Sebelum Kenabian, Sepupu Umar bin Khattab Sudah Berakidah Tauhid

Senin, 01 Juni 2020 - 11:36 WIB
Setelah semuanya berkumpul, keempat orang tersebut menyendiri dan berkata, “Salinglah percaya dan hendaknya satu sama lain saling menyembunyikan rahasia.”

Salah seorang di antara mereka berkata, “Sungguh kalian benar-benar telah mengetahui, demi Allah tidaklah kaum kalian itu mendapatkan sesuatu apapun. Mereka telah menyalahi agama Ibrahim dan menyeleweng darinya. Tidak mungkin berhala itu disembah, padahal ia tidak bisa memberikan bahaya ataupun manfaat. Maka carilah agama yang paling benar menurut kalian!”

Baca juga: Ka'bah: Kisah Nazar Abdul Muthalib Menyembelih Anaknya

Maka segeralah mereka keluar dari Makkah, berpencar di penjuru bumi, mendalami agama Yahudi dan Nasrani serta seluruh agama lainnya untuk mencari agama Ibrahim yang lurus.

Adapun Waraqah bin Naufal, ia masuk agama Nasrani dan mendalaminya, meneliti kitab-kitab mereka, sehingga ia mendapatkan pengetahuan yang luas dari Ahlul Kitab.

Dan tidaklah dari keempat orang tersebut yang paling baik keadaannya selain Zaid bin Amr. Ia meninggalkan penyembahan berhala dan seluruh agama baik itu Yahudi, Nasrani maupun agama-agama lainnya dan hanya beragama sesuai agama Ibrahim.

Ia mengesakan Allah dan mencampakkan selain-Nya. Dan ia tidak memakan hewan-hewan sembelihan kaumnya. Ia menampakkan secara terang-terangan kepada kaumnya atas keengganannya untuk mengikuti apa yang mereka lakukan.

Karena keyakinannya itu, Khattab memusuhi Zaid.Didorong pula oleh masyarakat Quraisy yang akhirnya mengeluarkannya dari Makkah dan tidak diperbolehkan memasuki Makkah lagi.

Baca juga: Respon Para Raja Terhadap Ajakan Rasulullah Memeluk Islam

Lantaran sering mendapat siksaan dari Khattab, Zaid keluar dari Makkah. Khattab menugaskan beberapa pemuda Quraisy untuk menjaganya dan tidak membiarkannya kembali ke Makkah. Zaid bin Amr tidak pernah masuk ke Makkah kecuali dengan cara sembunyi-sembunyi.

Dari Ibn Ishaq, Zaid bin Amr telah berketetapan untuk keluar dari Mekkah, mengembara untuk mencari Agama Ibrahim. Istrinya, Shafiyyah, setiap kali melihat Zaid bangkit dan ingin keluar, ia akan menyeru kepada Khattab untuk memberitahunya. Maka keluarlah Zaid menuju Syam, mencari agama Ibrahim.

Begitulah seterusnya hingga ia mendatangi Mosul dan Jazirah Arab seluruhnya. Kemudian ia kembali ke Syam dan menetap di sana. Hingga datanglah seorang Rahib dari Negeri Balqa. Seluruh ilmu yang berkenaan dengan Nasrani terkumpul padanya.

Sang Rahib berkata pada Zaid, “Sesungguhnya engkau bertanya tentang agama yang engkau tidak akan mendapati seorangpun dapat membawamu kepadanya pada saat ini. Telah meninggal orang yang mengetahuinya, akan tetapi engkau dinaungi zaman munculnya seorang nabi, dan inilah zamannya.”

Diriwayatkan dari ‘Amir bin Rabi’ah, berkata, “Aku mendengar Zaid bin Amr berkata, ‘Aku menunggu seorang nabi dari keturunan Ismail, tepatnya dari Bani Muthalib. Dan aku merasa aku tidak akan dapat bertemu dengannya. Aku beriman dan mempercayainya dan aku bersaksi bahwa ia adalah seorang nabi. Bila umurmu panjang dan engkau dapat berjumpa dengannya, maka sampaikan salamku kepadanya, dan aku akan memberitahumu tentang sifat-sifatnya, sehingga tidak meragukan bagimu.’ Aku pun menyilakannya.

