Usamah bin Zaid, Panglima Perang Termuda Umat Islam, Porak-porandakan Bizantium
Jum'at, 16 September 2022 - 15:23 WIB
Disebutkan juga bahwa setelah Usamah melihat keadaan yang demikian, ia meminta kepada Umar bin Khattab agar memintakan izin kepada Abu Bakar untuk membawa pasukannya itu kembali, supaya dapat membantu Abu Bakar dalam menghadapi kaum musyrik yang kala itu sudah siap-siap melakukan pemberontakan.
Orang-orang Ansar berkata kepada Umar: "Kalau harus juga kita meneruskan perjalanan, sampaikan permintaan kami supaya yang memimpin kita ini orang yang lebih tua usianya dari Usamah."
Umar menyampaikan pesan Usamah itu kepada Abu Bakar. Tetapi mendengar itu Abu Bakar marah. "Sekiranya yang akan menyergapku itu anjing dan serigala," katanya. "Aku tidak akan mundur dari keputusan yang sudah diambil oleh Rasulullah SAW."
Mengenai pesan kaum Ansar yang meminta agar Usamah digantikan oleh orang yang lebih tua usianya, Abu Bakar melompat dari duduknya dan memegang janggut Umar seraya berkata marah: "Celaka kau Umar! Rasulullah SAW yang menempatkan dia, lalu aku yang akan mencabutnya?!"
Ketika kemudian Umar kembali dan mereka menanyakan hasil pembicaraannya, Umar berkata: "Teruskan! Karena usul kalian itulah Khalifah Rasulullah marah kepadaku.”
“Apa pun yang dikerjakan oleh Rasulullah akan kukerjakan," tandasnya.
Abu Bakar berdiri di tengah-tengah pasukan dan berpidato setelah mengirimkan kembali sebagian orang yang menentang itu:
"Saudara-saudara, aku seperti kamu sekalian. Aku tidak tahu, adakah kamu akan menugaskan aku melakukan sesuatu yang dilakukan oleh Rasulullah. Allah telah memilih Muhammad untuk semesta alam dan dibebaskan dari segala cacat. Tetapi aku hanya seorang pengikut, bukan pembaru. Kalau aku benar, ikutilah aku, dan kalau aku sesat luruskanlah. Rasulullah wafat tiada seorang pun merasa dirugikan dan teraniaya. Padaku juga ada setan yang akan menjerumuskan aku. Kalau yang demikian terjadi, jauhkanlah aku..."
Baca juga: Utusan Khalifah Ini Oleh Kaisar Romawi Dianggap Keturunan Raja
Kemudian ia menyuruh orang melakukan segala perbuatan yang baik sebelum ajal datang menjemput, dan supaya mengambil pelajaran dari bapak-bapak dan saudara-saudara, dan janganlah iri hati terhadap yang hidup kecuali seperti terhadap yang sudah mati. “Aku hanya seorang pengikut, bukan pembaru; apa pun yang dikerjakan oleh Rasulullah akan kukerjakan,” tegasnya.
Tunduk kepada Khalifah
Setelah Umar bin Khattab kembali ke Jurf, semua orang sudah tahu mengenai pesan Khalifah Abu Bakar yang dibawanya. Mau tak mau mereka harus tunduk kepada Khalifah. Setelah itu Khalifah Abu Bakar pun pergi mengunjungi markas pasukan itu.
Ketika memberangkatkan dan melepas pasukan itu Khalifah Abu Bakar berjalan kaki, sementara Usamah bin Zaid di atas kendaraan, untuk menanamkan kesan kepada mereka tentang kepemimpinan Usamah yang harus diterima dan ditaati. Tetapi agaknya Usamah merasa malu melihat orang tua yang penuh wibawa dan sahabat Rasulullah serta penggantinya memerintah Muslimin itu berjalan kaki di sebelahnya sedang hewan tunggangannya dituntun oleh Abdur-Rahman bin Auf dari belakang.
"Oh Khalifah Rasulullah," kata Usamah. "Tuan harus naik, kalau tidak saya akan turun."
