Kisah Rasulullah SAW

Sebelum Dipancung, Dua Anak Muda Lukai Tubuh Abu Jahal

loading...
Sebelum Dipancung, Dua Anak Muda Lukai Tubuh Abu Jahal
Abu Jahal musuh Nabi dunia akherat. Foto/Ilustrasi/Ist
TERIK mentari di Kampung Badar , Madinah , pada 17 Ramadan 2 H, bertepatan dengan 13 Maret 624, terasa lebih panas dari biasa. Pada hari itu pasukan kecil kaum Muslim yang berjumlah 313 orang berhadapan dengan pasukan Quraisy dari Makkah yang berjumlah 1.000 orang. (Baca juga: Perang Badar (1): Menguji Kesetiaan Kaum Anshar )

Perang belum lagi pecah, ketika seorang sahabat Nabi Shalallahu Alaihi Wassalam (SAW), Abdurrahman bin Auf, berhenti di tengah barisan pasukan Muslimin. Tiba-tiba seorang pemuda berusia 16 tahun mendekatinya. “Wahai paman, apakah paman mengenal Abu Jahal?” tanya pemuda penduduk asli Madinah itu, seperti dikutip dalam Ringkasan Shahih Muslim tulisan M Nashiruddin al-Albani.

“Ya, kenal. Tetapi, ada keperluan apa kamu dengannya?” ujar Abdurrahman bin Auf balik bertanya. (Baca juga : Perang Badar (2): Bukti Dahsyatnya Kekuatan Doa dan Keyakinan )

“Saya mendengar Abu Jahal selalu memaki-maki Rasulullah SAW selama di Makkah. Demi Allah yang menguasai diriku; kalau saya melihatnya (Abu Jahal), tidak akan berpisah sebelum salah satu dari kami mati terlebih dahulu!” tegas pemuda itu yang belakangan diketahui bernama Mu’adz bin Afra.

Abdurrahman bin Auf sangat terkesan dengan kata-kata pemuda itu. Belum lagi hilang rasa takjubnya, tidak lama berselang, datang pemuda lainnya yang juga dari Anshar. Pemuda ini ternyata adik Mu’adz, yakni Mu’awwidz bin Afra. “Wahai paman, apakah paman tahu Abu Jahal?” pertanyaan yang sama disampaikan kepada Abdurrahman bin Auf.

“Ya, dan apa keperluanmu dengannya?”

“Saya mendengar Abu Jahal selalu bersikap keras terhadap Rasulullah SAW di Makkah. Demi Allah, saya ingin membunuhnya,” jawab sang adik usia 15 tahun itu.

Di kejauhan Abdurrahman melihat sosok Abu Jahal. “Itu Abu Jahal!” seru Abdurrahman bin Auf sambil menunjuk orang yang dimaksud.

Kala itu, Abu Jahal sendiri sudah menyadari bahwa dirinya akan menjadi sasaran utama kaum muslimin. Itu sebabnya ia dijaga ketat pasukan kafir Quraisy. Tatkala dua pemuda itu melesat maju bagaikan anak panah yang lepas dari busurnya, Abu Jahal dilindungi 10 lapis pasukan bersenjatakan lengkap.

Pemuda 15 tahun, Mu’awwidz, menerjang pasukan musyrikin itu untuk dapat menebas Abu Jahal. Pedangnya sukses melukai paha Abu Jahal dengan sayatan yang dalam. Hanya saja, Mu’awwidz syahid sebelum berhasil membunuh Abu Jahal. Selanjutnya, Mu’adz bin Afra juga melukai kaki sebelah Abu Jahal, sebelum dirinya juga syahid. (Baca juga: Mengenal 313 Pejuang Terbaik Ahlul Badar, Siapa Saja Mereka? )

Tubuh Abu Jahal limbung dan akhirnya tersungkur ke tanah. Darah mengucur deras. Pada saat itu Ibnu Mas'ud mendekati dengan pedang terhunus. Ia berdiri di tengah tubuh Abu Jahal yang dipenuhi luka-luka.

Saat Ibnu Mas'ud hendak memenggal lehernya, Abu Jahal memberi isyarat dengan matanya seperti ingin mengucapkan sesuatu. Kemudian Ibnu Mas'ud menahan pedangnya dan mendekatkan telinganya ke mulut Abu Jahal. Ibu Mas'ud mengira Abu Jahal akan bersyahadat. Nyatanya tidak begitu.

"Sampaikan salamku kepada temanmu, bilang ke dia saya musuh dia dunia akhirat," begitulah kalimat yang keluar dari mulut Abu Jahal. Dia tetap menyombongkan diri padahal kondisi sudah kritis dan tak berdaya.

Mendengar ucapan Abu Jahal itu, Ibnu Nas'ud mengangkat pedangnya dan menebas batang leher Abu Jahal.

Nabi SAW bertanya, "Apa yang diucapkannya?" Ibnu Mas'ud menjawab: "Dia katakan dia musuh Nabi Muhammad SAW dunia dan akhirat."

Baca juga: Kisah Ibnu Mas'ud dan Abu Jahal yang Sombong

Terpandang
Sejatinya, Abu Jahal adalah orang terpandang di suku Quraish. Nama aslinya, Amr bin Hisyām. Pria kelahiran tahun 570 ini berjuluk Abu al-Hakam atau “bapak kebijaksanaan" karena ia adalah seorang pria yang terkenal akan kebijaksanaan dan kecerdasannya.

Para tetua Quraisy sering meminta bantuannya dalam menghadapi masalah. Bahkan pada usia 30 tahun, ia diundang untuk menghadiri majelis khusus yang diadakan di Dār'un Nadwa, kediaman milik Hakim bin Hazm. Padahal, usia minimal yang diperlukan jika ingin hadir pada pertemuan tersebut adalah 40 tahun.

Sayangnya, 'Amr bin Hisyam selalu memusuhi Nabi Muhammad dan menolak dakwah dan kenabiannya. Oleh karena itu kaum muslimen menjulukinya sebagai Abu Jahal atau "bapak kebodohan".

Kebencian Abu Jahal terhadap Rasulullah SAW begitu masyhur. Seperti diceritakan KH Moenawar Khalil dalam Kelengkapan Tarikh Nabi Muhammad (Vol 1), suatu kali Abu Jahal melihat Nabi SAW pergi ke masjid. Tiba-tiba, dia langsung menghardik dan melarang beliau SAW untuk mengerjakan salat.
halaman ke-1
preload video