Kisah Sufi Mullah Nashruddin Menurut Idries Shah
Rabu, 05 April 2023 - 17:29 WIB
loading...
A
A
A
Menurut Idries Shah, ini merupakan penekanan terhadap Sufisme sebagai suatu aktivitas praktis, seraya menolak bahwa pemikiran formal bisa sampai pada kebenaran, dan pola pemikiran yang diperoleh dari dunia biasa (pengalamannya) bisa diterapkan pada realitas yang sesungguhnya, yang bergerak ke dimensi lainnya.
Baca juga: Timur Lenk Minta Nasruddin Hoja Mengajari Keledai Membaca
Hal ini terlihat, bahkan lebih diperkuat oleh sebuah cerita konyol yang dilontarkan di sebuah warung teh, sebuah istilah tempat Sufi untuk pertemuan para darwis. Seorang pendeta masuk dan berkata:
"Guruku mengajariku untuk menyebarkan wejangan bahwa manusia tidak akan pernah sempurna sampai seorang yang tidak dizalimi marah pada kezaliman itu, semarah orang yang benar-benar dizalimi."
Orang-orang yang duduk sesaat merasa terkesan, kemudian Nashruddin berujar:
"Guruku mengajariku bahwa seharusnya tidak seorang pun menjadi marah tentang sesuatu sampai ia merasa pasti bahwa apa yang dipikirnya sebagai suatu kesalahan itu pada hakikatnya adalah salah -- dan bukan sekadar dugaan."
Idries Shah menjelaskan Nashruddin, dalam kapasitas sebagai guru Sufi, sering menggunakan teknik darwis bagi dirinya sendiri dengan memainkan peranan orang yang belum tercerahkan dalam sebuah cerita untuk menjelaskan suatu kebenaran.
Sebuah cerita terkenal yang menyangkal kepercayaan dangkal (superfisial) terhadap hukum sebab-akibat menjadikan dirinya sebagai korban.
Baca juga: Roti Hangat, Dokumen Pemungutan Pajak Nasruddin Hoja
Suatu hari Mullah Nashruddin tengah berjalan di sebuah gang ketika seorang jatuh dari atap rumah dan menimpa tubuhnya. Orang yang jatuh tersebut tidak terluka -- tetapi justru Mullah Nashruddin yang dibawa ke rumah sakit.
"Ajaran apakah yang bisa Tuan ambil dari peristiwa ini, Guru?" tanya salah satu muridnya.
Baca juga: Timur Lenk Minta Nasruddin Hoja Mengajari Keledai Membaca
Hal ini terlihat, bahkan lebih diperkuat oleh sebuah cerita konyol yang dilontarkan di sebuah warung teh, sebuah istilah tempat Sufi untuk pertemuan para darwis. Seorang pendeta masuk dan berkata:
"Guruku mengajariku untuk menyebarkan wejangan bahwa manusia tidak akan pernah sempurna sampai seorang yang tidak dizalimi marah pada kezaliman itu, semarah orang yang benar-benar dizalimi."
Orang-orang yang duduk sesaat merasa terkesan, kemudian Nashruddin berujar:
"Guruku mengajariku bahwa seharusnya tidak seorang pun menjadi marah tentang sesuatu sampai ia merasa pasti bahwa apa yang dipikirnya sebagai suatu kesalahan itu pada hakikatnya adalah salah -- dan bukan sekadar dugaan."
Idries Shah menjelaskan Nashruddin, dalam kapasitas sebagai guru Sufi, sering menggunakan teknik darwis bagi dirinya sendiri dengan memainkan peranan orang yang belum tercerahkan dalam sebuah cerita untuk menjelaskan suatu kebenaran.
Sebuah cerita terkenal yang menyangkal kepercayaan dangkal (superfisial) terhadap hukum sebab-akibat menjadikan dirinya sebagai korban.
Baca juga: Roti Hangat, Dokumen Pemungutan Pajak Nasruddin Hoja
Suatu hari Mullah Nashruddin tengah berjalan di sebuah gang ketika seorang jatuh dari atap rumah dan menimpa tubuhnya. Orang yang jatuh tersebut tidak terluka -- tetapi justru Mullah Nashruddin yang dibawa ke rumah sakit.
"Ajaran apakah yang bisa Tuan ambil dari peristiwa ini, Guru?" tanya salah satu muridnya.
Lihat Juga :