Kisah Sufi, Ketika Kebenaran Mencoba Mewujudkan Dirinya Sendiri
Jum'at, 10 Februari 2023 - 16:27 WIB
loading...
A
A
A
Kemudian, ia mulai khawatir, sebab meskipun telah dilihatnya bersamaan burung, kucing, dan anjing itu, ia belum menyaksikan segaris awan kecil. Segalanya tampak serba salah baginya. Satu hal yang menenangkannya adalah ketika dibacanya dalam catatannya, nasihat seorang Guru Agung: 'Hal-hal terjadi dalam urutan. Orang membayangkannya berlangsung dalam kaidah tertentu. Tetapi nyatanya, urutan itu kadang-kadang berbeda dari yang kita bayangkan."
Baca juga: Kisah Sufi Amil-Baba: Gerbang Surga
Kemudian, orang itu menyadari bahwa meskipun ketiga binatang tadi telah dibeli di sebuah lelang, sebenarnya Ansari tidak mengatakan padanya untuk membeli ketiganya di sebuah lelang. Ia tak mengingat isi nasihat itu, 'Kalau Saudara bisa menemukan seekor burung, kucing, dan anjing pada satu tempat, tangkaplah dan peliharalah mereka sampai akhir.'
Jadi, mulailah Saifulmuluk mencari pembeli ketiga binatang tadi, kalau-kalau ketiganya masih berada 'pada satu tempat'.
Setelah bertanya ke sana ke mari, tahulah ia bahwa lelaki itu bernama Ashikikhuda, dan bahwa ketiga binatang itu dibelinya hanya untuk melepaskan mereka dari penderitaan terkurung dalam sangkar selama lelang berlangsung, yang telah beberapa minggu lamanya, menanti seorang pembeli. Ketiganya masih berada 'pada satu tempat' dan Ashikikhuda sangat senang bisa menjualnya kepada Saifulmuluk.
Si pencari kebernaran itu pun tinggal di Bokhara, sebab tidak mungkin baginya berkelana bersama ketiga binatang itu. Setiap hari ia bekerja di sebuah pabrik pemintalan wol, malam harinya pulang membawa makanan bagi ketiga binatang tadi. Waktu berlalu selama tiga tahun.
Pada suatu hari, ketika ia telah menjadi seorang ahli pintal, dan hidup sebagai anggota terhormat dalam masyarakat itu bersama ketiga binatang peliharaannya, Saifulmuluk berjalan-jalan ke pinggiran kota dan dilihatnya setipis awan, melayang-layang hampir di kaki langit. Pemandangan awan yang aneh itu menyentak ingatannya, dan Nasihat Pertama Sang Bijak pun teringat kembali, 'Awan tipis isyarat bahaya.'
Saifulmuluk pun segera pulang ke rumahnya, mengambil binatang peliharaannya dan bergegas melarikan diri ke arah barat. Ia sampai di Isfahan hampir tanpa sepeser uang pun. Berhari-hari kemudian tahulah ia bahwa awan yang dilihatnya itu ternyata debu derap kuda gerombolan penakluk, yang menyerbu Bokhara dan membunuh semua penduduknya.
Dan, nasihat Ansari muncul dalam ingatannya, 'Apa pula gunanya pengetahuan tentang tempat manusia dalam dunia kalau manusia itu mati?'
Baca juga: Kisah Sufi Suhrawardi: Burung dan Telur
Orang-orang Isfahan tak peduli pada ketiga binatang dan orang asing yang pemintal wol itu; dan dalam waktu lama, Saifulmuluk pun hidup melarat. Ia pun berlutut di tanah sambil menangis, "O, Para Penerus Sang Agung! O, Yang Agung! Engkau yang telah Berubah! Datang dan bantulah aku, sebab keadaanku sudah terpuruk; aku tak sanggup lagi mencari sendiri makanan, dan binatang peliharaanku kelaparan dan haus."
Sementara berbaring di sana, antara sadar dan lelap, perutnya terasa perih karena lapar, dan ia pun telah pasrah kepada takdirnya. Tiba-tiba, dilihatnya suatu bayangan yang tampak betul-betul nyata. Bayangan itu berbentuk sebuah cincin emas, bertahtakan batu berlian mengkilap, yang memancarkan api, bersinar bagai lautan cahaya pendar, dan dari kedalamannya terpencar nyala kehijauan.
Lalu, terdengar sebuah suara, sepertinya suara, berkata, "Itu adalah mahkota emas sepanjang zaman, Samir Kebenaran, Cincin agung Raja Sulaiman, anak Daud, yang atasnya kedamaian turun, yang rahasianya tetap tersimpan."
Ketika dilihatnya sekeliling, Saifulmuluk menyaksikan cincin itu menggelinding ke dalam sebuah celah di tanah. Tampaknya ia berada di dekat sebuah sungai, di bawah sebuah pohon, dekat sebongkah batu besar yang bentuknya aneh.
