Mengejar Pahala Amal Akhirat
Sabtu, 05 Juni 2021 - 13:41 WIB
,ﻟَﻮْ ﺃَﻥَّ ﻻِﺑْﻦِ ﺁﺩَﻡَ ﻭَﺍﺩِﻳًﺎ ﻣِﻦْ ﺫَﻫَﺐٍ ﺃَﺣَﺐَّ ﺃَﻥْ ﻳَﻜُﻮﻥَ ﻟَﻪُ ﻭَﺍﺩِﻳَﺎﻥِ ، ﻭَﻟَﻦْ ﻳَﻤْﻸَ ﻓَﺎﻩُ ﺇِﻻَّ ﺍﻟﺘُّﺮَﺍﺏُ ، ﻭَﻳَﺘُﻮﺏُ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﻋَﻠَﻰ ﻣَﻦْ ﺗَﺎﺏَ
“Seandainya seorang anak Adam memiliki satu lembah emas, tentu ia menginginkan dua lembah lainnya, dan sama sekai tidak akan memenuhi mulutnya (merasa puas) selain tanah (yaitu setelah mati). Dan Allah menerima taubat orang-orang yang bertaubat.” ( Muttafaqun ‘alaih)
Baca juga: 4 Langkah Menemukan Aib Diri
Dunia itu ibaratnya jalannya semakin menyempit tapi tak berujung. Lalu apa yang terjadi jika beberapa orang-orang berlomba memasuki jalan yang sempit. Mau tidak mau pasti saling sikut dan saling menjatuhkan agar berada di garis terdepan.
Ustadz Raehanul Bahraen mengatakan, terkadang manusia sudah sampai titik nyaman namun tetap tidak puas. Misal, kehidupan nyaman, gaji sudah cukup besar, anak-anak sudah sukses, rumah dan kendaraan sudah ada, hidup sudah tenang dan nyaman, tapi karena merasa harus terus berlomba mengejar dunia, dia akan berada di jalan yang semakin sempit.
"Orang yang terus mengejar dunia, hidupnya akan terasa susah. Ada saatnya hendaklah manusia berjalan santai saja. Menikmati setelah lelah berlari,"ungkap dai asal Yogjakarta ini.
Baca juga: Bandara Aminggaru Ilaga dan Wilayah Sekitarnya Dikuasai Pasukan TNI-Polri
Hendaklah manusia hidup dengan qana’ah atau merasa cukup. Merasa puas dan ridha dengan karunia Allah Ta'ala. Sebaliknya, kalau tentang akhirat, maka petunjuk dari Allah Ta'ala adalah umat Islam disuruh berlomba-lomba, mencari, dan mengejar. Tidak boleh merasa cukup dan merasa sudah beramal.
Salah satu tanda muslimin yang perhatian pada akhiratnya adalah menjaga shalatnya. Jika ingin memperbaiki hidup, maka mulailah dengan memperbaiki sholat. Mengapa harus memperbaiki shalat terlebih dahulu untuk menjadi lebih baik? Karena memulai perbaikan diri dengan memperbaiki sholat terlebih dahulu memang adalah hal yang tepat dan benar.
Baca juga: Produk-Produk Paling Hit Era 2000-an, dari Majalah sampai Ponsel
“Seandainya seorang anak Adam memiliki satu lembah emas, tentu ia menginginkan dua lembah lainnya, dan sama sekai tidak akan memenuhi mulutnya (merasa puas) selain tanah (yaitu setelah mati). Dan Allah menerima taubat orang-orang yang bertaubat.” ( Muttafaqun ‘alaih)
Baca juga: 4 Langkah Menemukan Aib Diri
Dunia itu ibaratnya jalannya semakin menyempit tapi tak berujung. Lalu apa yang terjadi jika beberapa orang-orang berlomba memasuki jalan yang sempit. Mau tidak mau pasti saling sikut dan saling menjatuhkan agar berada di garis terdepan.
Ustadz Raehanul Bahraen mengatakan, terkadang manusia sudah sampai titik nyaman namun tetap tidak puas. Misal, kehidupan nyaman, gaji sudah cukup besar, anak-anak sudah sukses, rumah dan kendaraan sudah ada, hidup sudah tenang dan nyaman, tapi karena merasa harus terus berlomba mengejar dunia, dia akan berada di jalan yang semakin sempit.
"Orang yang terus mengejar dunia, hidupnya akan terasa susah. Ada saatnya hendaklah manusia berjalan santai saja. Menikmati setelah lelah berlari,"ungkap dai asal Yogjakarta ini.
Baca juga: Bandara Aminggaru Ilaga dan Wilayah Sekitarnya Dikuasai Pasukan TNI-Polri
Hendaklah manusia hidup dengan qana’ah atau merasa cukup. Merasa puas dan ridha dengan karunia Allah Ta'ala. Sebaliknya, kalau tentang akhirat, maka petunjuk dari Allah Ta'ala adalah umat Islam disuruh berlomba-lomba, mencari, dan mengejar. Tidak boleh merasa cukup dan merasa sudah beramal.
Salah satu tanda muslimin yang perhatian pada akhiratnya adalah menjaga shalatnya. Jika ingin memperbaiki hidup, maka mulailah dengan memperbaiki sholat. Mengapa harus memperbaiki shalat terlebih dahulu untuk menjadi lebih baik? Karena memulai perbaikan diri dengan memperbaiki sholat terlebih dahulu memang adalah hal yang tepat dan benar.
Baca juga: Produk-Produk Paling Hit Era 2000-an, dari Majalah sampai Ponsel
Lihat Juga :