Pelajaran Berharga dari Kisah Nabi Musa Saat Sakit Gigi
Selasa, 15 Juni 2021 - 12:02 WIB
لَو أنكُم توكَّلْتُم علَى اللهِ حقَّ تَوَكُّلِهِ لَرَزَقَكُم كما يَرْزُقُ الطَّيْرَ تغدُو خِمَاصًا وتَروحُ بِطَانًا
"Andai kalian bertawakkal kepada Allah sebenar-benar tawakkal niscaya Allah akan berikan rezeki kepada kalian, sebagaimana Dia memberikan rezeki kepada burung yang pergi dalam keadaan lapar lalu pulang dalam keadaan kenyang".
Ternyata Imam Syafi'i memiliki pandangan lain. Beliau mengemukakan pendapat kepada sang guru. "Ya Syekh, seandainya seekor burung tidak keluar dari sangkarnya, bagaimana mungkin ia akan mendapatkan rezeki?"
Suatu hari, Imam Syafi'i berjalan-jalan, beliau melihat orang-orang memanen buah anggur. Beliau pun ikut membantu mereka. Setelah selesai bekerja, Imam Syafi'i diberi imbalan beberapa ikat anggur.
Imam Syafi'i senangnya bukan main. Beliau senang bukan karena mendapatkan anggur, tetapi karena memiliki alasan untuk menyampaikan kepada Imam Malik bahwa pandangannya soal rezeki itu benar.
Bergegas Imam Syafi'i menjumpai Gurunya Imam Malik yang sedang duduk santai. Sambil menaruh anggur yang didapatnya, Imam Syafi'i menceritakan pengalamannya: "Seandainya saya tidak keluar membantu memanen, tentu saja anggur itu tidak akan pernah sampai di tangan saya".
Mendengar itu, Imam Malik tersenyum, seraya mengambil anggur dan mencicipinya. Kemudian Imam Malik berucap: "Sehari ini aku memang tidak keluar pondok, hanya mengambil tugas sebagai guru, dan sedikit berpikir alangkah nikmatnya kalau dalam hari yang panas ini aku bisa menikmati anggur. Tiba-tiba engkau datang membawakan beberapa ikat anggur. Bukankah ini juga bagian dari rezeki yang datang tanpa sebab? Cukup dengan tawakkal yang benar kepada Allah niscaya Allah akan berikan rezeki. Lakukan yang menjadi bagianmu, selanjutnya biarkan Allah yang mengurus lainnya".
Imam Syafi'i pun tertawa mendengar penjelasan Imam Malik tersebut. Sang Guru dan murid itu kemudian tertawa bersama. Begitulah, dua Imam mazhab menyikapi tawakkal dari dua sudut pandang berbeda. Keduanya tidak saling menyalahkan. Mereka tetap memuliakan ilmu dan hikmah yang mereka dapat dari Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam.
Wallahu A'lam
Baca Juga: Hakikat Tawakkal dan Doa yang Diajarkan Rasulullah
"Andai kalian bertawakkal kepada Allah sebenar-benar tawakkal niscaya Allah akan berikan rezeki kepada kalian, sebagaimana Dia memberikan rezeki kepada burung yang pergi dalam keadaan lapar lalu pulang dalam keadaan kenyang".
Ternyata Imam Syafi'i memiliki pandangan lain. Beliau mengemukakan pendapat kepada sang guru. "Ya Syekh, seandainya seekor burung tidak keluar dari sangkarnya, bagaimana mungkin ia akan mendapatkan rezeki?"
Suatu hari, Imam Syafi'i berjalan-jalan, beliau melihat orang-orang memanen buah anggur. Beliau pun ikut membantu mereka. Setelah selesai bekerja, Imam Syafi'i diberi imbalan beberapa ikat anggur.
Imam Syafi'i senangnya bukan main. Beliau senang bukan karena mendapatkan anggur, tetapi karena memiliki alasan untuk menyampaikan kepada Imam Malik bahwa pandangannya soal rezeki itu benar.
Bergegas Imam Syafi'i menjumpai Gurunya Imam Malik yang sedang duduk santai. Sambil menaruh anggur yang didapatnya, Imam Syafi'i menceritakan pengalamannya: "Seandainya saya tidak keluar membantu memanen, tentu saja anggur itu tidak akan pernah sampai di tangan saya".
Mendengar itu, Imam Malik tersenyum, seraya mengambil anggur dan mencicipinya. Kemudian Imam Malik berucap: "Sehari ini aku memang tidak keluar pondok, hanya mengambil tugas sebagai guru, dan sedikit berpikir alangkah nikmatnya kalau dalam hari yang panas ini aku bisa menikmati anggur. Tiba-tiba engkau datang membawakan beberapa ikat anggur. Bukankah ini juga bagian dari rezeki yang datang tanpa sebab? Cukup dengan tawakkal yang benar kepada Allah niscaya Allah akan berikan rezeki. Lakukan yang menjadi bagianmu, selanjutnya biarkan Allah yang mengurus lainnya".
Imam Syafi'i pun tertawa mendengar penjelasan Imam Malik tersebut. Sang Guru dan murid itu kemudian tertawa bersama. Begitulah, dua Imam mazhab menyikapi tawakkal dari dua sudut pandang berbeda. Keduanya tidak saling menyalahkan. Mereka tetap memuliakan ilmu dan hikmah yang mereka dapat dari Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam.
Wallahu A'lam
Baca Juga: Hakikat Tawakkal dan Doa yang Diajarkan Rasulullah
(rhs)
Lihat Juga :