Kisah Buran, Putri Bizantium yang Jadi Maha Ratu Persia

Selasa, 09 November 2021 - 05:15 WIB
Lalu siapa sejatinya Buran, sang Ratu Persia itu? Dia adalah

putri Persia pertama yang menjadi Ratunya para ratu yang dalam bahasa Persia banbishnan banbishn, sebagai padanan dari Shahshanah (rajanya para raja).

Al-Tabari dalam bukunya berjudul Tarikh al-Rusul wa al-Muluk menyebutkan Buran adalah putri Abarwiz (Kisra II) – putra Hurmuz IV – putra Anushirwan (Kisra I). Jadi jika dalam tradisi Arab penyebutan namanya menjadi Buran binti Kisra II bin Hurmuz IV bin Kisra I.

Agha Ibrahim Akram merinci Buran adalah saudara perempuan Shiruyah, raja sebelumnya yang telah membunuh ayahnya sendiri (Kisra II) dan hampir semua sanak keluarganya yang laki-laki.

Sedangkan menurut sejarawan Persia Hamzah al-Isfahani dalam Tarikh Sini Muluk al-Ard wal-Anbiya, Buran adalah putri Kisra II dari istrinya yang bernama Maryam, dia adalah putri Bizantium, putri dari Kaisar Heraklius.

Dengan statusnya sebagai keturunan raja dari dua dinasti besar pada masa itu, Sasaniyah dan Bizantium, dia menjadi ratu yang dapat diterima oleh kedua belah pihak.

Dalam catatan sumber sejarah lainnya, Ignazio Guidi menyebut Buran, selain sebagai saudara perempuan, juga berperan sebagai seorang istri bagi Shiruyah.

Hal ini memungkinkan, sebab umum diketahui pada masa itu, bahwa Dinasti Sasaniyah kerap kali melaksanakan perkawinan sedarah (incestuous) di kalangan keluarga mereka sendiri. Namun, bukan berarti setiap perkawinan di antara keluarga kerajaan sedarah, hal ini bisa berubah tergantung kondisi, perkawinan karena aliansi politik pun tercatat di dalam sejarah mereka.

Baca juga: Lagi, 100.000 Pasukan Persia Tewas di Jalula, Sisanya Terdesak Lari ke Iran

Sisi Religius Buran

Al-Tabari menuturkan, bahwa ketika Buran didaulat untuk menjadi Ratu Persia, dia berkata, “Aku akan mengejar kebenaran dan menahbiskan keadilan,” dannya mempercayakan urusan pemerintahannya kepada Fus Farrukh dan memberinya jabatan sebagai menteri utama.

Dia berperilaku baik terhadap rakyatnya dan memberlakukan keadilan di antara mereka. Dia memberi perintah agar koin perak atas namanya dicetak, dan dia memperbaiki jembatan batu (al-qanatir) dan jembatan perahu (al-jusur).

Dia juga memutihkan kewajiban pajak tanah bagi orang-orang yang menunggak, dan dia menulis kepada rakyat surat terbuka tentang kebijakan-kebijakannya yang berpihak kepada mereka. Dan dalam surat itu dia juga menyinggung tentang anggota keluarganya yang telah binasa (karena dibunuh oleh Shiruyah).
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!