Kisah Ulama yang Dijuluki Al-Ashom Alias si Tuli, Begini Ceritanya
Jum'at, 27 Januari 2023 - 22:31 WIB
loading...
Kisah Imam Hatim yang dijuluki Al-Ashom alias si tuli memiliki kisah menarik yang sarat hikmah dan pelajaran berharga. Foto/Ilustrasi
A
A
A
Bagi kalangan santri atau penuntut ilmu, sosok ulama yang satu ini pasti sudah tidak asing. Kisahnya cukup populer dan satu-satunya tokoh ulama yang dijuluki Al-Ashom alias si tuli.
Beliau adalah Abu Abdurrahman Hatim ibn Alwan bin Yusuf rahimahullah, atau lebih dikenal dengan Imam Hatim Al-Ashom yang artinya Hatim si tuli. Mengapa beliau dilabeli dengan sebutan tuli? Tentu tidak sopan menyebut orang tuli meskipun ia benar-benar tulis apalagi seorang ulama.
Julukan itu tidak ada kaitannya dengan fungsi pendengaran beliau. Sang ulama generasi Tabi'ut Tabi'in ini memiliki pendengaran normal bahkan tajam. Adapun julukan Al-Ashom atau tuli tersebut memiliki kisah yang sarat hikmah.
Dai lulusan Al-Azhar Mesir Ustaz Ahmad Syahrin Thoriq dalam satu kajiannya mengatakan, sosok Imam Hatim Al-Ashom dikenal sebagai ulama dengan nasehat-nasehat indah. Hampir dipastikan, jika membaca kumpulan nasihat dari para ulama, selalu ada "quote" terselip yang merupakan untaian nasihatnya. Beliau pun pernah digelari sebagai "لقمان هذه الأمة" atau Lukmanul Hakimnya umat ini. [Wafayatul A’yan (2/28)]
Lalu mengapa Imam Hatim dijuluki si tuli? Dikisahkan, pernah seorang wanita datang kepada beliau untuk bertanya tentang sebuah hukum. Namun, saat wanita itu tengah mengutarakan pertanyaan kepada Imam Hatim, entah karena sedang tidak enak perut, tiba-tiba ia kentut.
Bisa dibayangkan bagaimana rasa malu yang begitu hebat membebani wanita ini. Seketika ia terdiam tidak bisa meneruskan kata-katanya di hadapan sang imam. Sejenak suasana hening. Tiba-tiba Imam Hatim berkata: "Bicaralah aku tidak mendengar ucapanmu."
Wanita ini berbicara dengan nada gamang karena beban malu yang ia tanggung. Namun baru beberapa kalimat, Iimam Hatim kembali menyela, "Angkat suaramu aku tidak bisa mendengar ucapanmu."
Dan uniknya, ketika wanita ini mulai mengeraskan suara. Tak lama Imam Hatim menyela untuk menambah lagi volume suaranya. Ini terjadi berkali-kali, hingga wanita itu mengira bahwa Imam Hatim ini terganggu pendengarannya.
Perasaannya pun berangsur membaik dan ia bersyukur karena Imam Hatim ternyata tidak mendengar suara saat ia buang angin. Terbukti suara yang lebih keras saja, ia masih meminta untuk dikeraskan lagi.
Singkat cerita, setelah lewat cara berbicara yang setengah teriak-teriak itu, akhirnya wanita itu bisa keluar dari rumah Imam Hatim dengan membawa jawaban fatwa atas persoalannya. Wanita ini dengan pedenya pergi dan mengira bahwa bunyi kentutnya memang tidak didengar oleh Imam Hatim.
Beliau adalah Abu Abdurrahman Hatim ibn Alwan bin Yusuf rahimahullah, atau lebih dikenal dengan Imam Hatim Al-Ashom yang artinya Hatim si tuli. Mengapa beliau dilabeli dengan sebutan tuli? Tentu tidak sopan menyebut orang tuli meskipun ia benar-benar tulis apalagi seorang ulama.
Julukan itu tidak ada kaitannya dengan fungsi pendengaran beliau. Sang ulama generasi Tabi'ut Tabi'in ini memiliki pendengaran normal bahkan tajam. Adapun julukan Al-Ashom atau tuli tersebut memiliki kisah yang sarat hikmah.
Dai lulusan Al-Azhar Mesir Ustaz Ahmad Syahrin Thoriq dalam satu kajiannya mengatakan, sosok Imam Hatim Al-Ashom dikenal sebagai ulama dengan nasehat-nasehat indah. Hampir dipastikan, jika membaca kumpulan nasihat dari para ulama, selalu ada "quote" terselip yang merupakan untaian nasihatnya. Beliau pun pernah digelari sebagai "لقمان هذه الأمة" atau Lukmanul Hakimnya umat ini. [Wafayatul A’yan (2/28)]
Lalu mengapa Imam Hatim dijuluki si tuli? Dikisahkan, pernah seorang wanita datang kepada beliau untuk bertanya tentang sebuah hukum. Namun, saat wanita itu tengah mengutarakan pertanyaan kepada Imam Hatim, entah karena sedang tidak enak perut, tiba-tiba ia kentut.
Bisa dibayangkan bagaimana rasa malu yang begitu hebat membebani wanita ini. Seketika ia terdiam tidak bisa meneruskan kata-katanya di hadapan sang imam. Sejenak suasana hening. Tiba-tiba Imam Hatim berkata: "Bicaralah aku tidak mendengar ucapanmu."
Wanita ini berbicara dengan nada gamang karena beban malu yang ia tanggung. Namun baru beberapa kalimat, Iimam Hatim kembali menyela, "Angkat suaramu aku tidak bisa mendengar ucapanmu."
Dan uniknya, ketika wanita ini mulai mengeraskan suara. Tak lama Imam Hatim menyela untuk menambah lagi volume suaranya. Ini terjadi berkali-kali, hingga wanita itu mengira bahwa Imam Hatim ini terganggu pendengarannya.
Perasaannya pun berangsur membaik dan ia bersyukur karena Imam Hatim ternyata tidak mendengar suara saat ia buang angin. Terbukti suara yang lebih keras saja, ia masih meminta untuk dikeraskan lagi.
Singkat cerita, setelah lewat cara berbicara yang setengah teriak-teriak itu, akhirnya wanita itu bisa keluar dari rumah Imam Hatim dengan membawa jawaban fatwa atas persoalannya. Wanita ini dengan pedenya pergi dan mengira bahwa bunyi kentutnya memang tidak didengar oleh Imam Hatim.
Lihat Juga :