Tempat Imam Lebih Tinggi dari Makmum, Bolehkah?
Senin, 01 Maret 2021 - 18:18 WIB
وعن همام ابن الحارث أن حذيفة أم الناس بالمدائن على دكان فأخذ أبو مسعود بقميصه فجبذه فلما فرغ من صلاته قال: ألم تعلم أنهم كانوا ينهون عن ذلك؟ قال: بلى، فذكرت حين جذبتني
Dari Hamam bin Al Harits, bahwa Hudzaifah mengimami manusia di daerah Madaain di atas ketinggian, maka Abu Mas'ud menarik gamisnya, dan setelah sholat usai dia berkata: "Apakah kamu tidak tahu bahwa mereka dilarang seperti ini?" Hudzaifah menjawab: "Ya, aku baru ingat saat setelah kamu menarik gamisku." (HR. Abu Daud, Asy-Syafi'iy, Al Baihaqiy. Dishahihkan oleh Al Hakim, Ibnu Hibban, dan Ibnu Khuzaimah)
Syekh Sayyid Sabiq rahimahullah mengatakan: "Dimakruhkan bagi imam berdiri lebih tinggi dari makmum."
Tapi jika lebih tinggi untuk keperluan mengajarkan makmum maka hal itu tidak apa-apa. Syekh Sayyid Sabiq melanjutkan:
فإن كان للامام غرض من ارتفاعه على المأموم فإنه لا كراهة حينئذ، فعن سهل بن سعد الساعدي قال: (رأيت النبي صلى الله عليه وسلم جلس على المنبر أول يوم وضع فكبر وهو عليه ثم ركع ثم نزل القهقهري وسجد في أصل المنبر ثم عاد فلما فرغ أقبل عن الناس فقال: (أيها الناس إنما صنعت هذا لتأتموا بي ولتتعلموا صلاتي) رواه أحمد والبخاري ومسلم
Jika ketinggian imam itu ada maksud tertentu kepada makmum maka saat itu tidak makruhkan.
Dari Sahl bin Sa'ad As Sa'idiy dia berkata: "Aku melihat Nabi shalallahu 'alaihi wa sallam duduk di atas mimbar di hari pertama mimbar itu diletakkan. Di atasnya Dia bertakbir lalu ruku', lalu beliau turun dan mundur, kemudian sujud di terasnya mimbar lalu beliau kembali (ke mimbar), lalu menghadap ke manusia dan bersabda:
"Wahai manusia, aku lakukan seperti tadi tidak lain hanyalah agar kalian ikuti dan untuk mengajarkan sholatku" . (HR Al-Bukhari, Muslim, Ahmad)
Baca Juga: Siapa yang Lebih Berhak Menjadi Imam Sholat?
Wallahu A'lam
Dari Hamam bin Al Harits, bahwa Hudzaifah mengimami manusia di daerah Madaain di atas ketinggian, maka Abu Mas'ud menarik gamisnya, dan setelah sholat usai dia berkata: "Apakah kamu tidak tahu bahwa mereka dilarang seperti ini?" Hudzaifah menjawab: "Ya, aku baru ingat saat setelah kamu menarik gamisku." (HR. Abu Daud, Asy-Syafi'iy, Al Baihaqiy. Dishahihkan oleh Al Hakim, Ibnu Hibban, dan Ibnu Khuzaimah)
Syekh Sayyid Sabiq rahimahullah mengatakan: "Dimakruhkan bagi imam berdiri lebih tinggi dari makmum."
Tapi jika lebih tinggi untuk keperluan mengajarkan makmum maka hal itu tidak apa-apa. Syekh Sayyid Sabiq melanjutkan:
فإن كان للامام غرض من ارتفاعه على المأموم فإنه لا كراهة حينئذ، فعن سهل بن سعد الساعدي قال: (رأيت النبي صلى الله عليه وسلم جلس على المنبر أول يوم وضع فكبر وهو عليه ثم ركع ثم نزل القهقهري وسجد في أصل المنبر ثم عاد فلما فرغ أقبل عن الناس فقال: (أيها الناس إنما صنعت هذا لتأتموا بي ولتتعلموا صلاتي) رواه أحمد والبخاري ومسلم
Jika ketinggian imam itu ada maksud tertentu kepada makmum maka saat itu tidak makruhkan.
Dari Sahl bin Sa'ad As Sa'idiy dia berkata: "Aku melihat Nabi shalallahu 'alaihi wa sallam duduk di atas mimbar di hari pertama mimbar itu diletakkan. Di atasnya Dia bertakbir lalu ruku', lalu beliau turun dan mundur, kemudian sujud di terasnya mimbar lalu beliau kembali (ke mimbar), lalu menghadap ke manusia dan bersabda:
"Wahai manusia, aku lakukan seperti tadi tidak lain hanyalah agar kalian ikuti dan untuk mengajarkan sholatku" . (HR Al-Bukhari, Muslim, Ahmad)
Baca Juga: Siapa yang Lebih Berhak Menjadi Imam Sholat?
Wallahu A'lam
(rhs)
Lihat Juga :