Guru Abu Hanifah Lintas Ulama, Tak Terbatas kepada Paham Tertentu
Kamis, 28 Oktober 2021 - 23:32 WIB
Di luar persoalan hukum Islam, Abu Hanifah memiliki simpati yang besar terhadap gerakan politik Alawi, yakni sebuah gerakan politik yang memiliki pemikiran bahwa yang paling berhak untuk memimpin umat Islam adalah para keturunan Ali bin Abi Thalib. Seluruh sekte di dalam Syiah (Kaysaniyah, Zaidiyah, Imamiyah, dan Ismailiyah) bisa masuk ke dalam kategori ini.
Baca juga: Ketika Abu Hanifah Berdebat dengan Seorang Khawarij dan Kelompok Sesat
Abu Hanifah dilaporkan sangat menghormati para Imam Syiah Imamiyah, yakni Muhammad al-Baqir dan Jafar as-Sadiq. Namun, seperti yang diamati oleh Abu Zahra, meskipun Abu Hanifah berpihak kepada gerakan politik Alawi di tengah suasana di Kufah yang sangat Syiah, dia tidak merasa dirinya terikat untuk harus mengikuti pendapat hukum para Imam Syiah. Abu Hanifah memandang bahwa pendapat hukum dari para Imam Syiah hanya sebagai suatu produk ijtihad.
Meski demikian, lebih dari segalanya, sikap Abu Hanifah terhadap keluarga Nabi Muhammad, para sahabat, dan pandangan atas legitimasi politik, dia paling dekat terhadap orang-orang Zaidiyah. Dan karena hal inilah kelak dia akan terseret bersama-sama dengan pemberontakan yang diusung oleh Zaid bin Ali terhadap Dinasti Umayyah.
Politik Tangan Besi
Pada masa Abu Hanifah hidup, luka-luka yang dialami oleh Muslim belum cukup pulih setelah terjadinya peristiwa Karbala, yakni dibunuhnya Husein bin Ali, cucu dari Nabi Muhammad SAW, oleh orang-orang dari Bani Umayyah. Politik tangan besi kemudian diadopsi oleh gubernur-gubernur Umayyah, yakni Hajjaj dan Ibnu Ziyad, di Hijaz dan Irak untuk membungkam para kabilah Arab.
Kemudian, karena Bani Umayyah mengakuisisi kekayaan negara dan menggunakannya untuk kepentingan golongan mereka sendiri, masyarakat menjadi memandang negatif kepada mereka. Simpati kepada Bani Umayyah secara perlahan mulai menguap. Terlebih, politik tiran Hajjaj dan Ibnu Ziyad juga terus dilakukan terhadap Bani Hasyim.
Di tengah situasi seperti ini, beberapa keluarga Bani Hasyim mulai menyusun rencana untuk mengambil alih pemerintahan dari Bani Umayyah, yakni Alawi dan Abbasi.
Dua keluarga ini menyusun rencana dalam skala besar untuk melakukan revolusi penggulingan Bani Umayyah. Dari Alawi, Zaid bin Ali, yang merupakan guru dari Abu Hanifah, tampil terdepan untuk memimpin revolusi.
Zaid memperoleh dukungan yang sangat besar di Kufah, sebanyak 15.000 orang berbaiat kepadanya. Pada masa-masa inilah kemudian Abu Hanifah menyatakan dukungannya terhadap Zaid, dia memberikan dukungan moral dan finansial untuk gerakan ini. Tidak berhenti di sana, Abu Hanifah yang sudah menjadi tokoh besar bahkan mengeluarkan fatwa untuk mendukung perjuangan Zaid.
Ketika gerakan Zaid sudah semakin mantap dan konstelasi sudah meruncing ke arah perjuangan bersenjata, sebagian pendukungnya malah berkhianat kepadanya.
Baca juga: Ketika Abu Hanifah Berdebat dengan Seorang Khawarij dan Kelompok Sesat
Abu Hanifah dilaporkan sangat menghormati para Imam Syiah Imamiyah, yakni Muhammad al-Baqir dan Jafar as-Sadiq. Namun, seperti yang diamati oleh Abu Zahra, meskipun Abu Hanifah berpihak kepada gerakan politik Alawi di tengah suasana di Kufah yang sangat Syiah, dia tidak merasa dirinya terikat untuk harus mengikuti pendapat hukum para Imam Syiah. Abu Hanifah memandang bahwa pendapat hukum dari para Imam Syiah hanya sebagai suatu produk ijtihad.
Meski demikian, lebih dari segalanya, sikap Abu Hanifah terhadap keluarga Nabi Muhammad, para sahabat, dan pandangan atas legitimasi politik, dia paling dekat terhadap orang-orang Zaidiyah. Dan karena hal inilah kelak dia akan terseret bersama-sama dengan pemberontakan yang diusung oleh Zaid bin Ali terhadap Dinasti Umayyah.
Politik Tangan Besi
Pada masa Abu Hanifah hidup, luka-luka yang dialami oleh Muslim belum cukup pulih setelah terjadinya peristiwa Karbala, yakni dibunuhnya Husein bin Ali, cucu dari Nabi Muhammad SAW, oleh orang-orang dari Bani Umayyah. Politik tangan besi kemudian diadopsi oleh gubernur-gubernur Umayyah, yakni Hajjaj dan Ibnu Ziyad, di Hijaz dan Irak untuk membungkam para kabilah Arab.
Kemudian, karena Bani Umayyah mengakuisisi kekayaan negara dan menggunakannya untuk kepentingan golongan mereka sendiri, masyarakat menjadi memandang negatif kepada mereka. Simpati kepada Bani Umayyah secara perlahan mulai menguap. Terlebih, politik tiran Hajjaj dan Ibnu Ziyad juga terus dilakukan terhadap Bani Hasyim.
Di tengah situasi seperti ini, beberapa keluarga Bani Hasyim mulai menyusun rencana untuk mengambil alih pemerintahan dari Bani Umayyah, yakni Alawi dan Abbasi.
Dua keluarga ini menyusun rencana dalam skala besar untuk melakukan revolusi penggulingan Bani Umayyah. Dari Alawi, Zaid bin Ali, yang merupakan guru dari Abu Hanifah, tampil terdepan untuk memimpin revolusi.
Zaid memperoleh dukungan yang sangat besar di Kufah, sebanyak 15.000 orang berbaiat kepadanya. Pada masa-masa inilah kemudian Abu Hanifah menyatakan dukungannya terhadap Zaid, dia memberikan dukungan moral dan finansial untuk gerakan ini. Tidak berhenti di sana, Abu Hanifah yang sudah menjadi tokoh besar bahkan mengeluarkan fatwa untuk mendukung perjuangan Zaid.
Ketika gerakan Zaid sudah semakin mantap dan konstelasi sudah meruncing ke arah perjuangan bersenjata, sebagian pendukungnya malah berkhianat kepadanya.
Lihat Juga :