Syaban Bulan Arwah dan Konsep Roh Imam Al-Ghazali
Kamis, 02 Maret 2023 - 17:22 WIB
loading...
A
A
A
Berbeda dalam pemahaman masyarakat muslim Jawa, Imam Al-Ghazali dalam Al-Araba‘in fi Ushul al-Din memahami roh sebagai al-jauhar al-‘arif al-mudrik min al-insan.
Baca juga: Perjalanan Ruh Setelah Terpisah Dari Jasadnya
Dalam struktur penyusun kehidupan manusia, roh (unsur batin) ini menurut Al-Ghazali memiliki posisi yang lebih penting ketimbang jasad (unsur fisik). Hal ini sebagaimana telah diisyaratkan dalam surah Shad [38] ayat 71-72 dan surah Al-isra’ [17] ayat 85, sekira Allah menyandarkan keberadaan roh kepada-Nya.
إِنِّي خَالِقٌ بَشَرًا مِنْ طِيْنٍ. فَإِذَا سَوَّيْتُهُ وَنَفَخْتُ فِيْهِ مِنْ رُوْحِيْ.
“Sesungguhnya Aku akan menciptakan manusia dari tanah. Kemudian apabila telah Aku sempurnakan kejadiannya dan Aku tiupkan roh (ciptaan)-Ku kepadanya.”
قُلْ الرُّوْحُ مِنْ أَمْرِ رَبِّيْ
“Katakanlah (Muhammad): “Roh itu termasuk urusan Tuhanku.””
Implementasi roh dalam pemaknaan ini oleh Al-Ghazali dipahami dengan adanya aktivitas tazkiyah al-nafs atau pembersihan hati, seperti telah disebutkan dalam rangkaian surah Asysyams [91] ayat 7-10,
وَنَفْسٍ وَمَا سَوَّاهَا. فَأَلْهَمَهَا فُجُوْرَهَا وَتَقْوَاهَا. قَدْ أَفْلَحَ مَنْ زَكَّاهَا. وَقَدْ خَابَ مَنْ دَسَّاهَا.
“Demi jiwa serta penyempurnaan (ciptaan)-nya, maka Dia mengilhamkan kepadanya (jalan) kejahatan dan ketakwaannya, sungguh beruntung orang yang menyucikannya (jiwa itu), dan sungguh rugi orang yang mengotorinya.”
Baca juga: Perjalanan Ruh Setelah Terpisah Dari Jasadnya
Dalam struktur penyusun kehidupan manusia, roh (unsur batin) ini menurut Al-Ghazali memiliki posisi yang lebih penting ketimbang jasad (unsur fisik). Hal ini sebagaimana telah diisyaratkan dalam surah Shad [38] ayat 71-72 dan surah Al-isra’ [17] ayat 85, sekira Allah menyandarkan keberadaan roh kepada-Nya.
إِنِّي خَالِقٌ بَشَرًا مِنْ طِيْنٍ. فَإِذَا سَوَّيْتُهُ وَنَفَخْتُ فِيْهِ مِنْ رُوْحِيْ.
“Sesungguhnya Aku akan menciptakan manusia dari tanah. Kemudian apabila telah Aku sempurnakan kejadiannya dan Aku tiupkan roh (ciptaan)-Ku kepadanya.”
قُلْ الرُّوْحُ مِنْ أَمْرِ رَبِّيْ
“Katakanlah (Muhammad): “Roh itu termasuk urusan Tuhanku.””
Implementasi roh dalam pemaknaan ini oleh Al-Ghazali dipahami dengan adanya aktivitas tazkiyah al-nafs atau pembersihan hati, seperti telah disebutkan dalam rangkaian surah Asysyams [91] ayat 7-10,
وَنَفْسٍ وَمَا سَوَّاهَا. فَأَلْهَمَهَا فُجُوْرَهَا وَتَقْوَاهَا. قَدْ أَفْلَحَ مَنْ زَكَّاهَا. وَقَدْ خَابَ مَنْ دَسَّاهَا.
“Demi jiwa serta penyempurnaan (ciptaan)-nya, maka Dia mengilhamkan kepadanya (jalan) kejahatan dan ketakwaannya, sungguh beruntung orang yang menyucikannya (jiwa itu), dan sungguh rugi orang yang mengotorinya.”
Lihat Juga :