Mengulik Siapa Sejatinya Syekh Siti Jenar yang Dibilang Jelmaan Cacing

Minggu, 23 Januari 2022 - 09:15 WIB
Namun menurut Prof Hasanu Simon dalam bukunya berjudul "Misteri Syekh Siti Jenar: Peran Wali Songo dalam Mengislamkan Tanah (2004) , keraguan tersebut hilang karena adanya dokumen Kropak Ferrara di atas. Namun demikian riwayat hidup dan ajarannya masih gelap, sementara ada kelompok masyarakat Indonesia yang berlebihan membesar-besarkan tokoh ini, khususnya sejak era pasca-Demak Bintara.

Pada intinya, bahwa jati diri dan asal usul Syekh Siti Jenar sampai sekarang belum jelas, belum ada sumber yang dianggap sahih. Dalam beberapa publikasi, nama Syekh Siti Jenar kadangkadang disebut Syekh Siti Brit atau Syekh Lemah Abang. Dalam bahasa Jawa, jenar berarti kuning, sedang brit berasal dari abrit artinya merah, sama dengan abang yang juga berarti merah.

Menurut Rahimsyah, Syekh Siti Jenar juga bernama Syekh Abdul Jalil atau Syekh Jabaranta itu adalah Syekh Datuk Sholeh.

Sedangkan menurut Munir Mulkhan, Syekh Siti Jenar bernama asli Ali Hasan alias Syekh Abdul Jalil, berasal dari Cirebon. Ayahnya seorang raja pendeta bernama Resi Bungsu.

Dikatakan oleh Agus Sunyoto bahwa citra Syekh Siti Jenar selama kurun lebih empat abad memang tidak bisa lepas dari stigma kebid’ahan, kesesatan, kecacingan, dan keanjingan.

Agus Sunyoto adalah penulis tentang Syekh Siti Jenar diterbitkan oleh LKiS Yogyakarta ke dalam 7 buku, yang dapat dikelompokkan menjadi trilogi yang memuat tentang babak-babak perjalanan ruhani Syekh Siti Jenar.

"Kita tidak tahu apakah Syekh Siti Jenar yang dikenal penyebar bid’ah dan sesat itu sejatinya memang demikian, sesuai tuduhan yang dialamatkan kepadanya," kata Agus Sunyoto.

Baca juga: Syekh Siti Jenar Dibilang Jelmaan Cacing, Ini Faktanya

Menurutnya, pencitraan dan stigma itu tergantung sepenuhnya pada sumber-sumber historiografi yang mencacat tentangnya. Untuk itulah, dia menulis tentang Syekh Siti Jenar dengan menggunakan pendekatan verstehen dengan metode kualitatif kepada para guru Tarekat Akmaliyah, dan sumber-sumber historiografi naskah kuno yang lainnya asal Cirebon, seperti Negara Kertabumi, Pustaka RajyaRajya di Bhumi Nusantara, Purwaka Caruban nagari, dan Babad Cirebon.

Menurutnya, di dalamya tidak dijumpai tentang stereotip negatif mengenai Syekh Siti Jenar yang digambarkan berasal dari cacing, dan mayatnya menjadi anjing.

Dengan menggunakan perspektif baru pembacaan terhadap Syekh Siti Jenar dan yang terkait dengan konteks kehidupannya, zamannya, sosial-budaya/kultural, sosial-politik dan seterusnya, ia memberikan sebuah gambaran tentang Syekh Siti Jenar yang manusiawi dan pembaharu keagamaan, serta pro wong cilik yang berbeda dengan kebanyakan buku-buku dan anggapan yang memberikan stigma negatif terhadap Syekh Siti Jenar.

Sidang Para Wali

Syekh Siti Jenar dikenal di tengan masyarat sebagai penyebar ajaran "manunggaling kawula Gusti". Ini tercermin dari kisah ketika Sunan Giri memimpin musyawarah para wali. Dalam musyawarah itu ia mengajukan masalah Syeh Siti Jenar.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!