"Demi Allah, jangan turun!" Abu Bakar berkata. "Dan demi Allah aku tidak akan naik. Aku hanya menjejakkan kaki di debu sejenak demi perjuangan di jalan Allah!"
Setelah tiba saatnya akan melepas pasukan itu ia berkata kepada Usamah: "Kalau menurut pendapatmu Umar perlu diperbantukan kepadaku silakan."
Usamah mengizinkan Umar bin Khattab meninggalkan pasukannya dan kembali (ke Madinah) bersama Khalifah Abu Bakar.
Muhammad Husain Haekal dalam As-Siddiq Abu Bakr menyebut setelah melihat tindakan Abu Bakar yang sungguh bijaksana itu mereka yang tadinya menentang kepemimpinan Usamah tak ada jalan lain harus menerima juga.
Baca juga: Syam Pilih Takluk ke Muslim, Lepas dari Tangan Besi Romawi
Pidato Khalifah Abu Bakar
Saat Khalifah Abu Bakar melepas pasukan, beliau berdiri di depan para pasukan muslim menyampaikan pidatonya: "Saudara-saudara, ikutilah sepuluh pesan saya ini dan harus Saudara-saudara perhatikan: Jangan berkhianat, jangan korupsi, jangan mengecoh dan jangan menganiaya. Janganlah membunuh anak-anak, orang lanjut usia atau perempuan. Janganlah menebang atau membakar kebun kurma, jangan memotong pohon yang sedang berbuah, jangan menyembelih kambing, sapi atau unta kecuali untuk dimakan.”
“Kamu akan melewati golongan manusia yang mengabdikan diri tinggal dalam biara; biarkan mereka, jangan diganggu.”
“Kamu akan singgah pada suatu golongan yang akan menghidangkan pelbagai macam makanan, maka jika di antaranya ada yang kamu makan, sebutlah nama Allah.”
“Juga kamu akan menjumpai beberapa golongan manusia, di bagian atas kepala mereka berlubang dan membiarkan sekelilingnya seperti pita, sapulah itu sekali dengan pedangmu. Ini adalah sebuah tamsil, berasal dari hadis Rasulullah, yang maksudnya bila setan telah bersarang di kepala manusia, segala kejahatan akan diperbuatnya, maka kikislah itu.”
Orang-orang Ansar berkata kepada Umar: "Kalau harus juga kita meneruskan perjalanan, sampaikan permintaan kami supaya yang memimpin kita ini orang yang lebih tua usianya dari Usamah."
Umar menyampaikan pesan Usamah itu kepada Abu Bakar. Tetapi mendengar itu Abu Bakar marah. "Sekiranya yang akan menyergapku itu anjing dan serigala," katanya. "Aku tidak akan mundur dari keputusan yang sudah diambil oleh Rasulullah SAW."
Mengenai pesan kaum Ansar yang meminta agar Usamah digantikan oleh orang yang lebih tua usianya, Abu Bakar melompat dari duduknya dan memegang janggut Umar seraya berkata marah: "Celaka kau Umar! Rasulullah SAW yang menempatkan dia, lalu aku yang akan mencabutnya?!"
Ketika kemudian Umar kembali dan mereka menanyakan hasil pembicaraannya, Umar berkata: "Teruskan! Karena usul kalian itulah Khalifah Rasulullah marah kepadaku.”
“Apa pun yang dikerjakan oleh Rasulullah akan kukerjakan," tandasnya.
Abu Bakar berdiri di tengah-tengah pasukan dan berpidato setelah mengirimkan kembali sebagian orang yang menentang itu:
"Saudara-saudara, aku seperti kamu sekalian. Aku tidak tahu, adakah kamu akan menugaskan aku melakukan sesuatu yang dilakukan oleh Rasulullah. Allah telah memilih Muhammad untuk semesta alam dan dibebaskan dari segala cacat. Tetapi aku hanya seorang pengikut, bukan pembaru. Kalau aku benar, ikutilah aku, dan kalau aku sesat luruskanlah. Rasulullah wafat tiada seorang pun merasa dirugikan dan teraniaya. Padaku juga ada setan yang akan menjerumuskan aku. Kalau yang demikian terjadi, jauhkanlah aku..."
