Kisah Sufi, Ketika Kebenaran Mencoba Mewujudkan Dirinya Sendiri
Jum'at, 10 Februari 2023 - 16:27 WIB
loading...
Kisah ini menggambarkan, di samping hal lainnya, tema kesukaan Sufi bahwa kebenaran mencoba mewujudkan dirinya sendiri bagi manusia. Foto/Ilustrasi: Ist
A
A
A
Kisah sufi berikut ini dinukil dari buku berjudul "Tales of The Dervishes" karya Idries Shah yang diterjemahkan Ahmad Bahar menjadi "Harta Karun dari Timur Tengah - Kisah Bijak Para Sufi".
Kisah ini menggambarkan, di samping hal lainnya, tema kesukaan Sufi bahwa kebenaran 'mencoba mewujudkan dirinya sendiri' bagi manusia dan bahwa kebenaran itu muncul lagi dan lagi bagi setiap orang secara tersamar yang membuatnya sulit ditembus dan sekilas mungkin tidak berhubungan satu sama lain.
Hanya dengan mengembangkan suatu 'kemampuan khusus', yang bisa memungkinkan manusia tetap mengikuti proses yang tak kasat mata ini.
Baca juga: Kisah Sufi, Putri yang Tidak Patuh
Berikut kisah tersebut:
Ada seorang bernama Saifulmuluk yang mempergunakan sebagian hidupnya untuk mencari kebenaran. Dibacanya semua buku tentang kebijaksanaan kuno yang bisa didapatnya. Orang itu pun mengadakan perjalanan ke setiap negeri untuk mendengar pengajaran dari para guru kerohanian. Siang hari ia bekerja, malamnya ia merenungkan Misteri Agung.
Pada suatu hari, ia mendengar tentang seorang guru lain yang belum ditemuinya, Pujangga Agung Ansari, yang tinggal di Kota Herat. Si pencari kebenaran itu pun segera ke sana, dan sampailah ia di depan pintu Sang Bijak. Di pintu itu, berlawanan dengan harapannya, tertera suatu pengumuman aneh: "Di sini Dijual Pengetahuan."
"Pasti ada yang keliru, atau, mungkin pengumuman itu disengaja agar pencari kebenaran yang setengah hati itu mengurungkan niatnya," batinnya, "sebab belum pernah kudengar dikatakan pengetahuan bisa dibeli atau dijual." Lalu, ia pun masuk ke dalam rumah itu.
Baca juga: Kisah Sufi: Berharga dan Tak Berharga
Di pelataran dalam rumah, tampak Ansari, yang bungkuk karena usia, sedang menulis sajak. "Apakah Saudara datang mau membeli pengetahuan?' tanya Sang Agung. Saiful pun mengangguk. Ansari mengatakan padanya untuk menyediakan sebanyak mungkin uang yang dimilikinya. Lalu, Saiful pun mengeluarkan semua uangnya, sejumlah seratus keping uang perak.
"Dengan uang segitu," kata Ansari, "Saudara bisa mendapat tiga nasihat."
"Apa ini sungguhan?" tanya Saifulmuluk, "Kenapa Guru perlu uang, kalau Guru seorang sederhana dan mengabdi?'
"Kita hidup dalam dunia, yang dikelilingi oleh kenyataan-kenyataan bendawi," kata orang itu, "dan pengetahuan yang kumiliki memberiku tanggung jawab baru yang besar. Sebab aku mengetahui perihal tertentu yang orang lain tidak ketahui, aku harus menggunakan uang, di antara hal lainnya, agar bisa mengabdi ketika kata atau latihan 'berkah' ('baraka') tidak perlu ditunjukkan."
Sang Bijak itu lalu mengambil uang perak tersebut dan berkata, "Dengarkan baik-baik."
"Nasihat pertama: 'Awan tipis isyarat bahaya.'"
"Tetapi, inikah pengetahuan itu?" tanya Saifulmuluk. "Nasihat tadi tampaknya tidak menjelaskan padaku mengenai sifat kebenaran puncak, atau perihal kedudukan manusia dalam dunia."
"Kalau Saudara terus menyanggahku," kata Orang Bijak itu, "silakan Saudara ambil kembali uang itu dan pergi. Apa pula gunanya pengetahuan tentang tempat manusia dalam dunia, kalau manusia itu mati?"
Saifulmuluk terdiam, dan dinantinya nasihat kedua.
Baca juga: Kisah Sufi: Ketika Setan Kehilangan Pekerjaan
Nasihat yang kedua: "Kalau Saudara bisa menemukan seekor burung, kucing, dan anjing pada satu tempat, tangkaplah dan pelihara mereka sampai akhir."
"Nasihat yang aneh," pikir Saifulmuluk, "tetapi mungkin nasihat itu mengandung makna mendalam yang baru akan kupahami jika kurenungkan cukup lama."
Jadi ia tetap tenang saja hingga Si Tua itu mengatakan nasihat terakhir:
"Kalau Saudara mengalami hal tertentu yang tampak tidak masuk akal, tetaplah berpegang teguh pada nasihat terdahulu, hanya dengan begitu sebuah pintu akan terbuka bagi Saudara. Lalu, masukilah pintu itu."
Saifulmuluk masih ingin tinggal dan mengikuti Sang Guru yang mengherankan itu, tetapi Ansari dengan agak memaksa menyuruhnya pergi.
Si pencari kebenaran itu pun melanjutkan pengembaraannya, dan pergi ke Kashmir untuk belajar kepada seorang guru di sana. Ketika berjalan lewat Asia Tengah lagi, Saifulmuluk sampai di sebuah pasar di Bokhara ketika sedang diadakan lelang.
