Agar Kemaafan Kita Lebih Bermakna
Kamis, 28 Mei 2020 - 09:00 WIB
Di era yang terus berubah, kita harus tetap belajar tentang sikap kemaafan dari para Nabi dan Rasul agar jutaan maaf yang terucap dan tertulis di hari lebaran terasa lebih bermakna. Sebagai contoh, kemaafan dalam konteks keluarga, kemaafan ayah dan anak, dapat diambil hikmahnya dari Nabi Ya'kub 'alaihissalam.
Kemaafan Nabi Ya'kub kepada anak-anaknya pada akhirnya lahir dari keikhlasan dan cinta tulusnya pada Sang Khalikdiatas cintanya pada nabi Yusuf danBunyamin adiknya. Saat bersamaan, kemaafan ini juga muncul tidak lama setelah anak-anak yang zalim sadar akan kesalahan dan bertaubat dengan sungguh-sungguh kepada Allah.Pada kisah ini ada korelasi kuat antara orang yang memaafkan dan orang yang minta maaf serta hubungan mereka dengan Sang Pencipta.
Kemaafan Nabi Yusuf 'alaihissalam merupakan contoh kemaafan terhadap saudara, kolega dan keluarga besarnya. Kemaafan hadir dari kebersihan dan kebesaran hatinya yang selalu di jaga Allah. Dalam bahasa indah kemaafan Yusuf yang diberikan kepada saudara-saudaranya diabadikan dalam QS Yusuf ayat 92: "Pada hari in tidak ada cercaan terhadap kamu, mudah-mudahan Allah mengampuni kamu. Dan Dia Maha Penyayang diantara para penyayang".
Kemaafan Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam adalah contoh kemaafan terhadap masyarakat luas, kemaafan kemanusiaan universal. Bahkan terhadap orang-orang yang paling keras pemusuhan terhadap beliau dan terhadap umatnya. Cukup kiranya kemaafan pada penaklukan Kota Makkah menunjukkan betapa besarnya makna kemaafan yang diajarkan Rasulullah kepada kita.
Kemaafan besar-besaran inilah yang menjadikan orang berbondong-bondong masuk Islam dan menjadikan sebagai kemenangan yang nyata, tonggak tersebarnya risalah ke penjuru dunia. Semoga di hari lebaran ini, kemaafan kita bukan kemaafan tanpa makna, bukan kemaafan seremonial semata. Semoga kemaafan kita hadir dari hati yang bersih, niat yang tulus,kebesaran jiwa dan keikhlasan untuk membangun kehidupan sosial yang lebih baik dan lebih bermanfaat. (Baca Juga: Selamat Idul Fitri, Indahnya Toleransi dan Saling Memaafkan)
Kemaafan Nabi Ya'kub kepada anak-anaknya pada akhirnya lahir dari keikhlasan dan cinta tulusnya pada Sang Khalikdiatas cintanya pada nabi Yusuf danBunyamin adiknya. Saat bersamaan, kemaafan ini juga muncul tidak lama setelah anak-anak yang zalim sadar akan kesalahan dan bertaubat dengan sungguh-sungguh kepada Allah.Pada kisah ini ada korelasi kuat antara orang yang memaafkan dan orang yang minta maaf serta hubungan mereka dengan Sang Pencipta.
Kemaafan Nabi Yusuf 'alaihissalam merupakan contoh kemaafan terhadap saudara, kolega dan keluarga besarnya. Kemaafan hadir dari kebersihan dan kebesaran hatinya yang selalu di jaga Allah. Dalam bahasa indah kemaafan Yusuf yang diberikan kepada saudara-saudaranya diabadikan dalam QS Yusuf ayat 92: "Pada hari in tidak ada cercaan terhadap kamu, mudah-mudahan Allah mengampuni kamu. Dan Dia Maha Penyayang diantara para penyayang".
Kemaafan Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam adalah contoh kemaafan terhadap masyarakat luas, kemaafan kemanusiaan universal. Bahkan terhadap orang-orang yang paling keras pemusuhan terhadap beliau dan terhadap umatnya. Cukup kiranya kemaafan pada penaklukan Kota Makkah menunjukkan betapa besarnya makna kemaafan yang diajarkan Rasulullah kepada kita.
Kemaafan besar-besaran inilah yang menjadikan orang berbondong-bondong masuk Islam dan menjadikan sebagai kemenangan yang nyata, tonggak tersebarnya risalah ke penjuru dunia. Semoga di hari lebaran ini, kemaafan kita bukan kemaafan tanpa makna, bukan kemaafan seremonial semata. Semoga kemaafan kita hadir dari hati yang bersih, niat yang tulus,kebesaran jiwa dan keikhlasan untuk membangun kehidupan sosial yang lebih baik dan lebih bermanfaat. (Baca Juga: Selamat Idul Fitri, Indahnya Toleransi dan Saling Memaafkan)
(rhs)
Lihat Juga :