Baca juga: Utusan Khalifah Ini Oleh Kaisar Romawi Dianggap Keturunan Raja
Kemudian ia menyuruh orang melakukan segala perbuatan yang baik sebelum ajal datang menjemput, dan supaya mengambil pelajaran dari bapak-bapak dan saudara-saudara, dan janganlah iri hati terhadap yang hidup kecuali seperti terhadap yang sudah mati. “Aku hanya seorang pengikut, bukan pembaru; apa pun yang dikerjakan oleh Rasulullah akan kukerjakan,” tegasnya.
Tunduk kepada Khalifah
Setelah Umar bin Khattab kembali ke Jurf, semua orang sudah tahu mengenai pesan Khalifah Abu Bakar yang dibawanya. Mau tak mau mereka harus tunduk kepada Khalifah. Setelah itu Khalifah Abu Bakar pun pergi mengunjungi markas pasukan itu.
Ketika memberangkatkan dan melepas pasukan itu Khalifah Abu Bakar berjalan kaki, sementara Usamah bin Zaid di atas kendaraan, untuk menanamkan kesan kepada mereka tentang kepemimpinan Usamah yang harus diterima dan ditaati. Tetapi agaknya Usamah merasa malu melihat orang tua yang penuh wibawa dan sahabat Rasulullah serta penggantinya memerintah Muslimin itu berjalan kaki di sebelahnya sedang hewan tunggangannya dituntun oleh Abdur-Rahman bin Auf dari belakang.
"Oh Khalifah Rasulullah," kata Usamah. "Tuan harus naik, kalau tidak saya akan turun."
"Demi Allah, jangan turun!" Abu Bakar berkata. "Dan demi Allah aku tidak akan naik. Aku hanya menjejakkan kaki di debu sejenak demi perjuangan di jalan Allah!"
Setelah tiba saatnya akan melepas pasukan itu ia berkata kepada Usamah: "Kalau menurut pendapatmu Umar perlu diperbantukan kepadaku silakan."
Usamah mengizinkan Umar bin Khattab meninggalkan pasukannya dan kembali (ke Madinah) bersama Khalifah Abu Bakar.
Muhammad Husain Haekal dalam As-Siddiq Abu Bakr menyebut setelah melihat tindakan Abu Bakar yang sungguh bijaksana itu mereka yang tadinya menentang kepemimpinan Usamah tak ada jalan lain harus menerima juga.
Baca juga: Syam Pilih Takluk ke Muslim, Lepas dari Tangan Besi Romawi
Pidato Khalifah Abu Bakar
Saat Khalifah Abu Bakar melepas pasukan, beliau berdiri di depan para pasukan muslim menyampaikan pidatonya: "Saudara-saudara, ikutilah sepuluh pesan saya ini dan harus Saudara-saudara perhatikan: Jangan berkhianat, jangan korupsi, jangan mengecoh dan jangan menganiaya. Janganlah membunuh anak-anak, orang lanjut usia atau perempuan. Janganlah menebang atau membakar kebun kurma, jangan memotong pohon yang sedang berbuah, jangan menyembelih kambing, sapi atau unta kecuali untuk dimakan.”
“Kamu akan melewati golongan manusia yang mengabdikan diri tinggal dalam biara; biarkan mereka, jangan diganggu.”
“Kamu akan singgah pada suatu golongan yang akan menghidangkan pelbagai macam makanan, maka jika di antaranya ada yang kamu makan, sebutlah nama Allah.”
“Juga kamu akan menjumpai beberapa golongan manusia, di bagian atas kepala mereka berlubang dan membiarkan sekelilingnya seperti pita, sapulah itu sekali dengan pedangmu. Ini adalah sebuah tamsil, berasal dari hadis Rasulullah, yang maksudnya bila setan telah bersarang di kepala manusia, segala kejahatan akan diperbuatnya, maka kikislah itu.”
Lihat Juga :