Syaikh Abdul Qadir Al-Jilani Bertutur tentang Kelimpahan

loading...
Syaikh Abdul Qadir Al-Jilani Bertutur tentang Kelimpahan
Poster Syaikh Abdul Qadir Al-Jilani/Foto/Ilustrasi/Shopee
Syaikh Abdul Qadir Al-Jilani dalam kitabnya berjudl Futuh Al-Ghaib memaparkan sebuah misal tentang kelimpahan . Beliau berkata, “Tidakkah kau lihat seorang raja yang menjadikan seorang biasa sebagai gubernur kota tertentu, memberinya busana kehormatan, bendera, panji-panji dan tentara, sehingga ia merasa aman mulai yakin bahwa hal itu akan kekal, bangga dengannya, dan lupa akan keadaan sebelumnya. (Baca juga: Resep Menjadi Saleh Menurut Syaikh Abdul Qadir Al-Jilani )

Ia terseret oleh kebanggaan, kesombongan, dan kesia-siaan. Maka, datanglah perintah pemecatan dari raja. Dan sang raja meminta penjelasan atas kejahatan-kejahatan yang telah dilakukannya dan pelanggarannya atas perintah dan larangannya.

Lalu sang raja memenjarakannya di dalam sebuah penjara yang sempit dan gelap serta memperlama pemenjaraannya, dan orang itu terus menderita, terhinakan dan sengsara, akibat ketakaburan dan kesia-siaannya, dirinya hancur, api kehendaknya padam, dan semua ini terjadi di depan mata sang raja dan diketahuinya. (Baca juga: Nasehat Syaikh Abdul Qadir Al-Jilani agar Tidak Iri dengan Tetangga yang Kaya Harta )

Setelah itu ia menjadi kasihan terhadap orang itu, dan memerintahkan agar ia dibebaskan dari penjara, disertai kelembutan terhadapnya, dianugerahkan kembali busana kehormatan, dan dijadikannya kembali ia sebagai gubernur. Ia menganugerahkan semua ini kepada orang itu sebagai karunia cuma-cuma. Kemudian ia menjadi teguh, bersih, berkecukupan dan terahmati.

Beginilah keadaan seorang beriman yang didekatkan dan dipilih-Nya. (Baca juga: Resep Syaikh Abdul Qadir Al-Jilani Agar Dunia Mengabdi Pada Kita )

Ia bukakan di hadapan mata hatinya pintu-pintu kasih sayang, kemurahan dan pahala. Maka, ia melihat dengan hatinya yang mata tak pernah melihat, yang telinga tak pernah mendengar, yang hati manusia tak tahu akan hal-hal gaib dari kerajaan lelangit dan bumi. Akan kedekatan dengan-Nya. Akan kata manis, janji menyenangkan, limpahan kasih-sayang. Akan diterimanya doa dan kebajikan. Dan akan dipenuhinya janji serta kata-kata bijak bagi hatinya, yang menyatakan sendiri melalui lidahnya. Dan dengan semua ini Ia sempurnakan bagi orang ini karunia-karunia-Nya pada tubuhnya, yang berupa makanan, minuman, busana, istri yang halal, hal-hal lain yang halal dan pemerhati terhadap hukum dan tindak pengabdian.

Lalu, Allah memelihara keadaan ini bagi hamba beriman-Nya yang didekatkan kepada-Nya sampai sang hamba beriman-Nya yang didekatkan kepada-Nya sampai sang hamba merasa aman di dalamnya, terkecoh olehnya dan percaya bahwa hal itu kekal. Maka, Allah membukakan baginya pintu-pintu musibah, aneka kesulitan hidup, milikan, istri, anak, dan mencabut darinya segala karunia yang telah dilimpahkan-Nya kepadanya sebelum ini, sehingga ia terkulai, hancur dan terputus dari masyarakatnya.

Bila ia melihat keadaan-keadaan lahiriahnya, maka ia melihat hal-hal yang buruk baginya. (Baca juga: Doa yang Tak Layak, Menurut Syaikh Abdul Qadir Al-Jilani )

Bila ia melihat hati dan jiwanya, maka ia melihat hal-hal yang menyedihkannya. Jika ia memohon kepada Allah untuk menjauhkan kesulitannya, maka permohonannya itu tak diterima. Jika ia memohon janji baik, ia tak segera mendapatkannya. Jika ia berjanji, ia tak tahu tentang pemenuhannya. Bila ia bermimpi, ia tak bisa menafsirkannya dan tak tahu tentang kebenarannya.

Bila ia bermaksud kembali kepada manusia, ia tak mendapatkan sarana untuk itu. Bila ada sesuatu pilihan baginya dan ia bertindak berdasarkan pilihan itu, maka ia segera tersiksa, tangan-tangan orang memegang tubuhnya, dan lidah-lidah mereka menyerang kehormatannya.

Bila ia hendak melepaskan dirinya dari keadaan ini, dan kembali kepada keadaan sebelumnya, ia gagal. Bila ia memohon agar dikaruniai pengabdian, ketercerahan dan kebahagiaan di tengah-tengah musibah yang dialaminya, permohonannya itu pun tak diterima.
halaman ke-1
cover top ayah
اَللّٰهُ الصَّمَدُ‌
Allah tempat meminta segala sesuatu.

(QS. Al-Ikhlas:2)
cover bottom ayah
preload video