Kisah Mualaf Jerman Murad Wilfred Hoffman Pergi Haji
Kamis, 03 November 2022 - 12:19 WIB
Murad Wilfred Hoffman, mualaf dari Jerman berhaji pada tahun 1982. Foto/Ilustrasi: ist
Kisah mualaf Jerman, Murad Wilfred Hoffman, pergi haji tertuang dalam cacatan hariannya yang dihimpun dalam buku berjudul "Pergolakan Pemikiran: Catatan Harian Muslim Jerman" (Gema Insani Press, 1998). Peristiwa bersejarah pada diri Hoffman ini terjadi dua tahun setelah ia memeluk Islam, tepatnya pada Desember 1982.
Berikut catatannya:
Aku masuk ke Masjidil Haram dengan memakai pakaian ihram putih yang ringan, menuju Kakbah yang berada di tengah ruang lapang yang luas. Ini adalah saat-saat yang sebelumnya tidak berani aku impikan.
Ketika orang melihat dengan mata kepalanya bentuk bangunan ini, yang biasa ia lihat di gambar-gambar dan film-film. Ia akan merasa terpesona sekali ketika menyaksikan langsung, bukan dalam khayalan. Di sini, suasananya berbeda sekali.
Tidak ada hiruk-pikuk pasar, juga tidak ada suasana magis yang sakral. Segala sesuatu tampak sederhana, penuh keagungan dan perasaan seni yang tinggi.
Baca juga: Kisah Perjalanan Muhammad Ali Menjadi Seorang Mualaf
Gelombang jamaah haji yang banyak tidak menyebabkan kerumunan atau sesak pada tempat tawaf. Sebaliknya, ada keteraturan yang apik ketika melaksanakan sholat jamaah, dalam kesenyapan, sehingga orang dapat menjaga kebebasan pribadinya. Ada puluhan ribu jemaah haji dan peziarah sedang melakukan tawaf dalam kesunyian. Hal itu amat menggetarkan nurani.
Aku merasakan sambutan dan perasaan amat aman di antara rekan-rekan jemaah haji. Di sana, aku mendapati makna ucapan "Assalamu'alaikum" yang berdenyut hidup.
Ketika kemuliaan terkristal, keindahan, iman, dan internasionalisme. Aku merasa seperti sebuah titik atom pada sebuah kesatuan kosmos yang besar, karena di Mekkah semua perbedaan bangsa terlebur. Hanya ketika aku sedang rukuk dalam sholat saja aku dapat melihat telapak-telapak kaki yang berlainan warna, semua bangsa, dan benua terwakili di sini.
Kakbah adalah pelambang segala sesuatu tiga dimensi, dalam kesederhanaannya. Ini adalah sikap Islam yang terpuji untuk memenuhi kebutuhan pada pelambang terlihat atas Tuhan. Jika Allah SWT --menurut istilah Ibnu Sina-- adalah puncak keserdehanaan, maka bentuk persegi empat dan kosong dari hiasan apa pun ini, adalah pelambang yang terbaik bagi Allah dari pelambang bangunan lain manapun.
Berikut catatannya:
Aku masuk ke Masjidil Haram dengan memakai pakaian ihram putih yang ringan, menuju Kakbah yang berada di tengah ruang lapang yang luas. Ini adalah saat-saat yang sebelumnya tidak berani aku impikan.
Ketika orang melihat dengan mata kepalanya bentuk bangunan ini, yang biasa ia lihat di gambar-gambar dan film-film. Ia akan merasa terpesona sekali ketika menyaksikan langsung, bukan dalam khayalan. Di sini, suasananya berbeda sekali.
Tidak ada hiruk-pikuk pasar, juga tidak ada suasana magis yang sakral. Segala sesuatu tampak sederhana, penuh keagungan dan perasaan seni yang tinggi.
Baca juga: Kisah Perjalanan Muhammad Ali Menjadi Seorang Mualaf
Gelombang jamaah haji yang banyak tidak menyebabkan kerumunan atau sesak pada tempat tawaf. Sebaliknya, ada keteraturan yang apik ketika melaksanakan sholat jamaah, dalam kesenyapan, sehingga orang dapat menjaga kebebasan pribadinya. Ada puluhan ribu jemaah haji dan peziarah sedang melakukan tawaf dalam kesunyian. Hal itu amat menggetarkan nurani.
Aku merasakan sambutan dan perasaan amat aman di antara rekan-rekan jemaah haji. Di sana, aku mendapati makna ucapan "Assalamu'alaikum" yang berdenyut hidup.
Ketika kemuliaan terkristal, keindahan, iman, dan internasionalisme. Aku merasa seperti sebuah titik atom pada sebuah kesatuan kosmos yang besar, karena di Mekkah semua perbedaan bangsa terlebur. Hanya ketika aku sedang rukuk dalam sholat saja aku dapat melihat telapak-telapak kaki yang berlainan warna, semua bangsa, dan benua terwakili di sini.
Kakbah adalah pelambang segala sesuatu tiga dimensi, dalam kesederhanaannya. Ini adalah sikap Islam yang terpuji untuk memenuhi kebutuhan pada pelambang terlihat atas Tuhan. Jika Allah SWT --menurut istilah Ibnu Sina-- adalah puncak keserdehanaan, maka bentuk persegi empat dan kosong dari hiasan apa pun ini, adalah pelambang yang terbaik bagi Allah dari pelambang bangunan lain manapun.
Lihat Juga :