Al-Fitnat Al-Kubra: Lahirnya Golongan Khawarij, Syiah dan Sunnah
Sabtu, 04 Februari 2023 - 14:57 WIB
loading...
A
A
A
Bahkan ada tanda-tanda bahwa problematika kaum Khawarij itu, sebagaimana dahulu muncul dalam sistem kalam kaum Mu'tazilah, kini menunjukkan daya tarik dan vitalitasnya di kalangan sebagian kaum Muslim "liberal", dalam arti lebih banyak menunjukkan sikap kritis dan mungkin ingin lepas dari kukungan tatanan mapan sosial-keagamaan yang ada.
Baca juga: Kisah Pembangkangan Muawiyah kepada Khalifah Ali bin Abi Thalib
Tahun Persatuan
Perkembangan lebih lanjut masyarakat Islam setelah terbunuhuya Ali oleh kaum Khawarij ialah pengakuan dan dukungan hampir universal masyarakat kepada kekuasaan Mu'awiyah di Damaskus, sekurang-kurangnya secara de facto. Terutama pada tahun 41 Hijriyah, ummat Islam di bawah Mu'awiyah dapat dikatakan kembali kepada keutuhannya yang semula, dan orang dengan penuh harapan menyebut tahun itu sebagai "Tahun Persatuan" (Amal-Jama'ah).
Al-Syaykh Muhammad al-Hudlari Bek dalam Tarikh al-Tasri al-Islami mengatakan kala itu hampir semua kelompok Islam mengakui kekuasaan de facto Mu'awiyah, maka tahun 41 Hijri disebut "Tahun Persatuan" ('Am al Jama'ah).
Dengan modal persatuan itu Mu'awiyah dapat melanjutkan program-program ekspansi militer dan politik yang sempat tertunda beberapa lama oleh adanya fitnah.
Mu'awiyah ternyata menunjukkan kecakapan memerintah yang mengesankan, sehingga para ahli sejarah ada yang mengatakan sebagai Khalifah Islam yang kedua terbesar, yakni, sesudah Umar Ibn al-Khattab.
Hanya saja, setelah Mu'awiyah meninggal, keadaan kembali kepada kekacauannya yang semula. Dengan maksud untuk tidak mengambil risiko yang dapat mengganggu "keseimbangan rawan" (delicate balance) susunan masyarakat Islam yang ada dan yang diperoleh dengan banyak pengorbanan itu, sudah sejak semula dalam kekhalifahannya Mu'awiyah meminta agar masyarakat menyetujui untuk mengangkat Yazid, anak sendiri, sebagai penggantinya.
Sebagian besar masyarakat Islam menyetujui ide itu, dan Yazid pun dinyatakan sebagai Khalifah. Tetapi kekhalifahan Yazid yang memang tidak banyak memenuhi gambaran ideal seorang penguasa Muslim itu segera mengundang munculnya kembali pertentangan-pertentangan laten.
Baca juga: Muawiyah Masuk Islam pada Peristiwa Umrah Qadha'?
Fitnah Kedua
Tantangan terhadap Yazid mula-mula datang dari para pendukung Ali yang memang nampak selalu siap menggunakan setiap kesempatan. Sesungguhnya mereka berharap, sepeninggal Ali, agar Hasan, anaknya, mempertahankan klaim kekhalifahan, menghadapi Mu'awiyah di Damaskus. Tetapi Hasan mengecewakan mereka dengan sikapnya yang lebih senang turun dari klaim itu dan hidup hampir menyendiri secara damai di Madinah.
Maka harapan para pendukung Ali kini ditujukan kepada Husain, saudara Hasan, yang mereka undang untuk memberontak di Kufah, Irak. Tetapi, sebelum tentera Syria datang menyerbu, banyak kalangan penduduk Kufah sendiri yang menarik dukungannya kepada Husain, setelah berhasil dibujuk oleh gubernur Syria.
Husain dengan kekuatan tenteranya yang kecil menolak untuk menyerah, dan mereka ini terkucilkan di padang pasir Karbala, dekat Kufah. Tentera Yazid menghancurkan mereka, dan Husain, putera Ali dan Fathimah, cucu Nabi, terbunuh secara amat kejam dan tragis.
Terbunuhnya Husain, seperti terbunuhnya Utsman sebelumnya, merupakan peristiwa terpenting dalam fitnah kedua, yang mempunyai dampak amat luas dan mendalam pada sistem sosial-keagamaan Islam sampai sekarang.