Baca juga: Ka'bah: Kisah Paganisme Pasca-Nabi Ismail dan Pra-Islam

Zaid menjelaskan bahwa, ‘ia orang yang tidak tinggi tidak pula pendek, rambutnya tidak lebat tidak pula tipis, warna merah tidak pernah terpisah dari matanya, tanda kenabian terletak antara kedua pundaknya, namanya adalah Ahmad, negeri ini (Makkah) adalah tempat kelahirannya dan tempat ia diutus menjadi nabi, kemudian kaumnya mengusirnya dan menentang agama yang ia bawa, hingga ia berhijrah menuju Yatsrib (sekarang Madinah) dan berkembanglah agamanya.

Maka berhati-hatilah engkau, jangan sampai engkau terpedaya hingga tak mengikuti ajarannya. Sesungguhnya aku telah mengelilingi seluruh negeri untuk mencari agama Ibrahim, dan setiap orang yang aku tanyai dari kaum Yahudi, Nasrani dan Majusi berkata bahwa agama itu ada di belakangku. Dan mereka mengemukakan sifat-sifatnya sebagaimana yang aku jelaskan kepadamu. Dan mereka juga berkata tidak ada lagi nabi selainnya.’”

‘Amir bin Rabi’ah berkata, “Ketika aku masuk Islam, aku memberitahu Rasulullah tentang perkataan Zaid bin Amr dan menyampaikan salam darinya, maka Rasulullah menjawab salam tersebut dan mendoakan semoga Allah memberi rahmat dan ampunan kepadanya.”

Baca juga: Ketakutan Dengan Pasukan Muslim, Pihak Romawi Menarik Diri

Dari Aisyah meriwayatkan, Rasulullah bersabda, “Aku masuk surga dan melihat dua tenda besar milik Zaid bin Amr.”

Keadaan Zaid disebutkan dalam sebuah hadits yang juga menyebutkan tempat kembali Waraqah bin Naufal, Khadijah binti Khuwailid, dan Abu Thalib.

عن جابر بن عبد الله : أن رسول الله صلى الله عليه وسلم سئل عن ورقة بن نوفل ؟ فقال : ( قد رأيته فرأيت عليه ثياب بياض أبصرته في بطنان الجنة وعليه السندس ) وسئل عن زيد بن عمرو بن نفيل ؟ فقال : ( يبعث يوم القيامة أمة وحده ) وسئل عن أبي طالب ؟ فقال : ( أخرجته من غمرة من جهنم إلى ضحضاح منها ) وسئل عن خديجة لأنها ماتت قبل الفرائض وأحكام القرآن ؟ فقال : ( أبصرتها على نهر في الجنة في بيت من قصب لا صخب فيه ولا نصب

Dari Jabir bin ‘Abdillah bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ditanya tentang Waraqah bin Naufal. Maka beliau bersabda, “Sungguh aku telah melihatnya. Aku melihatnya mengenakan pakaian putih; dia berada di antara dua bagian dalam surga dan dia memakai kain sutra tipis.”

Beliau ditanya tentang Zaid bin ‘Amr bin Nufail. Maka beliau bersabda, “Dia dibangkitkan pada hari kiamat sebagai umat seorang diri.”

Beliau ditanya tentang Abu Thalib . Maka beliau bersabda, “Aku mengeluarkannya dari kesengsaraan Jahannam menuju bagian yang lebih ringan darinya.”

Beliau ditanya tentang Khadijah , sebab dia meninggal sebelum turun ayat tentang hukum-hukum dan kewajiban dalam Alquran dan dijadikan sumber keputusan. Maka beliau bersabda, “Aku melihatnya berada di sungai di surga, di sebuah rumah yang terbuat dari benang emas dan perak. Tak ada hiruk-pikuk di sana, tidak pula keletihan.” (Hadits hasan; lihat Shahih As-Sirah An-Nabawiyyah, 1:94)

Baca juga: Sebelum Dipancung, Dua Anak Muda Lukai Tubuh Abu Jahal

Sebuah syair menjadi curahan jiwa Zaid bin ‘Amr bin Nufail:

Apakah Rabb yang Esa ataukah seribu tuhan
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!