Agar Kemaafan Kita Lebih Bermakna

Kamis, 28 Mei 2020 - 09:00 WIB
Kemaafan Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam adalah contoh kemaafan terhadap masyarakat luas, kemaafan kemanusiaan universal. Foto ilustrasi/Ist
Budiman Mahmud M

Pemerhati Sosial Budaya

Jika di pengujung Ramadhan seorang hamba mengharapkan kemaafan dari Sang MahaPemberi Maaf,maka di permulaan Syawal ini kita mengharapkan kemaafan dari sesama manusia. Kemaafan dari sang pencipta bersifat hubungan vertikal hamba dengan Tuhannya.

Kemaafan horizontal tak kalah pentingnya karena kemaafan sosial ini memiliki makna yang penting untuk menghadirkan ketenangan dalam interaksi sosial sesama manusia. Idul fitri adalah momen sakral dalam kehidupan sosial, saling memaafkan lintas golongan dan kelas sosial. Inilah momentum sosial yang menjadi tradisi kebaikan para pendahulu kita.(Baca Juga: Idul Fitri 1441 Hijriyah dan Lahirnya Kaum Sufi Baru)

Idul fitri secara bahasa kembali kepada kesucian, namun di negeri ini, istilah lokal yang menggambarkan momen kebahagiaan dan kemaafan ini disebut dengan lebaran. Tradisi Lebaran ini menjadi tradisi terbesar bangsa kita. Konon menurut tradisi turun-temurun, kata lebaran berasal dari kata dasar lebar, bermakna luas dan lapang. Maksudnya di hari raya ini seluruh umat manusia diharapkan memiliki hati yang luas dan lapang untuk saling memaafkan.

Entah kapan dan siapa yang memulai istilah ini, yang pasti kalimat ini telah menjadi lokal wisdom bangsa kita yang bersifat sangat universal. Idul Fitri dan Lebaran merupakan peristiwa yang penting bagi masyarakat. Jika Idul Fitri secara khusus hanya dapat diraih oleh orang yang melakukan serangkaian amal ibadah tertentu di bulan Ramadhan, maka momen lebaran siapapun bisa merayakannya, siapapun bisa ikut merasakan bahagia, ikut saling bermaafan dan ikut merasakan kehadiran Islam sebagai rahmat bagi semesta Alam.

Kini, tradisi permohonan maaf di Hari lebaran kini telah mengalami perubahan. Permohonan maaf ritual tahunan yang biasanya bersifat langsung dengan seremoni sungkeman kini bergeser melalui perantara media telekomunikasi dan berbagai media sosial. Permohonan maaf yang secara tradisi bersifat offline kini sebagian telah bergeser online.

Ada tradisi copy paste ucapan lebaran , forward ucapan bahkan uniknya lagi kini telah ada template ucapan lebaran baik dalam bentuk kata-kata, gambar hingga video. Ditambah lagi seringkali ucapan-ucapan itu juga muncul di grup-grup sosial media, sehingga mengurangi makna spesial yang menyentuh pengalaman dan kenangan persona. Rasa-rasanya, jika yang terjadiseperti ini maka maaf terasa hambar dan kurang makna baik bagi pengirim maupun penerimanya.(Baca Juga: Penguatan Optimisme dari Ramadhan dan Idul Fitri)

Tentunya sebagian insan masih tetap melakukan tradisi komunikasi real time, baik silaturahmi langsung, silaturahmi melalui panggilan telephone dan panggilan video melalui berbagai aplikasi seperti whatsapp video, Google Meet, Zoom dan lain sebagainya. Apapun caranya, momen lebaran adalah momen kemaafan, momen memulai kehidupan sosial yang baru, momen kebermaknaan hidup dan ketulusan hati saling memaafkan.

Belajar dari Para Nabi
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!