Adalah sejak peristiwa Karabala itu para pendukung setia Ali dan keturunannya dikenal dengan sebutan kaum Syi'ah (yang sebetulnya lengkapnya ialah syi'ah Ali. "Partai Ali").
Dengan menggunakan sentimen umum terhadap kematian tragis Husain, kaum Syi'ah perlahan-lahan mengkonsolidasikan diri dan mengembangkan pandangan-pandangan sosial-politik keagamaan yang kelak menjadi dasar sistem doktrinal Syi'isme.
Baca juga: Kisah Terbelahnya Orientasi Fiqih di Era Muawiyah
Abdullah Ibnu al-Zubair
Yazid tidak hanya menghadapi tantangan dari kaum Syi'ah. Di Mekkah bangkit Abdullah ibn al-Zubair (ibn al-Awwam) yang ayahnya dahulu pernah menentang Ali bersama A'isyah dan kalah kini bangkit menentang Yazid dengan cukup efektif.
Yazid tidak bisa mengatasinya, dan setelah penguasa Damaskus ini meninggal sesudah menjabat sebagai khalifah selama sekitar tiga tahun saja, Abdullah oleh sebagian besar umat diakui sebagai khalifah yang sah, dengan Mekkah sebagai ibukota.
Tetapi Abdullah tidak menikmati kekuasaan yang mantap. Di luar kota Mekkah sendiri, meliputi sebagian besar pedalaman Jazirah Arabia, khususnya di daerah pedesaan atau badawah, kekuasaan berada di tangan kaum Khawarij yang seperti selama ini melancarkan perang "hit and run" terhadap Abdullah ibn al-Zubair.
Sebenarnya kaum Khawarij ini hampir berhasil menghidupkan beberapa nilai yang diajarkan oleh Nabi, khususnya paham persamaan umat manusia. Egalitarianisme mereka telah membuat mereka termasuk yang pertama dalam sejarah Islam yang tidak membeda bedakan antara Muslim Arab dan Muslim bukan-Arab. Dan politik mereka yang menerapkan prinsip nonintervensi terhadap kelompok-kelompok bukan-Muslim, dengan membiarkan mereka dalam otonomi penuh mengurus kepentingan mereka sendiri, telah membuat kaum Khawarij cukup favorable di mata kaum non-muslim.
Hanya saja, kaum Khawarij gagal memperoleh dukungan dari kalangan Muslim yang lebih terorganisir di kota-kota. Kebiasaan mereka untuk melakukan gerilya dalam kelompok-kelompok penyerang yang disusun seperti sistem kabilah sebelum Islam (masa Jahiliyah) telah mengundang antipati orang-orang kota.
Baca juga: Kisah Pembangkangan Muawiyah kepada Khalifah Ali bin Abi Thalib
Tahun Persatuan
Perkembangan lebih lanjut masyarakat Islam setelah terbunuhuya Ali oleh kaum Khawarij ialah pengakuan dan dukungan hampir universal masyarakat kepada kekuasaan Mu'awiyah di Damaskus, sekurang-kurangnya secara de facto. Terutama pada tahun 41 Hijriyah, ummat Islam di bawah Mu'awiyah dapat dikatakan kembali kepada keutuhannya yang semula, dan orang dengan penuh harapan menyebut tahun itu sebagai "Tahun Persatuan" (Amal-Jama'ah).
Al-Syaykh Muhammad al-Hudlari Bek dalam Tarikh al-Tasri al-Islami mengatakan kala itu hampir semua kelompok Islam mengakui kekuasaan de facto Mu'awiyah, maka tahun 41 Hijri disebut "Tahun Persatuan" ('Am al Jama'ah).
Dengan modal persatuan itu Mu'awiyah dapat melanjutkan program-program ekspansi militer dan politik yang sempat tertunda beberapa lama oleh adanya fitnah.
Mu'awiyah ternyata menunjukkan kecakapan memerintah yang mengesankan, sehingga para ahli sejarah ada yang mengatakan sebagai Khalifah Islam yang kedua terbesar, yakni, sesudah Umar Ibn al-Khattab.
Hanya saja, setelah Mu'awiyah meninggal, keadaan kembali kepada kekacauannya yang semula. Dengan maksud untuk tidak mengambil risiko yang dapat mengganggu "keseimbangan rawan" (delicate balance) susunan masyarakat Islam yang ada dan yang diperoleh dengan banyak pengorbanan itu, sudah sejak semula dalam kekhalifahannya Mu'awiyah meminta agar masyarakat menyetujui untuk mengangkat Yazid, anak sendiri, sebagai penggantinya.
