Usamah bin Zaid, Panglima Perang Termuda Umat Islam, Porak-porandakan Bizantium

Jum'at, 16 September 2022 - 15:23 WIB
“Terjunlah kamu dengan nama Allah, semoga Allah memberi perlindungan kepada kamu dari kematian dan penyakit."

Kepada Usamah yang sudah mulai bergerak dengan pasukannya ia berkata: "Kerjakan apa yang diperintahkan Nabi SAW kepadamu. Mulailah dari daerah Quda'ah, kemudian masuk ke Abil. Jangan kau kurangi sedikit pun perintah Rasulullah. Jangan ada yang kautinggalkan apa yang sudah dipesankan kepadamu."

Mati untuk Kemenangan

Sementara pasukan Usamah berangkat, Abu Bakar dan Umar kembali ke Madinah. Dengan dipimpin oleh seorang komandan muda pasukan itu berangkat mengarungi padang pasir dan sahara gersang di puncak musim panas bulan Juni.

Sesudah 20 hari perjalanan ia sampai ke Balqa' dan di tempat itulah Mu'tah, di tempat itu pula Zaid bin Harisah dan kedua sahabatnya Ja'far bin Abi Thalib dan Abdullah bin Rawahah gugur sebagai syahid.

Di sini Usamah dan pasukannya bermarkas dan memulai serangannya ke Abil dengan menyebarkan pasukan berkudanya ke daerah-daerah kabilah di Quda'ah. Musuh-musuh Allah dan Rasul-Nya yang mau merintangi jalannya habis disapunya tanpa belas kasihan lagi. Semboyan Muslimin dalam perang ketika itu: "Mati untuk kemenangan."

Selama dalam perang pasukan Muslimin berhasil membunuh dan menawan serta membakar kota-kota yang mengadakan perlawanan. Rampasan perang yang mereka peroleh pun tidak sedikit. Dengan demikian Usamah sudah dapat menuntut balas atas kematian ayahnya dan kaum Muslimin di Mu'tah, dan sekaligus telah pula melaksanakan perintah Rasulullah untuk menapakkan kudanya ke perbatasan Balqa' dan Darum di bumi Palestina, menyergap musuh-musuh Allah dan RasulNya itu di pagi buta, membunuh mereka dan membakar dengan api.

Semua itu dilaksanakan sampai selesai secara silih berganti sebelum pihak musuh menyadari. Setelah menyelesaikan tugasnya itu Usamah kembali dengan pasukannya ke Madinah membawa kemenangan dengan menunggang kuda yang dulu dinaiki ayahnya ketika terbunuh di atas kuda itu juga.

Baca juga: Kisah Syekh Al-Baqillani Permalukan Raja Romawi Timur Ketika Debat

Tak Terbayangkan

Kaum Muhajirin dan Ansar yang tadinya menggerutu karena kepemimpinan Usamah, sejak itu merasa bangga dengan perjuangan anak muda itu serta keberaniannya yang luar biasa di medan perang.

Dengan penuh iman mereka mengulang-ulang apa yang dikatakan oleh Rasulullah SAW: "Dia sudah pantas memegang pimpinan, seperti ayahnya dulu juga pantas memegang pimpinan."

Pemimpin-pemimpin militer yang pernah berjaya tak pernah membayangkan bahwa Usamah akan maju menelusuri jejak musuh. Soalnya, karena politik yang biasa dijalankan oleh Rasulullah dan yang terbayang dalam pikiran semua kaum Muslimin, hanya terbatas untuk mengamankan perbatasan kawasan Arab dengan Romawi, tidak menyinggung Romawi sendiri yang menyerbu daerah Arab sebagai pembalasan untuk orang-orang Yahudi atau yang, lain yang pernah berkomplot terhadap kaum Muslimin.

Wajar saja bila Romawi dengan kerajaannya yang begitu luas serta pengaruh kekuasaannya yang besar itu namanya masih menggoncangkan semua bangsa.

Baca juga: Ketika Kekalahan Kristen Romawi atas Persia Jadi Duka Kaum Muslimin



Abu Bakar Sambut Usamah


Dengan pasukan yang sudah berjaya itu Usamah kembali, dan Khalifah Abu Bakar menyambutnya di luar kota Madinah. Abu Bakar datang menyongsongnya bersama-sama sejumlah kaum Muhajirin dan Ansar terkemuka.

Semua mereka dalam suasana gembira, ditambah lagi dengan penduduk Madinah yang menyusul Khalifah Abu Bakar dan rombongannya. Mereka bersorak sorai gembira sebagai penghargaan atas keberanian Usamah dan pasukannya itu.

Begitu ia memasuki kota Madinah dengan kemenangan yang membawa kebanggaan itu, langsung ia menuju masjid melakukan sholat syukur atas nikmat yang dikaruniakan Allah kepadanya dan kepada Muslimin.

Pasukan itu pulang kembali ke Madinah setelah 40 hari, ada juga yang menyebutkan sesudah 70 hari sejak keluar dari kota itu.

Menurut Haekal, ketika berita ekspedisi itu disampaikan kepada Heraklius, ia terkejut sekali. Ia segera mengirimkan pasukan yang berkekuatan besar ke Balqa'.

Ini suatu bukti yang nyata bahwa pihak Muslimin setelah peristiwa ekspedisi ini benar-benar diperhitungkan, baik oleh Romawi maupun oleh orang-orang Arab sendiri, sehingga pihak Arab bagian utara — selain Dumat al-Jandal (Dumatul Jandal) — tidak lagi menghasut untuk menyerbu Madinah.

Baca juga: Amr Bin Al-Ash: Arthabon Arab yang Taklukkan Arthabon Romawi
(mhy)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!