Keesokan paginya, setelah cukup istirahat dan lebih mampu menahan laparnya, Saifulmuluk mulai menyusuri Kota Isfahan. Lalu, ketika harapannya telah mengendor karena sejumlah alasan, dilihatnya sungai, pohon, dan batu itu. Di bawah batu itu ada sebuah celah. Dalam celah itu, dengan memasukkan sebuah tongkat, ia temukan cincin yang telah dilihatnya dalam penglihatan aneh tadi.
Sambil mencuci cincin itu di sungai, Saifulmuluk berkata, "Kalau benar ini Cincin Sulaiman Yang Agung, Yang Terhormat itu, berilah aku, wahai Roh Cincin, sebuah akhir yang berguna bagi kesulitan-kesulitanku."
Baca juga: Kisah Sufi: Keperluan yang Kian Mendesak
Tiba-tiba bumi seolah-olah tergoncang, dan seakan ada suara laksana angin puyuh menggema di kupingnya, "Selama berabad-abad, Saifulmuluk yang baik, kami mencurahkan atasmu kedamaian. Tuan adalah pewaris kekuasaan Sulaiman, Putra Daud, yang atasnya kedamaian, Penguasa Para Jin dan Manusia; dan aku ini Hamba Cincin. Perintahkanlah aku, Tuan Saifulmuluk, Tuanku!"
"Bawa kemari binatang peliharaanku, dan beri mereka makan," kata Saifulmuluk seketika, sambil tak lupa menambahkan, "Atas Nama Agung dan atas Nama Sulaiman, Tuan kita, Penguasa Bangsa Jin dan Manusia, yang baginya segala hormat!"
Belum lagi kalimat itu selesai diucapkannya, ketiga binatang peliharaannya itu telah ada di sana dan masing-masing telah disediakan makanan, yang paling mereka sukai.
Kemudian, digosoknya lagi cincin itu, dan Roh Cincin pun kembali menjawabnya, seperti suara ramai di telinganya.
"Perintahkanlah hamba, dan apa pun keinginan Tuan pasti terwujud, kecuali apa yang tidak bisa dilakukan, Pemilik Cincin."
"Katakan padaku, dalam Nama Sulaiman (damai atasnya!) inikah akhir itu? Sebab aku harus memelihara ketiga temanku ini, ketiga binatang ini, sampai akhir, sesuai dengan perintah guruku, Khaja Ansar dari Herat."
"Belum," sahut Roh itu, "ini belum akhir."
Baca juga: Kisah Sufi: Bukti Cinta Pada Nabi
Saifulmuluk pun menetap di tempat itu, dan disuruhnya Jin itu membuatkan sebuah rumah kecil dan sebuah kandang bagi ketiga binatangnya; dilewatinya hari-harinya bersama mereka. Setiap hari, Jin itu menyediakan semua keperluan mereka, dan orang-orang yang lewat di situ kagum akan keagungan Saif Baba, 'Bapak Saif, sebagaimana biasa ia dipanggil, yang hidup tanpa apa pun, dikelilingi oleh hewan-hewan liar dan jinak'.
Baca juga: Kisah Sufi Amil-Baba: Gerbang Surga
Kemudian, orang itu menyadari bahwa meskipun ketiga binatang tadi telah dibeli di sebuah lelang, sebenarnya Ansari tidak mengatakan padanya untuk membeli ketiganya di sebuah lelang. Ia tak mengingat isi nasihat itu, 'Kalau Saudara bisa menemukan seekor burung, kucing, dan anjing pada satu tempat, tangkaplah dan peliharalah mereka sampai akhir.'
Jadi, mulailah Saifulmuluk mencari pembeli ketiga binatang tadi, kalau-kalau ketiganya masih berada 'pada satu tempat'.
Setelah bertanya ke sana ke mari, tahulah ia bahwa lelaki itu bernama Ashikikhuda, dan bahwa ketiga binatang itu dibelinya hanya untuk melepaskan mereka dari penderitaan terkurung dalam sangkar selama lelang berlangsung, yang telah beberapa minggu lamanya, menanti seorang pembeli. Ketiganya masih berada 'pada satu tempat' dan Ashikikhuda sangat senang bisa menjualnya kepada Saifulmuluk.
Si pencari kebernaran itu pun tinggal di Bokhara, sebab tidak mungkin baginya berkelana bersama ketiga binatang itu. Setiap hari ia bekerja di sebuah pabrik pemintalan wol, malam harinya pulang membawa makanan bagi ketiga binatang tadi. Waktu berlalu selama tiga tahun.
Pada suatu hari, ketika ia telah menjadi seorang ahli pintal, dan hidup sebagai anggota terhormat dalam masyarakat itu bersama ketiga binatang peliharaannya, Saifulmuluk berjalan-jalan ke pinggiran kota dan dilihatnya setipis awan, melayang-layang hampir di kaki langit. Pemandangan awan yang aneh itu menyentak ingatannya, dan Nasihat Pertama Sang Bijak pun teringat kembali, 'Awan tipis isyarat bahaya.'
Saifulmuluk pun segera pulang ke rumahnya, mengambil binatang peliharaannya dan bergegas melarikan diri ke arah barat. Ia sampai di Isfahan hampir tanpa sepeser uang pun. Berhari-hari kemudian tahulah ia bahwa awan yang dilihatnya itu ternyata debu derap kuda gerombolan penakluk, yang menyerbu Bokhara dan membunuh semua penduduknya.
