian, padahal ia tak punya kedirian?”

Allah berfirman: “Ia tak berbicara dengan kehendaknya sendiri, tapi dengan wahyu.” (QS.53:84)

Baca juga: Ketika Syaikh Abdul Qadir Al-Jilani Menginginkan Kematian

Ia mengalamatkan kepada nabi-Nya kata-kata ini, untuk mengukuhkan hal ini, dan berlaku pula bagi pengikut-pengikutnya, hingga hari Kiamat. Dia menganugerahi nabi-Nya daya mengatasi diri, hingga hal ini tak merugikannya, tak pula mendorongnya berupaya mengatasi diri.

Inilah pembeda antara dia dan pengikut-pengikutnya. Bila seorang mukmin teguh dalam upaya spiritual, hingga datang kematian, dan menemui Tuhannya, dengan pedang terhunus berlumuran darah kedirian, maka Ia memberinya Surga yang dijaminkan-Nya baginya, dengan firman-Nya:

“Bagi yang takwa kepada Tuhannya, dan mencegah diri dari hawa nafsunya, maka Surgalah tempat tinggalnya.” (QS.79:41)

Nah, bila Dia telah memasukkannya ke dalam surga , maka Ia menjadikan surga itu tempat tinggal, tempat beristirahat dan tempat kembalinya, yang membuatnya aman dari pemalingan kepada duniawi; dan Ia senantiasa melimpahkan baginya, dari hari ke hari dan dari jam ke jam, rezeki dan akan mengaruniainya segala macam busana dan hiasan yang abadi, sebagaimana Ia memperbarui, di dalam dunia ini setiap hari setiap jam dan setiap detik, perjuangan melawan kedirian.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!