Begini Reaksi Islam Terhadap Orientalisme Menurut Montgomery Watt
Senin, 23 Januari 2023 - 15:27 WIB
loading...
A
A
A
Namun ilmuwan yang lain, Jan Slomp, telah menunjukkan bahwa tidak ada dasar-dasar yang solid bagi spekulasi tersebut. Apa yang sesungguhnya direalisasikan oleh kaum muslimin adalah kematangan pandangan orang Kristen, didukung oleh bobot keilmuwan yang meliputi segala, yang secara absolut diyakini bahwa kitab itu adalah palsu dan bahwa kitab itu tidak ada yang bertentangan dengan pokok kepercayaan Kristen, bahkan dalam bahan-bahan sekunder sekalipun.
Pada tahun 1977, terbit sebuah buku yang berjudul The Myth of God Incarnate dianggap oleh sebagian orang muslim sebagai bukti bahwa umat Kristiani meninggalkan kepercayaannya kepada sifat ketuhanan Yesus.
Universitas Raja Abdul-Aziz di Jedah mensponsori sebuah buku setebal empat puluh halaman dalam bahasa Inggris dan bahasa Arab dengan judul About The Myth of God Incarnate: An Impartial Survey of its Main Topics dan ditulis oleh Abdus Samad Sharafuddin.
Setelah pembahasan terinci dua makalah oleh Maurice Wiles, sang penulis menyimpulkan: "Fakta yang sedemikian jauh dinyatakan agar berarti bahwa inkarnasi Tuhan dalam diri Kristus itu tidak didukung oleh kitab-kitab suci yang jelas.
Berdasarkan alasan ini maka persoalan inkarnasi Tuhan di dalam diri Kristus ini masih menjadi dunia yang chaos yang disebut "myth" (mitos). Orang ini cenderung mengambil kata "myth" dalam arti negatifnya sebagai yang hampir equivalen dengan kesalahan (halaman 10), dan pernyataan ajaran tersebut sebagai "kesalahan besar yang telah berlangsung lama dalam pemikiran Kristen" (halaman 1).
Baca juga: Gambaran Kristen Mekkah di Era Rasulullah SAW Menurut William Montgomery Watt
Sekalipun sikap umum penulis ini adalah eirenic, penulis ini tidak menyimpang dari kepercayaan bahwa semua kebenaran itu didapatkan pada sumber Al-Qur'an dan sumber-sumber lain dimanapun adanya. Dalam kesimpulan Abdus Samad Sharafuddin mengutip Al-Qur'an dalam 3: 199, yang dengan baik menjelaskan Ahli Kitab dan meneruskan pernyataannya:
Ayat di atas membawa pesan kehendak yang baik dan harapan universal terhadap seluruh saudara-saudara, baik laki-laki maupun perempuan, yang beriman kepada Kitab-Kitab kebenaran yang diimani dan terlepas dari labelnya -- Kristen, Yahudi, atau Muslim. Kemungkinan tingkatan orang-orang yang beriman benar itu dekat dan boleh jadi mereka mengikuti jalan persahabatan, persaudaraan dan saling memahami, yang disinari oleh Deklarasi Konsili Vatican Kedua dalam isunya yang di angkat pada tahun 1965 tentang "Religious Freedom" -- Kebebasan Beragama.
Kemudian dia mengutip dua kalimat pembukaan tentang Islam pada Deklarasi Vatican Kedua tersebut - dengan menarik perhatian mengambilnya dari pendahuluan The Gospel of Barnabas terbitan Karachi tahun 1973.
Umat Kristen seharusnya mengapresiasi keterbukaan Abdus-Samad Sharafuddin terhadap kebenaran Kristen dalam Perjanjian Baru dan dokumen-dokumen yang lain, namun juga mesti dibuat sedih untuk melihat bahwa orang ini hanya mendapatkan pendapat-pendapatnya yang sebelumnya tentang Kristianitas yang dibayangkannya.
Orang Kristen yang merefleksikan pada kritik The Myth of God Incarnate ini seharusnya menyatakan betapa sulitnya seorang muslim untuk sadar akan betapa luasnya pemikiran dan tulisan yang merupakan proses kehidupan teologi Kristen, karya tunggal itu tinggi nilainya namun tidak lebih banyak ketimbang yang jatuh kepada kematian.
Baca juga: Orientalis Montgomery Watt Kupas Ramalan Bibel tentang Nabi Muhammad SAW
Buku khusus ini menjelaskan fakta yang memprovokasikan perdebatan, sebagai yang diharapkan oleh para penulis, namun kini pernyataan itu menempatkan orang yang terpesona terhadap apa yang benar-benar berubah pada landasan sikap para ahli teologi Kristen.
