Bolehkah Pindah Mazhab? Begini Jawaban Ustaz Ahmad Sarwat
Senin, 04 Oktober 2021 - 00:04 WIB
Sebaliknya, saudara kita orang Pakistan yang sejak kecil terididik dalam frame Mazhab Hanafi. Tidak mudah bagi mereka tiba-tiba jadi bermazhab Syafi'i. Buat apa? Toh tidak ada kepentingannya juga.
Ustaz, bukankah semua mazhab itu benar dan kita boleh pilih yang mana saja? Kenapa terkesan tidak boleh memilih mazhab? Pastilah semua mazhab itu benar. Makanya buat apa capek-capek pindah Mazhab?
Asal tahu aja, bermazhab itu bukan urusan pilihan. Sebab bermazhab itu tidak sama dengan pemilu, tinggal coblos salah satu. Bermazhab itu lebih mirip dengan berbahasa. Siapa saja yang tinggal di suatu negara, maka dia cenderung pandai menguasai bahasa negeri itu.
Maka tidak mudah kita ujug-ujug pindah ke bahasa lain, kecuali kita kursus bahas asing dulu. Jadi berbahasa itu bukan masalah pilihan, berbahasa itu faktor taqdir.
Kita ditaqdirkan lahir di Indonesia, ya sudah lah kita jadi berbahasa Indonesia. Teman kita ditaqdirkan lahir di Saudi, ya sudah lah dia jadi berbahasa Arab.
Sebelas dua belas dengan beragama. Kita lahir di keluarga muslim, maka kita pun dididik secara agama Islam. Pindah ke agama lain tentu bukan hal sepele.
Jika kita lahir di keluarga Kristen, Hindu, Budha atau Konghuchu, wajar kalau dididik dengan keyakinan agama orang tua dan lingkungan. Pindah ke agama lain termasuk ke Islam jelas bukan perkara sederhana. Lagian pasti akan ditanya: "ngapain ujug-ujug pindah agama?"
Ustaz, jadi maksud ustadz kita ditakdirkan terpenjara dalam Mazhab Syafi'i dan tidak boleh pindah Mazhab? Bukan terpenjara, tapi justru dapat karunia. Sebab, tahukah anda bahwa Mazhab Syafi'i itu justru mazhab yang paling keren?
Pertama, Mazhab Syafi'i boleh dibilang menggabungkan dua kekuatan Mazhab Hanafi dan Maliki. Semacam edisi penyempurnaan dari produk sebelumnya.
Kedua, Mazhab Syafi'i paling banyak mengalami penyebaran di banyak negeri. Sehingga dimanapun kita berapa, nyaris ketemu dengan Mazhab Syafi'i.
Ustaz, bukankah semua mazhab itu benar dan kita boleh pilih yang mana saja? Kenapa terkesan tidak boleh memilih mazhab? Pastilah semua mazhab itu benar. Makanya buat apa capek-capek pindah Mazhab?
Asal tahu aja, bermazhab itu bukan urusan pilihan. Sebab bermazhab itu tidak sama dengan pemilu, tinggal coblos salah satu. Bermazhab itu lebih mirip dengan berbahasa. Siapa saja yang tinggal di suatu negara, maka dia cenderung pandai menguasai bahasa negeri itu.
Maka tidak mudah kita ujug-ujug pindah ke bahasa lain, kecuali kita kursus bahas asing dulu. Jadi berbahasa itu bukan masalah pilihan, berbahasa itu faktor taqdir.
Kita ditaqdirkan lahir di Indonesia, ya sudah lah kita jadi berbahasa Indonesia. Teman kita ditaqdirkan lahir di Saudi, ya sudah lah dia jadi berbahasa Arab.
Sebelas dua belas dengan beragama. Kita lahir di keluarga muslim, maka kita pun dididik secara agama Islam. Pindah ke agama lain tentu bukan hal sepele.
Jika kita lahir di keluarga Kristen, Hindu, Budha atau Konghuchu, wajar kalau dididik dengan keyakinan agama orang tua dan lingkungan. Pindah ke agama lain termasuk ke Islam jelas bukan perkara sederhana. Lagian pasti akan ditanya: "ngapain ujug-ujug pindah agama?"
Ustaz, jadi maksud ustadz kita ditakdirkan terpenjara dalam Mazhab Syafi'i dan tidak boleh pindah Mazhab? Bukan terpenjara, tapi justru dapat karunia. Sebab, tahukah anda bahwa Mazhab Syafi'i itu justru mazhab yang paling keren?
Pertama, Mazhab Syafi'i boleh dibilang menggabungkan dua kekuatan Mazhab Hanafi dan Maliki. Semacam edisi penyempurnaan dari produk sebelumnya.
Kedua, Mazhab Syafi'i paling banyak mengalami penyebaran di banyak negeri. Sehingga dimanapun kita berapa, nyaris ketemu dengan Mazhab Syafi'i.
Lihat Juga :