Keesaan Tuhan dan Hari Kebangkitan: Penemuan Nabi Ibrahim adalah Penemuan Manusia yang Terbesar

Senin, 20 Juni 2022 - 09:20 WIB
Penemuan yang dikaitkan dengan Nabi Ibrahim as merupakan penemuan manusia yang terbesar, dan yang tidak dapat diabaikan oleh para ilmuwan atau sejarawan. Foto/Ilustrasi: Ist
Nabi Ibrahim as menemukan dan membina keyakinannya melalui pencarian dan pengalaman-pengalaman kerohanian yang dilaluinya dan hal ini -secara Qurani- terbukti bukan saja dalam penemuannya tentang keesaan Tuhan seru sekalian alam, sebagaimana diuraikan dalam surat Al-An'am ayat 75, tetapi juga dalam keyakinan tentang hari kebangkitan.

Prof Dr M Quraish Shihab dalam bukunya berjudul " Wawasan Al-Quran , Tafsir Maudhu'i atas Pelbagai Persoalan Umat", mengatakan menarik untuk diketahui bahwa beliaulah satu-satunya Nabi yang disebut Al-Qur'an bermohon kepada Allah untuk diperlihatkan bagaimana cara-Nya menghidupkan yang mati, dan permintaan beliau itu dikabulkan Allah ( QS Al-Baqarah [2] : 260)



Para ilmuwan seringkali berbicara tentang penemuan-penemuan manusia yang memengaruhi atau bahkan mengubah jalannya sejarah kemanusiaan.

Abbas Al-'Aqqad dalam "Abu Al-Anbiyya'" mengatakan penemuan yang dikaitkan dengan Nabi Ibrahim as merupakan penemuan manusia yang terbesar, dan yang tidak dapat diabaikan oleh para ilmuwan atau sejarawan.

Ia tidak dapat dibandingkan dengan penemuan roda, api, listrik, atau rahasia-rahasia atom -betapapun besarnya pengaruh penemuan-penemuan tersebut- yang semua itu dikuasai oleh manusia. Penemuan Ibrahim menguasai jiwa dan raga manusia.

Penemuan Ibrahim menjadikan manusia yang tadinya tunduk kepada alam menjadi mampu menguasai alam, serta menilai baik buruknya. Penemuan manusia dapat menjadikannya berlaku sewenang-wenang, tetapi kesewenangan-wenangan ini tidak mungkin dilakukannya selama penemuan Ibrahim as tetap menghiasi jiwanya.

Penemuan tersebut berkaitan dengan apa yang diketahui dan tidak-diketahuinya berkaitan kedudukannya sebagai makhluk, dan hubungan makhluk ini dengan Tuhan, alam raya, dan makhluk-makhluk sesamanya."



Ajaran Tauhid

Quraish Shihab mengatakan merujuk kepada Al-Qur'an, dapat kita temukan bahwa para Nabi dan Rasul selalu membawa ajaran tauhid.

"Kami tidak mengutus seorang Rasul pun sebelum kamu, kecuali Kami wahyukan kepadanya bahwa tidak ada Tuhan selain Aku, maka sembahlah Aku" ( QS Al-Anbiya' [21] : 25).

"Wahai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tak ada Tuhan bagimu selain-Nya."

Demikian ucapan Nabi Nuh, Hud, Shaleh dan Syu'aib yang diabadikan Al-Qur'an masing-masing secara berurut dalam surat Al-A'raf (7) : 59, 65, 73, dan 85.

Demikian juga ajaran yang diterima Musa as langsung dari Allah:

"Aku yang memilihmu, maka dengarkan dengan tekun, apa yang diwahyukan (padamu): 'Sesungguhnya Aku adalah Allah, tidak ada Tuhan selain Aku. Sembahlah Aku, dan dirikanlah sholat untuk mengingat-Ku'" ( QS Thaha [20] 13-14)

Nabi Isa as juga mengajarkan prinsip ini kepada umatnya: "Isa berkata (kepada Bani Israil), 'Hai Bani Israil, sembahlah Allah Tuhanku dan Tuhanmu.' Sesunguhnya siapa yang mempersekutukan-Nya maka Allah mengharamkan baginya surga, dan tempatnya adalah neraka. Tiada penolong bagi orang-orarg yang aniaya." ( QS Al-Maidah [5] : 72)



Perbedaan

Quraish Shihab mengingatkan walaupun semua nabi membawa ajaran tauhid, terlihat melalui ayat-ayat Al-Qur'an bahwa ada perbedaan dalam pemaparan mereka tentang prinsip tauhid.
Halaman :
Lihat Juga :
Follow
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Hadits of The Day
Dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:  Ada dua golongan penduduk neraka yang keduanya belum pernah aku lihat.  (1) Kaum yang memiliki cambuk seperti ekor sapi, yang dipergunakannya untuk memukul orang.  (2) Wanita-wanita berpakaian tetapi (seperti) bertelanjang (pakaiannya terlalu minim, tipis, ketat, atau sebagian auratnya terbuka), berjalan dengan berlenggok-lenggok, mudah dirayu atau suka merayu, rambut mereka (disasak) bagaikan punuk unta. Wanita-wanita tersebut tidak dapat masuk surga, bahkan tidak dapat mencium bau surga. Padahal bau surga itu dapat tercium dari jarak sekian dan sekian.

(HR. Muslim No. 3971)
Artikel Terkait
Al-Qur'an, Bacalah!
Rekomendasi
Terpopuler
Artikel Terkini More