Seorang lelaki terlihat membawa seekor kucing, burung, dan anjing yang baru saja dibelinya. "Kalau saja aku tak berlama-lama di Kashmir kemarin," pikir Saifulmuluk, "tentu aku sempat membeli binatang-binatang itu, yang pastilah merupakan bagian dari takdirku."
Kisah ini menggambarkan, di samping hal lainnya, tema kesukaan Sufi bahwa kebenaran 'mencoba mewujudkan dirinya sendiri' bagi manusia dan bahwa kebenaran itu muncul lagi dan lagi bagi setiap orang secara tersamar yang membuatnya sulit ditembus dan sekilas mungkin tidak berhubungan satu sama lain.
Hanya dengan mengembangkan suatu 'kemampuan khusus', yang bisa memungkinkan manusia tetap mengikuti proses yang tak kasat mata ini.
Baca juga: Kisah Sufi, Putri yang Tidak Patuh
Berikut kisah tersebut:
Ada seorang bernama Saifulmuluk yang mempergunakan sebagian hidupnya untuk mencari kebenaran. Dibacanya semua buku tentang kebijaksanaan kuno yang bisa didapatnya. Orang itu pun mengadakan perjalanan ke setiap negeri untuk mendengar pengajaran dari para guru kerohanian. Siang hari ia bekerja, malamnya ia merenungkan Misteri Agung.
Pada suatu hari, ia mendengar tentang seorang guru lain yang belum ditemuinya, Pujangga Agung Ansari, yang tinggal di Kota Herat. Si pencari kebenaran itu pun segera ke sana, dan sampailah ia di depan pintu Sang Bijak. Di pintu itu, berlawanan dengan harapannya, tertera suatu pengumuman aneh: "Di sini Dijual Pengetahuan."
"Pasti ada yang keliru, atau, mungkin pengumuman itu disengaja agar pencari kebenaran yang setengah hati itu mengurungkan niatnya," batinnya, "sebab belum pernah kudengar dikatakan pengetahuan bisa dibeli atau dijual." Lalu, ia pun masuk ke dalam rumah itu.
Baca juga: Kisah Sufi: Berharga dan Tak Berharga
Di pelataran dalam rumah, tampak Ansari, yang bungkuk karena usia, sedang menulis sajak. "Apakah Saudara datang mau membeli pengetahuan?' tanya Sang Agung. Saiful pun mengangguk. Ansari mengatakan padanya untuk menyediakan sebanyak mungkin uang yang dimilikinya. Lalu, Saiful pun mengeluarkan semua uangnya, sejumlah seratus keping uang perak.
"Dengan uang segitu," kata Ansari, "Saudara bisa mendapat tiga nasihat."
"Apa ini sungguhan?" tanya Saifulmuluk, "Kenapa Guru perlu uang, kalau Guru seorang sederhana dan mengabdi?'
"Kita hidup dalam dunia, yang dikelilingi oleh kenyataan-kenyataan bendawi," kata orang itu, "dan pengetahuan yang kumiliki memberiku tanggung jawab baru yang besar. Sebab aku mengetahui perihal tertentu yang orang lain tidak ketahui, aku harus menggunakan uang, di antara hal lainnya, agar bisa mengabdi ketika kata atau latihan 'berkah' ('baraka') tidak perlu ditunjukkan."
Sang Bijak itu lalu mengambil uang perak tersebut dan berkata, "Dengarkan baik-baik."
"Nasihat pertama: 'Awan tipis isyarat bahaya.'"
"Tetapi, inikah pengetahuan itu?" tanya Saifulmuluk. "Nasihat tadi tampaknya tidak menjelaskan padaku mengenai sifat kebenaran puncak, atau perihal kedudukan manusia dalam dunia."
"Kalau Saudara terus menyanggahku," kata Orang Bijak itu, "silakan Saudara ambil kembali uang itu dan pergi. Apa pula gunanya pengetahuan tentang tempat manusia dalam dunia, kalau manusia itu mati?"
Saifulmuluk terdiam, dan dinantinya nasihat kedua.
Baca juga: Kisah Sufi: Ketika Setan Kehilangan Pekerjaan
Nasihat yang kedua: "Kalau Saudara bisa menemukan seekor burung, kucing, dan anjing pada satu tempat, tangkaplah dan pelihara mereka sampai akhir."
"Nasihat yang aneh," pikir Saifulmuluk, "tetapi mungkin nasihat itu mengandung makna mendalam yang baru akan kupahami jika kurenungkan cukup lama."
Jadi ia tetap tenang saja hingga Si Tua itu mengatakan nasihat terakhir:
"Kalau Saudara mengalami hal tertentu yang tampak tidak masuk akal, tetaplah berpegang teguh pada nasihat terdahulu, hanya dengan begitu sebuah pintu akan terbuka bagi Saudara. Lalu, masukilah pintu itu."
Saifulmuluk masih ingin tinggal dan mengikuti Sang Guru yang mengherankan itu, tetapi Ansari dengan agak memaksa menyuruhnya pergi.
Si pencari kebenaran itu pun melanjutkan pengembaraannya, dan pergi ke Kashmir untuk belajar kepada seorang guru di sana. Ketika berjalan lewat Asia Tengah lagi, Saifulmuluk sampai di sebuah pasar di Bokhara ketika sedang diadakan lelang.
Seorang lelaki terlihat membawa seekor kucing, burung, dan anjing yang baru saja dibelinya. "Kalau saja aku tak berlama-lama di Kashmir kemarin," pikir Saifulmuluk, "tentu aku sempat membeli binatang-binatang itu, yang pastilah merupakan bagian dari takdirku."
Lihat Juga :