Kisah Sufi Mullah Nashruddin Menurut Idries Shah
Rabu, 05 April 2023 - 17:29 WIB
loading...
Secara dangkal kisah-kisah Nashruddin lebih sering dikenal sebagai kisah humor atau bahan lelucon. Foto/Ilustrasi: Ist
A
A
A
Mullah (guru) Nashruddin adalah sosok klasik yang dirancang oleh para darwis; sebagian untuk tujuan pemberhentian (jeda) karena situasi-situasi sesaat dimana didalamnya keadaan-keadaan tertentu dari jiwa dibuat jelas.
Idries Shah dalam bukunya berjudul "The Sufis" yang diterjemahkan M Hidayatullah dan Roudlon, SAg menjadi "Mahkota Sufi: Menembus Dunia Ekstra Dimensi" (Risalah Gusti, 2000) menyebut kisah-kisah Nashruddin, dikenal secara menyeluruh di Timur Tengah , merupakan satu dari sejumlah pencapaian ganjil (ajaib) di dalam sejarah metafisika.
"Namun, secara dangkal kisah-kisah Nashruddin lebih sering dikenal sebagai kisah humor atau bahan lelucon," ujar Idries Shah.
Kisah-kisah itu diceritakan kembali tanpa henti di warung-warung teh dan di rombongan-rombongan pertunjukan, di rumah-rumah dan di siaran-siaran radio Asia. Tetapi dalam cerita Nashruddin itu inheren untuk dipahami adanya kedalaman makna. Terdapat lelucon, moral dan kelebihan lainnya yang membawa kesadaran sedikit lebih jauh menuju proses penyadaran dari kekuatan spiritual yang potensial.
Baca juga: Ketika Nasruddin Hoja Tidak Konsisten Lagi
Idries Shah mengatakan jika kita melihat beberapa cerita klasik Nashruddin dengan cara seutuh mungkin, kita segera menemukan bahwa keseluruhan pendekatan skolastik merupakan cara terakhir yang diperbolehkan oleh Sufi.
Nashruddin, ketika menyeberangi perairan yang ganas bersama seorang sarjana yang berpola pikir kaku dan formalistik, mengatakan sesuatu kepadanya yang secara kaidah bahasa tidak sesuai. "Apakah Anda tidak pernah belajar kaidah-kaidah?" tanya si sarjana tersebut.
"Tidak," jawab Nashruddin.
"Maka separo kehidupan Anda sia-sia," ucapnya kepada Nashruddin seraya bertanya, "Apakah Anda pernah belajar berenang?"
"Tidak, mengapa?"
"Maka seluruh kehidupan Anda sia-sia -- kita tengah tenggelam."
Idries Shah dalam bukunya berjudul "The Sufis" yang diterjemahkan M Hidayatullah dan Roudlon, SAg menjadi "Mahkota Sufi: Menembus Dunia Ekstra Dimensi" (Risalah Gusti, 2000) menyebut kisah-kisah Nashruddin, dikenal secara menyeluruh di Timur Tengah , merupakan satu dari sejumlah pencapaian ganjil (ajaib) di dalam sejarah metafisika.
"Namun, secara dangkal kisah-kisah Nashruddin lebih sering dikenal sebagai kisah humor atau bahan lelucon," ujar Idries Shah.
Kisah-kisah itu diceritakan kembali tanpa henti di warung-warung teh dan di rombongan-rombongan pertunjukan, di rumah-rumah dan di siaran-siaran radio Asia. Tetapi dalam cerita Nashruddin itu inheren untuk dipahami adanya kedalaman makna. Terdapat lelucon, moral dan kelebihan lainnya yang membawa kesadaran sedikit lebih jauh menuju proses penyadaran dari kekuatan spiritual yang potensial.
Baca juga: Ketika Nasruddin Hoja Tidak Konsisten Lagi
Idries Shah mengatakan jika kita melihat beberapa cerita klasik Nashruddin dengan cara seutuh mungkin, kita segera menemukan bahwa keseluruhan pendekatan skolastik merupakan cara terakhir yang diperbolehkan oleh Sufi.
Nashruddin, ketika menyeberangi perairan yang ganas bersama seorang sarjana yang berpola pikir kaku dan formalistik, mengatakan sesuatu kepadanya yang secara kaidah bahasa tidak sesuai. "Apakah Anda tidak pernah belajar kaidah-kaidah?" tanya si sarjana tersebut.
"Tidak," jawab Nashruddin.
"Maka separo kehidupan Anda sia-sia," ucapnya kepada Nashruddin seraya bertanya, "Apakah Anda pernah belajar berenang?"
"Tidak, mengapa?"
"Maka seluruh kehidupan Anda sia-sia -- kita tengah tenggelam."
Lihat Juga :