Hagia Shopia dan Akhlakul Karimah Umat Islam
Kamis, 16 Juli 2020 - 11:25 WIB
loading...
A
A
A
Pada akhirnya saya ingin menekankan lagi bahwa situasi dunia di mana kita hidup saat ini sangat berbeda dari masa-masa lalu. Dengan Deklarasi Universal PBB di tahun 1948 tentang Hak-Hak Dasar Manusia, termasuk di dalamnya Kebebasan Beragama (Religious Freedom), mau atau tidak, suka atau tidak, ijtihad-ijtihad agama yang tidak sesuai perlu untuk ditinjau kembali.
Jangan salah pahami saya. Pada kasus harta rampasan dan rumah ibadah, tidak ada ayat maupun hadis yang perlu ditinjau (wal-Iyadzu billah). Yang ada adalah melihat kembali pemahaman dan juga praktek agama dalam hal ini di masa lalu. Mungkin satu contoh yang sama adalah kasus tahanan wanita dalam peperangan. Di masa lalu wanita yang ditangkap dalam peperangan bisa dijadikan budak dengan segala isu terkait. Saya yakin semua setuju bahwa hal ini tidak lagi dapat diterima dalam dunia kita saat ini.
Sama halnya dengan pengambil alihan rumah ibadah orang lain sebagai bagian dari harta rampasan tadi. Selain nampak tidak sejalan dengan posisi dasar Islam , juga karena adanya tatanan dunia yang sangat berbeda.
Selain itu mari kita ingat, saat ini banyak negeri atau daerah Muslim yang sedang berada di bawah kekuasaan non Muslim. Anggaplah Palestina dan Kashmir. Tentu kita tidak ingin bahwa karena mereka merasa berkuasa lalu mengambil alih masjid-masjid menjadi rumah ibadah mereka.
Ingat pula, bahwa kebijakan di sebauh tempat atau negeri bisa berimbas atau berdampak pada tempat atau negeri yang lain. Dunia kita saat adalah dunia yang saling terikat, dan saling berdampak.
Kita akui memang pernah dan masih ada yang melakukan itu. Siapa yang tidak ingat masjid-masjid megah di Spanyol yang diubah menjadi gereja atau night club? Bahkan beberapa tahun lalu masjid bersejarah, Baabri, di India dirubuhkan untuk mereka bangun rumah ibadah Hindu di atas tanah itu.
Tapi harapan kita lingkaran kejahatan dan pelanggaran ini harus diputus oleh kita dengan menghentikan melakukan hal yang sama. Ibaratnya untuk menghentikan virus Corona maka perlu dihentikan pergerakan kejahatan (mengambil rumah ibadah orang lain) itu.
Di atas semua itu jangan pernah lupa moral ground agama ini dalam segala hal yang kita lakukan. Akhlakul karimah bukan sekedar sebuah konsep yang dibanggakan. Tapi harusnya dilaksanakan, apapun konsekwensinya.
Dengan akhlakul karimah inilah umat Islam di negara-negara mayoritas non Muslim banyak mengkonversi gereja-gereja menjadi masjid-masjid. Ratusan bahkan ribuan gereja dan rumah ibadah lainnya telah terkonversi menjadi masjid-masjid.
Karena ternyata memang akhlakul karimah itu sebuah kekuatan yang jauh lebih dahsyat dari sekedar letupan atau luapan emosi sesaat. Apalagi jika emosi itu hanya bagian dari impian sejarah dan kegemilangan masa lalu. Masanya bangkit. Bangkit dengan nilai ajaran mulia, al-akhlaq al-karimah kita. Insya Allah! (Baca Juga: Hagia Sophia dan Kehebatan Sultan Muhammad Al-Fatih )
New York, 15 Juli 2020
Jangan salah pahami saya. Pada kasus harta rampasan dan rumah ibadah, tidak ada ayat maupun hadis yang perlu ditinjau (wal-Iyadzu billah). Yang ada adalah melihat kembali pemahaman dan juga praktek agama dalam hal ini di masa lalu. Mungkin satu contoh yang sama adalah kasus tahanan wanita dalam peperangan. Di masa lalu wanita yang ditangkap dalam peperangan bisa dijadikan budak dengan segala isu terkait. Saya yakin semua setuju bahwa hal ini tidak lagi dapat diterima dalam dunia kita saat ini.
Sama halnya dengan pengambil alihan rumah ibadah orang lain sebagai bagian dari harta rampasan tadi. Selain nampak tidak sejalan dengan posisi dasar Islam , juga karena adanya tatanan dunia yang sangat berbeda.
Selain itu mari kita ingat, saat ini banyak negeri atau daerah Muslim yang sedang berada di bawah kekuasaan non Muslim. Anggaplah Palestina dan Kashmir. Tentu kita tidak ingin bahwa karena mereka merasa berkuasa lalu mengambil alih masjid-masjid menjadi rumah ibadah mereka.
Ingat pula, bahwa kebijakan di sebauh tempat atau negeri bisa berimbas atau berdampak pada tempat atau negeri yang lain. Dunia kita saat adalah dunia yang saling terikat, dan saling berdampak.
Kita akui memang pernah dan masih ada yang melakukan itu. Siapa yang tidak ingat masjid-masjid megah di Spanyol yang diubah menjadi gereja atau night club? Bahkan beberapa tahun lalu masjid bersejarah, Baabri, di India dirubuhkan untuk mereka bangun rumah ibadah Hindu di atas tanah itu.
Tapi harapan kita lingkaran kejahatan dan pelanggaran ini harus diputus oleh kita dengan menghentikan melakukan hal yang sama. Ibaratnya untuk menghentikan virus Corona maka perlu dihentikan pergerakan kejahatan (mengambil rumah ibadah orang lain) itu.
Di atas semua itu jangan pernah lupa moral ground agama ini dalam segala hal yang kita lakukan. Akhlakul karimah bukan sekedar sebuah konsep yang dibanggakan. Tapi harusnya dilaksanakan, apapun konsekwensinya.
Dengan akhlakul karimah inilah umat Islam di negara-negara mayoritas non Muslim banyak mengkonversi gereja-gereja menjadi masjid-masjid. Ratusan bahkan ribuan gereja dan rumah ibadah lainnya telah terkonversi menjadi masjid-masjid.
Karena ternyata memang akhlakul karimah itu sebuah kekuatan yang jauh lebih dahsyat dari sekedar letupan atau luapan emosi sesaat. Apalagi jika emosi itu hanya bagian dari impian sejarah dan kegemilangan masa lalu. Masanya bangkit. Bangkit dengan nilai ajaran mulia, al-akhlaq al-karimah kita. Insya Allah! (Baca Juga: Hagia Sophia dan Kehebatan Sultan Muhammad Al-Fatih )
New York, 15 Juli 2020
(rhs)
Lihat Juga :