Hagia Sophia Pintu Masuk Dakwah Islam ke Daratan Eropa
Sabtu, 18 Juli 2020 - 05:00 WIB
loading...
A
A
A
Ash-Shalabi juga menyebut Pangeran Philip dari Burgondia juga sangat bersemangat menyerukan raja-raja Nasrani untuk berperang melawan kaum muslimin. Apa yang dia lakukan diikuti para pangeran dan para jagoan penunggang kuda, serta pengikut fanatik agama Nasrani. Pemikiran untuk memerangi kaum muslimin ini menjelma menjadi “akidah suci” yang mendorong mereka menyerang negeri-negeri kaum muslimin. Tentu kita masih ingat slogan penjajahan Eropa, “Gold, Gospel, Glory” (emas, gereja, kejayaan).
Baca juga: Jalan Panjang Konstantinopel, Hagia Shophia, dan Muhammad Al-Fatih
Paus di Roma sendiri memimpin perang orang-orang Nasrani melawan kaum muslimin. Sedangkan Sultan Muhammad Al-Fatih selalu siaga dengan semua gerakan yang dilakukan pihak-pihak Nasrani. Dia merencanakan secara jeli dan merealisasikan strategi-strategi yang dianggap cocok untuk memperkuat pemerintahan dan negaranya, serta menghancurkan kekuatan musuh-musuhnya.
Sedangkan negara-negara yang bertetangga dengan Sultan Muhammad Al-Fatih seperti Amasia, Murah dan Trabzon, mereka terpaksa memendam perasaan yang tersimpan di dasar hati mereka sendiri. Secara zahir mereka menampakkan rasa kegembiraan dan mengutus utusan kepada Sultan di Adrianapole untuk memberi ucapan selamat atas kemenangan yang gilang gemilang itu.
Baca juga: Hagia Sophia dan Kehebatan Sultan Muhammad Al-Fatih
Paus Pius ll dengan kemampuan khutbah berusaha sekuat tenaga membangun rasa kebencian memuncak di dalam dada orang orang Nasrani, baik masyarakat umum, kalangan raja-raja, atau para tentara. Sebagian dari negeri itu telah siap siaga untuk merealisasikan ambisi Paus Pius II untuk melumat pemerintahan Utsmani. Namun saat waktunya tiba, negara-negara Eropa urung berangkat karena mereka menghadapi banyak masalah di negeri mereka sendiri.
Perang 100 tahun yang berlangsung di Eropa telah memporak-porandakan lnggris dan Prancis; sedangkan Spanyol sedang disibukkan dengan pengusiran orang-orang muslim yang berada di Andalusia. ltalia berkonsentrasi menjalin hubungan dengan pemerintahan Utsmani, walaupun secara terpaksa, karena semata cinta harta.
Kampanye Salibisme ini berakhir dengan meninggalnya Paus Pius. Akhirnya Hungaria dan Venezia harus menghadapi pasukan Utsmani sendirian. Adapun Venezia segera mengadakan perjanjian damai secara jujur dengan pemerintahan Utsmani demi menjaga kepentingan-kepentingannya.
Baca juga: Ini Tokoh yang Makamnya Dimuliakan Sultan Muhammad Al-Fatih
Hungaria akhirnya kalah sehingga tentara Utsmani berhasil menjadikan Serbia, Yunani, Valachi, dan Krym, serta pulau-pulau utama di Arkhabil sebagai bagian dari wilayahnya. Semua itu berlangsung dalam waktu sangat singkat. Sultan Muhammad Al-Fatih mampu menaklukkan mereka dan memporakporandakan kesatuan mereka dan mengambil negeri itu.
Paus Pius II dengan segala kecakapan yang dimiliki ingin meraih ambisi besar: Pertama, berusaha meyakinkan orang-orang Nasrani agar tetap memeluk agama Nasrani, sementara dia sendiri tidak mengirim para pendakwah Nasrani Untuk tujuan ini.
Baca juga: Toleransi Islam di Hagia Sophia: Simbol-Simbol Gereja itu Tetap Utuh
Dia hanya menulis surat kepada Sultan Muhammad Al-Fatih dan memintanya untuk mendukung agama Nasrani sebagaimana dukungan yang dilakukan oleh Constantine dan Colovies. Dalam surat itu dia menjanjikan bahwa dia akan mengampuni semua dosa-dosanya jika dia memeluk agama Nasrani dengan tulus ikhlas.
Menurut Ash-Shalabi, dia juga menjanjikan akan memberkatinya dan melindunginya, serta akan memberikan jaminan bagi dirinya untuk masuk surga. Tentu saja ajakan in ditolak oleh Sultan.
