Makna Simbolik Kata Ramadhan Menurut Syaikh Abdul Qadir Al-Jilani

Rabu, 13 April 2022 - 12:57 WIB
Syaikh Abdul Qadir: Ramadhan sebagai punggawa di antara bulan-bulan lainnya (sayyidusy syuhur). Foto/Ilustrasi: SINDOnews
Syaikh Abdul Qadir al-Jilani dalam kitab "al-Ghunyah li Thalibi Thariq al-Haqqa Azza wa Jalla" mengurai tafsir puasa dan makna Ramadhan . Beliau pun menjelaskan persoalan syariat dan perintah puasa yang juga berlaku pada umat-umat terdahulu, terutama Yahudi dan Kristen . Ini dipantik dari diskusi tafsiran kalimat “kama kutiba alalladzina min qablikum” dalam surat al-Baqarah [2] ayat 183.

Dalam mengurai makna Ramadhan, Syekh Abdul Qadir Al-Jilani mengutip satu hadis yang bersumber dari Ibnu Umar ra yang mengisahkan sabda Nabi Muhammad SAW : “Kita adalah umat yang ummiy (buta huruf), kita tidak bisa menulis dan tidak pula menghitung. Satu bulan itu sama dengan begini, begini, dan begini (beliau menurunkan ibu jarinya pada kali yang ketiga), dengan mengenapkan menjadi tiga puluh.”

Baca juga: Nasehat Syaikh Abdul Qadir tentang Cara Mencapai Kebahagiaan

Menurutnya, dinamakan bulan (syahr) karena putihnya. Ini terambil dari kata syahirat (putih) yang artinya keputihan (al-bayadh). Selain itu, ada pula yang mengatakan: pedang itu tampak putih kemilau (syahirat) ketika terhunus; bulan terlihat terang keputihan saat kemunculannya.

Bertolak dari pengertian ini, Syekh Abdul Qadir al-Jilani melanjutkan pembahasan tentang perbedaan makna Ramadhan. Sebagian mengartikan dan memaknai Ramadhan sebagai nama Allah SWT. Ini disandarkan pada riwayat Jafar As-Shadiq yang bersumber dari ayahnya. Dia mengatakan, “Bulan Ramadan adalah bulannya Allah (Syahrullah).”

Oleh karena itulah, Syekh Abdul Qadir Al-Jilani mewanti-wanti agar jangan sekadar menyebutkan “Ramadhan” (tanpa “bulan’), tetapi hendaknya sematkan padanya kata “bulan (syahr)” sebagaimana Allah menyematkannya di dalam Al-Quran dalam firman-Nya “syahru ramadhan (bulan Ramadan).” Demikian penjelasan dari Anas bin Malik ra.

Adapun dinamakan Ramadhan karena di dalamnya terjadi perubahan sehingga cuaca menjadi panas, sehingga bebatuan pun memanas.

Ramadhan diambil dari ar-ramdhu, yang artinya hujan yang turun di tengah musim gugur. Maka pada bulan Ramadhan tubuh-tubuh dibersihkan dan disucikan dari berbagai keburukan, dan hati disucikan agar menjadi suci.

Lebih jauh dari makna-makna di atas bahwa pada bulan itu hati manusia dikeluarkan dari panas lewat nasehat dan pemikiran tentang urusan akhirat, layaknya mengangkat bebatuan dan kerikil dari panasnya matahari.

Baca juga: Syaikh Abdul Qadir Al-Jilani Bertutur tentang Kelimpahan
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!