Buku itu sendiri, di samping judulnya menggunakan istilah "mitos", bukan mendiskusikan konsep secara keseluruhan, dan bahkan perhatian kepada "mitos" pada perdebatan lebih lanjut yang tidak menggunakan topik tersebut. Sedang hal itu akan timbul karena topik ini merupakan satu hal yang seyogyanya ditingkatkan pada dialog antar umat beragama umat Islam, umat Kristen, dan umat pengikut agama lainnya.
Pada tahun 1977, terbit sebuah buku yang berjudul The Myth of God Incarnate dianggap oleh sebagian orang muslim sebagai bukti bahwa umat Kristiani meninggalkan kepercayaannya kepada sifat ketuhanan Yesus.
Universitas Raja Abdul-Aziz di Jedah mensponsori sebuah buku setebal empat puluh halaman dalam bahasa Inggris dan bahasa Arab dengan judul About The Myth of God Incarnate: An Impartial Survey of its Main Topics dan ditulis oleh Abdus Samad Sharafuddin.
Setelah pembahasan terinci dua makalah oleh Maurice Wiles, sang penulis menyimpulkan: "Fakta yang sedemikian jauh dinyatakan agar berarti bahwa inkarnasi Tuhan dalam diri Kristus itu tidak didukung oleh kitab-kitab suci yang jelas.
Berdasarkan alasan ini maka persoalan inkarnasi Tuhan di dalam diri Kristus ini masih menjadi dunia yang chaos yang disebut "myth" (mitos). Orang ini cenderung mengambil kata "myth" dalam arti negatifnya sebagai yang hampir equivalen dengan kesalahan (halaman 10), dan pernyataan ajaran tersebut sebagai "kesalahan besar yang telah berlangsung lama dalam pemikiran Kristen" (halaman 1).
Baca juga: Gambaran Kristen Mekkah di Era Rasulullah SAW Menurut William Montgomery Watt
Sekalipun sikap umum penulis ini adalah eirenic, penulis ini tidak menyimpang dari kepercayaan bahwa semua kebenaran itu didapatkan pada sumber Al-Qur'an dan sumber-sumber lain dimanapun adanya. Dalam kesimpulan Abdus Samad Sharafuddin mengutip Al-Qur'an dalam 3: 199, yang dengan baik menjelaskan Ahli Kitab dan meneruskan pernyataannya:
Ayat di atas membawa pesan kehendak yang baik dan harapan universal terhadap seluruh saudara-saudara, baik laki-laki maupun perempuan, yang beriman kepada Kitab-Kitab kebenaran yang diimani dan terlepas dari labelnya -- Kristen, Yahudi, atau Muslim. Kemungkinan tingkatan orang-orang yang beriman benar itu dekat dan boleh jadi mereka mengikuti jalan persahabatan, persaudaraan dan saling memahami, yang disinari oleh Deklarasi Konsili Vatican Kedua dalam isunya yang di angkat pada tahun 1965 tentang "Religious Freedom" -- Kebebasan Beragama.
Kemudian dia mengutip dua kalimat pembukaan tentang Islam pada Deklarasi Vatican Kedua tersebut - dengan menarik perhatian mengambilnya dari pendahuluan The Gospel of Barnabas terbitan Karachi tahun 1973.
Umat Kristen seharusnya mengapresiasi keterbukaan Abdus-Samad Sharafuddin terhadap kebenaran Kristen dalam Perjanjian Baru dan dokumen-dokumen yang lain, namun juga mesti dibuat sedih untuk melihat bahwa orang ini hanya mendapatkan pendapat-pendapatnya yang sebelumnya tentang Kristianitas yang dibayangkannya.
Orang Kristen yang merefleksikan pada kritik The Myth of God Incarnate ini seharusnya menyatakan betapa sulitnya seorang muslim untuk sadar akan betapa luasnya pemikiran dan tulisan yang merupakan proses kehidupan teologi Kristen, karya tunggal itu tinggi nilainya namun tidak lebih banyak ketimbang yang jatuh kepada kematian.
Baca juga: Orientalis Montgomery Watt Kupas Ramalan Bibel tentang Nabi Muhammad SAW
Buku khusus ini menjelaskan fakta yang memprovokasikan perdebatan, sebagai yang diharapkan oleh para penulis, namun kini pernyataan itu menempatkan orang yang terpesona terhadap apa yang benar-benar berubah pada landasan sikap para ahli teologi Kristen.
Buku itu sendiri, di samping judulnya menggunakan istilah "mitos", bukan mendiskusikan konsep secara keseluruhan, dan bahkan perhatian kepada "mitos" pada perdebatan lebih lanjut yang tidak menggunakan topik tersebut. Sedang hal itu akan timbul karena topik ini merupakan satu hal yang seyogyanya ditingkatkan pada dialog antar umat beragama umat Islam, umat Kristen, dan umat pengikut agama lainnya.
(mhy)
Lihat Juga :