Kisah Kegagalan Khalifah Al-Hadi Menyingkirkan Harun Al-Rasyid
Rabu, 25 Mei 2022 - 17:34 WIB
Khalifah Al-Hadi ingin menyingkirkan bahkan membunuh putra mahkota Harun Al-Rasyid. Namun upaya ini gagal. Foto/Ilustrasii: Ist
Al-Hadi adalah khalifah keempat Dinasti Abbasiyah . Ia menggantikan ayahnya Al-Mahdi dan memerintah antara tahun 785 sampai kematiannya pada 786. Al-Hadi bernama lengkap Musa bin Muhammad (Al-Mahdi) bin Abdullah (Al-Manshur) bin Muhammad bin Ali bin Abdullah bin Al-Abbas.
Akbar Shah Najeebabadi dalam bukunya berjudul "The History Of Islam" menyebut Al-Hadi hanya memerintah sekitar satu tahun tiga bulan (30 Muharram 169 H sampai 16 Rabiul Awal 170 H).
Dalam kurun waktu tersebut tidak banyak yang bisa dibuatnya. Selain karena dia disibukkan oleh pemberontakan yang dilakukan oleh para pendukung keluarga Ali bin Abi Thalib (Ahlul Bait Rasulullah SAW ), waktunya pun habis untuk menggeser Harun Al-Rasyid dari posisi sebagai putra mahkota dan menggantinya dengan putranya, Ja’far bin Musa Al-Hadi.
Baca juga: Kisah Khalifah Al-Hadi, Ketika Madinah Dikuasai Pemberontak
Sekam di dada Al-Hadi sudah muncul sejak ayahnya (Khalifah Al-Mahdi) berencana memindahkan posisi putra mahkota dari Al-Hadi ke Harun Al-Rasyid. Dimana hal ini membuat Al-Hadi sangat kecewa. Ditambah lagi, ketika masa transisi, sebagian besar penghuni istana, termasuk ibu mereka Khaizuran, lebih cenderung memihak pada Harun. Semua ini diketahui oleh Al-Hadi, sehingga membuatnya berniat untuk menyingkirkan Harun, bahkan berencana membunuhnya.
Tapi rencana tersebut masih bisa diredam oleh nasihat Yahya bin Khalid al Barmaki. Yahya adalah wazir dan orang kepercayaan Harun Al-Rasyid ketika memerintah wilayah Azarbaijan dan Armenia. Dia adalah tokoh yang cukup dipercaya oleh Al-Mahdi.
Ini sebabnya nasihat-nasihatnya masih didengar oleh para putra Al-Mahdi. Meski begitu, Al-Hadi sebenarnya menaruh curiga pada Yahya. Hingga akhirnya Yahya memberikan alasan yang tepat pada Al-Hadi untuk tidak meneruskan rencana jahatnya. Yahya memberikan alasan sebagai berikut:
”Putramu (Ja’far bin Musa Al-Hadi) saat ini masih berusia sangat muda. Bila kau meninggal sekarang, kekhalifahannya tidak akan memperoleh legitimasi penuh dari para pendukung kita. Alih-alih, hal tersebut akan melahirkan banyak gejolak politik."
"Ayah mu, Al-Mahdi sudah menominasikan Harun sebagai khalifah setelah mu. Bila kau melantik putramu, sebagai putra mahkota menggantikan Harun, itu lebih aman baginya. Dan apabila ternyata kau berumur panjang, sehingga Ja’far bisa mencapai usia yang ideal untuk menggantikanmu, aku berjanji akan meminta pada Harun agar rela mengundurkan diri dari posisinya sekarang, dan memberikannya pada Ja’far.”
Baca juga: Kisah Khalifah Al-Hadi: Menjabat karena Dukungan Harun Al-Rasyid
Akbar Shah Najeebabadi dalam bukunya berjudul "The History Of Islam" menyebut Al-Hadi hanya memerintah sekitar satu tahun tiga bulan (30 Muharram 169 H sampai 16 Rabiul Awal 170 H).
Dalam kurun waktu tersebut tidak banyak yang bisa dibuatnya. Selain karena dia disibukkan oleh pemberontakan yang dilakukan oleh para pendukung keluarga Ali bin Abi Thalib (Ahlul Bait Rasulullah SAW ), waktunya pun habis untuk menggeser Harun Al-Rasyid dari posisi sebagai putra mahkota dan menggantinya dengan putranya, Ja’far bin Musa Al-Hadi.
Baca juga: Kisah Khalifah Al-Hadi, Ketika Madinah Dikuasai Pemberontak
Sekam di dada Al-Hadi sudah muncul sejak ayahnya (Khalifah Al-Mahdi) berencana memindahkan posisi putra mahkota dari Al-Hadi ke Harun Al-Rasyid. Dimana hal ini membuat Al-Hadi sangat kecewa. Ditambah lagi, ketika masa transisi, sebagian besar penghuni istana, termasuk ibu mereka Khaizuran, lebih cenderung memihak pada Harun. Semua ini diketahui oleh Al-Hadi, sehingga membuatnya berniat untuk menyingkirkan Harun, bahkan berencana membunuhnya.
Tapi rencana tersebut masih bisa diredam oleh nasihat Yahya bin Khalid al Barmaki. Yahya adalah wazir dan orang kepercayaan Harun Al-Rasyid ketika memerintah wilayah Azarbaijan dan Armenia. Dia adalah tokoh yang cukup dipercaya oleh Al-Mahdi.
Ini sebabnya nasihat-nasihatnya masih didengar oleh para putra Al-Mahdi. Meski begitu, Al-Hadi sebenarnya menaruh curiga pada Yahya. Hingga akhirnya Yahya memberikan alasan yang tepat pada Al-Hadi untuk tidak meneruskan rencana jahatnya. Yahya memberikan alasan sebagai berikut:
”Putramu (Ja’far bin Musa Al-Hadi) saat ini masih berusia sangat muda. Bila kau meninggal sekarang, kekhalifahannya tidak akan memperoleh legitimasi penuh dari para pendukung kita. Alih-alih, hal tersebut akan melahirkan banyak gejolak politik."
"Ayah mu, Al-Mahdi sudah menominasikan Harun sebagai khalifah setelah mu. Bila kau melantik putramu, sebagai putra mahkota menggantikan Harun, itu lebih aman baginya. Dan apabila ternyata kau berumur panjang, sehingga Ja’far bisa mencapai usia yang ideal untuk menggantikanmu, aku berjanji akan meminta pada Harun agar rela mengundurkan diri dari posisinya sekarang, dan memberikannya pada Ja’far.”
Baca juga: Kisah Khalifah Al-Hadi: Menjabat karena Dukungan Harun Al-Rasyid
Lihat Juga :