Sebagian besar masyarakat Islam menyetujui ide itu, dan Yazid pun dinyatakan sebagai Khalifah. Tetapi kekhalifahan Yazid yang memang tidak banyak memenuhi gambaran ideal seorang penguasa Muslim itu segera mengundang munculnya kembali pertentangan-pertentangan laten.
Baca juga: Muawiyah Masuk Islam pada Peristiwa Umrah Qadha'?
Fitnah Kedua
Tantangan terhadap Yazid mula-mula datang dari para pendukung Ali yang memang nampak selalu siap menggunakan setiap kesempatan. Sesungguhnya mereka berharap, sepeninggal Ali, agar Hasan, anaknya, mempertahankan klaim kekhalifahan, menghadapi Mu'awiyah di Damaskus. Tetapi Hasan mengecewakan mereka dengan sikapnya yang lebih senang turun dari klaim itu dan hidup hampir menyendiri secara damai di Madinah.
Maka harapan para pendukung Ali kini ditujukan kepada Husain, saudara Hasan, yang mereka undang untuk memberontak di Kufah, Irak. Tetapi, sebelum tentera Syria datang menyerbu, banyak kalangan penduduk Kufah sendiri yang menarik dukungannya kepada Husain, setelah berhasil dibujuk oleh gubernur Syria.
Husain dengan kekuatan tenteranya yang kecil menolak untuk menyerah, dan mereka ini terkucilkan di padang pasir Karbala, dekat Kufah. Tentera Yazid menghancurkan mereka, dan Husain, putera Ali dan Fathimah, cucu Nabi, terbunuh secara amat kejam dan tragis.
Terbunuhnya Husain, seperti terbunuhnya Utsman sebelumnya, merupakan peristiwa terpenting dalam fitnah kedua, yang mempunyai dampak amat luas dan mendalam pada sistem sosial-keagamaan Islam sampai sekarang.
Adalah sejak peristiwa Karabala itu para pendukung setia Ali dan keturunannya dikenal dengan sebutan kaum Syi'ah (yang sebetulnya lengkapnya ialah syi'ah Ali. "Partai Ali").
Dengan menggunakan sentimen umum terhadap kematian tragis Husain, kaum Syi'ah perlahan-lahan mengkonsolidasikan diri dan mengembangkan pandangan-pandangan sosial-politik keagamaan yang kelak menjadi dasar sistem doktrinal Syi'isme.
Baca juga: Kisah Terbelahnya Orientasi Fiqih di Era Muawiyah
Abdullah Ibnu al-Zubair
Yazid tidak hanya menghadapi tantangan dari kaum Syi'ah. Di Mekkah bangkit Abdullah ibn al-Zubair (ibn al-Awwam) yang ayahnya dahulu pernah menentang Ali bersama A'isyah dan kalah kini bangkit menentang Yazid dengan cukup efektif.
Yazid tidak bisa mengatasinya, dan setelah penguasa Damaskus ini meninggal sesudah menjabat sebagai khalifah selama sekitar tiga tahun saja, Abdullah oleh sebagian besar umat diakui sebagai khalifah yang sah, dengan Mekkah sebagai ibukota.
Tetapi Abdullah tidak menikmati kekuasaan yang mantap. Di luar kota Mekkah sendiri, meliputi sebagian besar pedalaman Jazirah Arabia, khususnya di daerah pedesaan atau badawah, kekuasaan berada di tangan kaum Khawarij yang seperti selama ini melancarkan perang "hit and run" terhadap Abdullah ibn al-Zubair.
Sebenarnya kaum Khawarij ini hampir berhasil menghidupkan beberapa nilai yang diajarkan oleh Nabi, khususnya paham persamaan umat manusia. Egalitarianisme mereka telah membuat mereka termasuk yang pertama dalam sejarah Islam yang tidak membeda bedakan antara Muslim Arab dan Muslim bukan-Arab. Dan politik mereka yang menerapkan prinsip nonintervensi terhadap kelompok-kelompok bukan-Muslim, dengan membiarkan mereka dalam otonomi penuh mengurus kepentingan mereka sendiri, telah membuat kaum Khawarij cukup favorable di mata kaum non-muslim.
Hanya saja, kaum Khawarij gagal memperoleh dukungan dari kalangan Muslim yang lebih terorganisir di kota-kota. Kebiasaan mereka untuk melakukan gerilya dalam kelompok-kelompok penyerang yang disusun seperti sistem kabilah sebelum Islam (masa Jahiliyah) telah mengundang antipati orang-orang kota.
Lihat Juga :