5 Cara Berdakwah Nabi Muhammad yang Patut Ditiru

Kamis, 05 Agustus 2021 - 05:00 WIB
Muslim bin al-Hajjaj dalam Sahih-nya pernah meriwayatkan cerita rumah tangga Nabi, yang pulang ke rumah Sayyidah 'Aisyah, lalu bertanya tentang ketersediaan makanan di rumahnya. Ternyata, tidak ada makanan yang bisa dimakan. Nabi marah? Tidak! Justru Nabi membalas: "Ya sudah kalau begitu saya puasa saja."

Mungkin beda ceritanya kalau itu terjadi di rumah kita. Bukan tidak mungkin kita akan marah, bahkan marah dengan plus-plusnya. Begitulah sosok Nabi, di tempat yang 'wajar' marah, tapi beliau justru memilih ibadah.

3. Mengedepankan Baik Sangka

Diriwayatkan oleh semua ulama sunan (Imam Abu Daud, al-Tirmidzi, al-Nasa'i juga Ibnu Majah) termasuk Al-Bukhari dan Muslim bin al-Hajjaj, Nabi Muhammad menetapkan hukum bagi mereka yang meninggalkan sholat. Beliau katakan: "Siapa yang tidur atau lupa sehingga meninggalkan sholat, maka baginya mengganti sholat itu ketika ia sadar/bangun".

Maksudnya wajib qadha sholat bagi yang meninggalkan shalat karena tidur atau lupa. Walaupun ada ulama yang mengamalkan secara tekstual, bahwa yang wajib qadha itu hanya orang lupa dan tidur. Tapi mazhab 4 Sunni muktamad sepakat bahwa qadha itu wajib bagi mereka yang meninggalkan sholat, apapun alasannya. Lupa dan tidur yang masuk kategori tidak berdosa saja wajib qadha, apalagi yang meninggalkannya sengaja, tentu jauh lebih wajib lagi.

Dengan bahasa yang lebih sederhana: "Muslim itu (idealnya) tidak mungkin meninggalkan sholat. Kalaupun meninggalkan shalat, itu mesti karena ketidaksengajaan atau karena memang di luar kontrolnya; mungkin dia lupa atau mungkin juga dia ketiduran". Itulah Nabi, menyampaikan sesuatu sambil mengajarkan baik sangka dan adab.

4. Tidak Membalas Laknat dengan Laknat

Dan nyatanya, non-muslim pun diperlakukan sama oleh Nabi Muhammad. Sama-sama tidak ada sindiran serta tak juga menyakiti perasaan. Lihat saja riwayat Al-Bukhari dalam bab al-Isti'dzan. Ketika ada seorang Yahudi datang ke rumah Nabi sambil [السام عليك يا دمحم] redaksi dengan salam "kecelakaan bagimu, Muhammad".

Mendengar sang suami dicela, Sayyidah 'Aisyah marah. Dengan nada tinggi beliau membalas: "واللعنة السام وعليك" (bagimu juga kecelakaan dan laknat Tuhan).

Mendengar Sayyidah ‘Aisyah yang marah, Rasulullah kemudian berkata kepadanya: "Tenang wahai ‘Aisyah, sesungguhnya Allah cinta kelemahlembutan dalam segala perkara".
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!