Mengulik Siapa Sejatinya Syekh Siti Jenar yang Dibilang Jelmaan Cacing
Minggu, 23 Januari 2022 - 09:15 WIB
Ia menjelaskan bahwa Syeh Siti Jenar telah lama tidak kelihatan sholat berjamaah di masjid. Hal ini bukanlah perilaku yang normal. Syekh Maulana Maghribi berpendapat bahwa itu akan menjadi contoh yang kurang baik dan bisa membuat orang mengira wali teladan meninggalkan syariah nabi Muhammad.
Sunan Giri kemudian mengutus dua orang santrinya ke gua tempat Syekh Siti Jenar bertapa dan memintanya untuk datang ke masjid. Ketika mereka tiba, mereka diberitahu hanya Allah yang ada dalam gua.
Mereka kembali ke masjid untuk melaporkan hal ini kepada Sunan Giri dan para wali lainnya.
Baca juga: Sunan Kudus: Sang Eksekutor Syekh Siti Jenar dan Kebo Kenanga
Sunan Giri kemudian menyuruh mereka kembali ke gua dan menyuruh Allah untuk segera menghadap para wali. Kedua santri itu kemudian diberitahu, Allah tidak ada dalam gua, yang ada hanya Syeh Siti Jenar.
Mereka kembali kepada Sunan Giri untuk kedua kalinya. Sunan Giri menyuruh mereka untuk meminta datang baik Allah maupun Syeh Siti Jenar. Kali ini Syeh Siti Jenar keluar dari gua dan dibawa ke masjid menghadap para wali.
Ketika tiba Syeh Siti Jenar memberi hormat kepada para wali yang tua dan menjabat tangan wali yang muda. Ia diberitahu bahwa dirinya diundang ke sini untuk menghadiri musyawarah para wali tentang wacana kesufian.
Di dalam musyawarah ini Syekh Siti Jenar menjelaskan wacana kesatuan makhluk yaitu dalam pengertian akhir hanya Allah yang ada dan tidak ada perbedaan ontologis yang nyata yang bisa dibedakan antara Allah, manusia dan segala ciptaan lainnya.
Prof Hasanu Simon menyatakan pandangan orang Jawa yang beragama Islam terhadap tokoh ini cukup beragam, dari yang menerima sampai yang menolak.
Di satu sisi tokoh Syekh Siti Jenar dapat dianggap positif dalam meningkatkan jumlah pemeluk Islam. Ini karena orang Jawa yang tidak mau menerima agama Islam secara murni seperti yang diajarkan Rasulullah SAW kemudian ajaran itu telah bercampur dengan adat istiadat Arab, dan mereka mau menerima Islam seperti yang diajarkan Syekh Siti Jenar.
Di sisi lain, orang Jawa yang menerima dan meyakini Islam sebagai suatu sistem nilai yang utuh, maka mengamalkan Islam seperti Syekh Siti Jenar mengandung risiko tidak diakui sebagai umat Muhammad oleh Rasulullah SAW sendiri.
Baca juga: Sunan Giri, Sunan Kalijaga, Wayang Kulit, dan Peresmian Masjid Demak
Sunan Giri kemudian mengutus dua orang santrinya ke gua tempat Syekh Siti Jenar bertapa dan memintanya untuk datang ke masjid. Ketika mereka tiba, mereka diberitahu hanya Allah yang ada dalam gua.
Mereka kembali ke masjid untuk melaporkan hal ini kepada Sunan Giri dan para wali lainnya.
Baca juga: Sunan Kudus: Sang Eksekutor Syekh Siti Jenar dan Kebo Kenanga
Sunan Giri kemudian menyuruh mereka kembali ke gua dan menyuruh Allah untuk segera menghadap para wali. Kedua santri itu kemudian diberitahu, Allah tidak ada dalam gua, yang ada hanya Syeh Siti Jenar.
Mereka kembali kepada Sunan Giri untuk kedua kalinya. Sunan Giri menyuruh mereka untuk meminta datang baik Allah maupun Syeh Siti Jenar. Kali ini Syeh Siti Jenar keluar dari gua dan dibawa ke masjid menghadap para wali.
Ketika tiba Syeh Siti Jenar memberi hormat kepada para wali yang tua dan menjabat tangan wali yang muda. Ia diberitahu bahwa dirinya diundang ke sini untuk menghadiri musyawarah para wali tentang wacana kesufian.
Di dalam musyawarah ini Syekh Siti Jenar menjelaskan wacana kesatuan makhluk yaitu dalam pengertian akhir hanya Allah yang ada dan tidak ada perbedaan ontologis yang nyata yang bisa dibedakan antara Allah, manusia dan segala ciptaan lainnya.
Prof Hasanu Simon menyatakan pandangan orang Jawa yang beragama Islam terhadap tokoh ini cukup beragam, dari yang menerima sampai yang menolak.
Di satu sisi tokoh Syekh Siti Jenar dapat dianggap positif dalam meningkatkan jumlah pemeluk Islam. Ini karena orang Jawa yang tidak mau menerima agama Islam secara murni seperti yang diajarkan Rasulullah SAW kemudian ajaran itu telah bercampur dengan adat istiadat Arab, dan mereka mau menerima Islam seperti yang diajarkan Syekh Siti Jenar.
Di sisi lain, orang Jawa yang menerima dan meyakini Islam sebagai suatu sistem nilai yang utuh, maka mengamalkan Islam seperti Syekh Siti Jenar mengandung risiko tidak diakui sebagai umat Muhammad oleh Rasulullah SAW sendiri.
Baca juga: Sunan Giri, Sunan Kalijaga, Wayang Kulit, dan Peresmian Masjid Demak
(mhy)
Lihat Juga :