Dan, nasihat Ansari muncul dalam ingatannya, 'Apa pula gunanya pengetahuan tentang tempat manusia dalam dunia kalau manusia itu mati?'
Baca juga: Kisah Sufi Suhrawardi: Burung dan Telur
Orang-orang Isfahan tak peduli pada ketiga binatang dan orang asing yang pemintal wol itu; dan dalam waktu lama, Saifulmuluk pun hidup melarat. Ia pun berlutut di tanah sambil menangis, "O, Para Penerus Sang Agung! O, Yang Agung! Engkau yang telah Berubah! Datang dan bantulah aku, sebab keadaanku sudah terpuruk; aku tak sanggup lagi mencari sendiri makanan, dan binatang peliharaanku kelaparan dan haus."
Sementara berbaring di sana, antara sadar dan lelap, perutnya terasa perih karena lapar, dan ia pun telah pasrah kepada takdirnya. Tiba-tiba, dilihatnya suatu bayangan yang tampak betul-betul nyata. Bayangan itu berbentuk sebuah cincin emas, bertahtakan batu berlian mengkilap, yang memancarkan api, bersinar bagai lautan cahaya pendar, dan dari kedalamannya terpencar nyala kehijauan.
Lalu, terdengar sebuah suara, sepertinya suara, berkata, "Itu adalah mahkota emas sepanjang zaman, Samir Kebenaran, Cincin agung Raja Sulaiman, anak Daud, yang atasnya kedamaian turun, yang rahasianya tetap tersimpan."
Ketika dilihatnya sekeliling, Saifulmuluk menyaksikan cincin itu menggelinding ke dalam sebuah celah di tanah. Tampaknya ia berada di dekat sebuah sungai, di bawah sebuah pohon, dekat sebongkah batu besar yang bentuknya aneh.
Keesokan paginya, setelah cukup istirahat dan lebih mampu menahan laparnya, Saifulmuluk mulai menyusuri Kota Isfahan. Lalu, ketika harapannya telah mengendor karena sejumlah alasan, dilihatnya sungai, pohon, dan batu itu. Di bawah batu itu ada sebuah celah. Dalam celah itu, dengan memasukkan sebuah tongkat, ia temukan cincin yang telah dilihatnya dalam penglihatan aneh tadi.
Sambil mencuci cincin itu di sungai, Saifulmuluk berkata, "Kalau benar ini Cincin Sulaiman Yang Agung, Yang Terhormat itu, berilah aku, wahai Roh Cincin, sebuah akhir yang berguna bagi kesulitan-kesulitanku."
Baca juga: Kisah Sufi: Keperluan yang Kian Mendesak
Tiba-tiba bumi seolah-olah tergoncang, dan seakan ada suara laksana angin puyuh menggema di kupingnya, "Selama berabad-abad, Saifulmuluk yang baik, kami mencurahkan atasmu kedamaian. Tuan adalah pewaris kekuasaan Sulaiman, Putra Daud, yang atasnya kedamaian, Penguasa Para Jin dan Manusia; dan aku ini Hamba Cincin. Perintahkanlah aku, Tuan Saifulmuluk, Tuanku!"
"Bawa kemari binatang peliharaanku, dan beri mereka makan," kata Saifulmuluk seketika, sambil tak lupa menambahkan, "Atas Nama Agung dan atas Nama Sulaiman, Tuan kita, Penguasa Bangsa Jin dan Manusia, yang baginya segala hormat!"
Belum lagi kalimat itu selesai diucapkannya, ketiga binatang peliharaannya itu telah ada di sana dan masing-masing telah disediakan makanan, yang paling mereka sukai.
Kemudian, digosoknya lagi cincin itu, dan Roh Cincin pun kembali menjawabnya, seperti suara ramai di telinganya.
"Perintahkanlah hamba, dan apa pun keinginan Tuan pasti terwujud, kecuali apa yang tidak bisa dilakukan, Pemilik Cincin."
"Katakan padaku, dalam Nama Sulaiman (damai atasnya!) inikah akhir itu? Sebab aku harus memelihara ketiga temanku ini, ketiga binatang ini, sampai akhir, sesuai dengan perintah guruku, Khaja Ansar dari Herat."
"Belum," sahut Roh itu, "ini belum akhir."
Baca juga: Kisah Sufi: Bukti Cinta Pada Nabi
Saifulmuluk pun menetap di tempat itu, dan disuruhnya Jin itu membuatkan sebuah rumah kecil dan sebuah kandang bagi ketiga binatangnya; dilewatinya hari-harinya bersama mereka. Setiap hari, Jin itu menyediakan semua keperluan mereka, dan orang-orang yang lewat di situ kagum akan keagungan Saif Baba, 'Bapak Saif, sebagaimana biasa ia dipanggil, yang hidup tanpa apa pun, dikelilingi oleh hewan-hewan liar dan jinak'.
Lihat Juga :