Sultan telah mengubah gereja Hagia Sophia menjadi masjid, selanjutnya menjadi pijakan untuk seterusnya terus mendakwahkan Islam ke seluruh Eropa. (Baca juga: Hagia Sophia dan Masjid-Masjid yang Menjadi Gereja )
Baca juga: Jalan Panjang Konstantinopel, Hagia Shophia, dan Muhammad Al-Fatih
Paus di Roma sendiri memimpin perang orang-orang Nasrani melawan kaum muslimin. Sedangkan Sultan Muhammad Al-Fatih selalu siaga dengan semua gerakan yang dilakukan pihak-pihak Nasrani. Dia merencanakan secara jeli dan merealisasikan strategi-strategi yang dianggap cocok untuk memperkuat pemerintahan dan negaranya, serta menghancurkan kekuatan musuh-musuhnya.
Sedangkan negara-negara yang bertetangga dengan Sultan Muhammad Al-Fatih seperti Amasia, Murah dan Trabzon, mereka terpaksa memendam perasaan yang tersimpan di dasar hati mereka sendiri. Secara zahir mereka menampakkan rasa kegembiraan dan mengutus utusan kepada Sultan di Adrianapole untuk memberi ucapan selamat atas kemenangan yang gilang gemilang itu.
Baca juga: Hagia Sophia dan Kehebatan Sultan Muhammad Al-Fatih
Paus Pius ll dengan kemampuan khutbah berusaha sekuat tenaga membangun rasa kebencian memuncak di dalam dada orang orang Nasrani, baik masyarakat umum, kalangan raja-raja, atau para tentara. Sebagian dari negeri itu telah siap siaga untuk merealisasikan ambisi Paus Pius II untuk melumat pemerintahan Utsmani. Namun saat waktunya tiba, negara-negara Eropa urung berangkat karena mereka menghadapi banyak masalah di negeri mereka sendiri.
Perang 100 tahun yang berlangsung di Eropa telah memporak-porandakan lnggris dan Prancis; sedangkan Spanyol sedang disibukkan dengan pengusiran orang-orang muslim yang berada di Andalusia. ltalia berkonsentrasi menjalin hubungan dengan pemerintahan Utsmani, walaupun secara terpaksa, karena semata cinta harta.
Kampanye Salibisme ini berakhir dengan meninggalnya Paus Pius. Akhirnya Hungaria dan Venezia harus menghadapi pasukan Utsmani sendirian. Adapun Venezia segera mengadakan perjanjian damai secara jujur dengan pemerintahan Utsmani demi menjaga kepentingan-kepentingannya.
Baca juga: Ini Tokoh yang Makamnya Dimuliakan Sultan Muhammad Al-Fatih
Hungaria akhirnya kalah sehingga tentara Utsmani berhasil menjadikan Serbia, Yunani, Valachi, dan Krym, serta pulau-pulau utama di Arkhabil sebagai bagian dari wilayahnya. Semua itu berlangsung dalam waktu sangat singkat. Sultan Muhammad Al-Fatih mampu menaklukkan mereka dan memporakporandakan kesatuan mereka dan mengambil negeri itu.
Paus Pius II dengan segala kecakapan yang dimiliki ingin meraih ambisi besar: Pertama, berusaha meyakinkan orang-orang Nasrani agar tetap memeluk agama Nasrani, sementara dia sendiri tidak mengirim para pendakwah Nasrani Untuk tujuan ini.
Baca juga: Toleransi Islam di Hagia Sophia: Simbol-Simbol Gereja itu Tetap Utuh
Dia hanya menulis surat kepada Sultan Muhammad Al-Fatih dan memintanya untuk mendukung agama Nasrani sebagaimana dukungan yang dilakukan oleh Constantine dan Colovies. Dalam surat itu dia menjanjikan bahwa dia akan mengampuni semua dosa-dosanya jika dia memeluk agama Nasrani dengan tulus ikhlas.
Menurut Ash-Shalabi, dia juga menjanjikan akan memberkatinya dan melindunginya, serta akan memberikan jaminan bagi dirinya untuk masuk surga. Tentu saja ajakan in ditolak oleh Sultan.
Sultan telah mengubah gereja Hagia Sophia menjadi masjid, selanjutnya menjadi pijakan untuk seterusnya terus mendakwahkan Islam ke seluruh Eropa. (Baca juga: Hagia Sophia dan Masjid-Masjid yang Menjadi Gereja )
(mhy)
Lihat Juga :