Telinga Berdenging Tanda Rasulullah SAW Rindu kepada Umatnya, Benarkah?
Jum'at, 26 Februari 2021 - 05:00 WIB
Imam Al-Bukhari mengatakan: "Ma’mar dan bapaknya, keduanya adalah munkarul hadis." (al-Lali’ al-Mashnu’ah, 2/242).
Sementara Ad-Daruquthni menyebut Muhammad bin Ubaidillah dengan 'Matruk' (perawi yang tidak diindahkan hadisnya).
Dari NU Onlinedisebutkan, masalah ini juga telah dibahas dalam Muktamar Nahdlatul Ulama ke-11 di Banjarmasin pada tanggal 19 Rabiul Awwal 1355 H/9 Juni 1936. Dalam Muktamar itu dijelaskan bahwa suaran "Nging" dalam telinga menunjukkan bahwa Rasulullah sedang menyebut orang tersebut dalam perkumpulan yang tertinggi (Al-mala` Al-A'la) agar ia ingat kepada beliau dan bershalawat kepadanya.
Pandangan Muktamirin itu didasarkan kepada pendapat Abdurrauf Al-Munawi yang dikemukakan oleh 'Ali al-'Azizi dalam Kitab as-Siraj al-Munir:
قَالَ الْمُنَاوِيُّ فَإِنَّ اْلأُذُنَ إِنَّمَا تَطُنُّ لَمَّا وَرَدَ عَلَى الرُّوْحِ مِنَ الْخَبَرِ الْخَيْرِ وَهُوَ أَنَّ الْمُصْطَفَى قَدْ ذَكَرَ ذَلِكَ اْلإِنْسَانَ بِخَيْرٍ فِي الْمَلاَءِ اْلأَعْلَى فِيْ عَالَمِ اْلأَرْوَاحِ
"Imam Al-Munawi berkata: sesungguhnya telinga itu berdengung hanya ketika datang berita baik ke ruh, bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam telah menyebutkan orang (pemilik telinga yang berdengung) tersebut dengan kebaikan di Al-Mala' al-A'la (majelis tertinggi) di alam ruh." (Lihat Akamul Fuqaha)
Demikian penjelasan para ulama. Semoga kita termasuk orang-orang yang senantiasa bersholawat baik dalam keadaan telinga berdenging maupun tidak berdenging.
Baca Juga: Keutamaan Sholawat yang Jarang Diketahui Umat Islam
Wallahu A'lam
Sementara Ad-Daruquthni menyebut Muhammad bin Ubaidillah dengan 'Matruk' (perawi yang tidak diindahkan hadisnya).
Dari NU Onlinedisebutkan, masalah ini juga telah dibahas dalam Muktamar Nahdlatul Ulama ke-11 di Banjarmasin pada tanggal 19 Rabiul Awwal 1355 H/9 Juni 1936. Dalam Muktamar itu dijelaskan bahwa suaran "Nging" dalam telinga menunjukkan bahwa Rasulullah sedang menyebut orang tersebut dalam perkumpulan yang tertinggi (Al-mala` Al-A'la) agar ia ingat kepada beliau dan bershalawat kepadanya.
Pandangan Muktamirin itu didasarkan kepada pendapat Abdurrauf Al-Munawi yang dikemukakan oleh 'Ali al-'Azizi dalam Kitab as-Siraj al-Munir:
قَالَ الْمُنَاوِيُّ فَإِنَّ اْلأُذُنَ إِنَّمَا تَطُنُّ لَمَّا وَرَدَ عَلَى الرُّوْحِ مِنَ الْخَبَرِ الْخَيْرِ وَهُوَ أَنَّ الْمُصْطَفَى قَدْ ذَكَرَ ذَلِكَ اْلإِنْسَانَ بِخَيْرٍ فِي الْمَلاَءِ اْلأَعْلَى فِيْ عَالَمِ اْلأَرْوَاحِ
"Imam Al-Munawi berkata: sesungguhnya telinga itu berdengung hanya ketika datang berita baik ke ruh, bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam telah menyebutkan orang (pemilik telinga yang berdengung) tersebut dengan kebaikan di Al-Mala' al-A'la (majelis tertinggi) di alam ruh." (Lihat Akamul Fuqaha)
Demikian penjelasan para ulama. Semoga kita termasuk orang-orang yang senantiasa bersholawat baik dalam keadaan telinga berdenging maupun tidak berdenging.
ﺍَﻟﻠﻬُﻢ ﺻَﻞ ﻋَﻠﻰ ﺳَﻴﺪِﻧَﺎ ﻣُﺤَﻤﺪٍ ﻭَ ﺍَﻟِﻪِ ﻭَﺻَﺤْﺒِﻪِ ﻭَﺳَﻠﻢْ
Baca Juga: Keutamaan Sholawat yang Jarang Diketahui Umat Islam
Wallahu A'lam
(rhs)
Lihat Juga :