Selain Rendah Hati, Ini Rahasia Abah Guru Sekumpul Dicintai Banyak Orang
Minggu, 23 Januari 2022 - 21:11 WIB
Pada usia tua, ketika guru-gurunya banyak yang sudah wafat. Beliau memberi tunjangan kepada janda-janda guru. Prinsip yang sering beliau sampaikan di pengajian, bila PNS menerima pensiunan dari pemerintah, maka janda guru agama (ulama) semestinya menerima tunjangan dari murid-muridnya.
Keikhlasan beliau berbagi ditunjukkan dengan tidak tereksposnya cerita-cerita beliau kecuali setelah wafatnya. Semasa hidupnya, banyak murid yang tidak tahu bahwa beliau menghabiskan miliaran rupiah setiap bulan hanya untuk berbagi.
Bila murid saja tidak tahu, apalagi orang lain. Hanya yang ditugasi membagikan dan yang menerima saja yang tahu ceritanya. Ustaz Khairullah Zainuddin mengaku mendapat kabar ini dari seorang murid kepercayaan beliau yang ditugasi membagikan. Itupun setelah wafatnya.
Dalam berbagi, beliau tidak memandang perbedaan agama. Ini sebagaimana diceritakan salah seorang muridnya yang turut saat Beliau berobat di Surabaya. Ketika itu, menurut ceritanya, Abah Guru Sekumpul memerintahkan membeli beras dalam jumlah banyak dan minta dibagikan kepada seluruh karyawan rumah sakit.
Heran, kenapa dibagikan kepada seluruh karyawan, ia memperjelas, "Abah, tidak semua karyawan beragama Islam". Apa jawab Abah Guru Sekumpul: "Bagaimana perasaan (yang tidak menerima bagian) ketika melihat temannya (sesama karyawan) mendapat (bagian) beras?".
Bukan hanya materi saja. Abah Guru Sekumpul juga senang berbagi doa dan hadiah pahala. Ketika membaca doa arwah (doa hadiah pahala), beliau selalu mengkhususkan untuk "Ma Laa Zaaira Wa Laa Dzaakira Lahum" (Muslim yang makamnya tidak ada yang menziarahi, bahkan tidak ada yang mengingat mereka).
Beliau adalah sosok yang senantiasa menggembirakan orang, tidak membuat sakit hati. Melapangkan orang, tidak membebani. Mencintai orang, tidak membenci. Suka memuji, tidak mencaci. Suka memberi, tidak minta puji.
Tidak sedikit yang menerima kebaikan beliau semasa hidupnya. Merasakan manfaat hadirnya beliau di kehidupan. Karenanya, wajar beliau dicintai banyak orang. Karena tabiat manusia mencintai orang yang berbuat baik padanya. Demikian disebutkan Imam Al-Ghazali dalam Ihya.
Setelah wafatnya, beliau dirindukan dan dikenang banyak orang. Acara haulnya setiap tahun selalu menjadi ajang orang-orang berlomba dalam kebaikan.
Baca Juga: Rahasia Abah Guru Sekumpul Dikagumi dan Dicintai Banyak Orang
Keikhlasan beliau berbagi ditunjukkan dengan tidak tereksposnya cerita-cerita beliau kecuali setelah wafatnya. Semasa hidupnya, banyak murid yang tidak tahu bahwa beliau menghabiskan miliaran rupiah setiap bulan hanya untuk berbagi.
Bila murid saja tidak tahu, apalagi orang lain. Hanya yang ditugasi membagikan dan yang menerima saja yang tahu ceritanya. Ustaz Khairullah Zainuddin mengaku mendapat kabar ini dari seorang murid kepercayaan beliau yang ditugasi membagikan. Itupun setelah wafatnya.
Dalam berbagi, beliau tidak memandang perbedaan agama. Ini sebagaimana diceritakan salah seorang muridnya yang turut saat Beliau berobat di Surabaya. Ketika itu, menurut ceritanya, Abah Guru Sekumpul memerintahkan membeli beras dalam jumlah banyak dan minta dibagikan kepada seluruh karyawan rumah sakit.
Heran, kenapa dibagikan kepada seluruh karyawan, ia memperjelas, "Abah, tidak semua karyawan beragama Islam". Apa jawab Abah Guru Sekumpul: "Bagaimana perasaan (yang tidak menerima bagian) ketika melihat temannya (sesama karyawan) mendapat (bagian) beras?".
Bukan hanya materi saja. Abah Guru Sekumpul juga senang berbagi doa dan hadiah pahala. Ketika membaca doa arwah (doa hadiah pahala), beliau selalu mengkhususkan untuk "Ma Laa Zaaira Wa Laa Dzaakira Lahum" (Muslim yang makamnya tidak ada yang menziarahi, bahkan tidak ada yang mengingat mereka).
Beliau adalah sosok yang senantiasa menggembirakan orang, tidak membuat sakit hati. Melapangkan orang, tidak membebani. Mencintai orang, tidak membenci. Suka memuji, tidak mencaci. Suka memberi, tidak minta puji.
Tidak sedikit yang menerima kebaikan beliau semasa hidupnya. Merasakan manfaat hadirnya beliau di kehidupan. Karenanya, wajar beliau dicintai banyak orang. Karena tabiat manusia mencintai orang yang berbuat baik padanya. Demikian disebutkan Imam Al-Ghazali dalam Ihya.
Setelah wafatnya, beliau dirindukan dan dikenang banyak orang. Acara haulnya setiap tahun selalu menjadi ajang orang-orang berlomba dalam kebaikan.
Baca Juga: Rahasia Abah Guru Sekumpul Dikagumi dan Dicintai Banyak Orang
(rhs)
Lihat Juga :