Tata Cara Haji: Amalan yang Perlu Dilakukan saat Bermalam di Muzdalifah
Senin, 22 Mei 2023 - 12:31 WIB
loading...
Jika matahari telah tenggelam pada hari Arafah maka para jemaah haji berduyun-duyun (meninggalkan) Arafah menuju Muzdalifah dengan tenang. Foto/Ilustrasi: antara
A
A
A
Jika matahari telah tenggelam pada hari Arafah maka para jemaah haji berduyun-duyun (meninggalkan) Arafah menuju Muzdalifah dengan tenang, diam dan tidak berdesak-desakan. Jika telah sampai Muzdalifah mereka salat Maghrib dan Isya’ secara jama’ qashar dengan satu adzan dan dua iqamat.
Yusuf bin Abdullah bin Ahmad Al-Ahmad dalam buku berjudul "Shifatul Hajji wal Umrati wa Ahkamish Shalati fi Masjidin Nabawi" yang dalam edisi Indonesia menjadi "Tata Cara Haji, Umrah dan Hukum Shalat di Masjid Nabawi" mengingatkan diharamkan mengakhirkan salat Isya’ hingga lewat pertengahan malam, berdasarkan sabda Nabi Muhammad SAW :
“Waktu Isya’ adalah sampai pertengahan malam.” (HR Muslim).
Jika ia takut akan lewatnya waktu, hendaknya ia salat Maghrib dan Isya’ di tempat mana saja, meskipun di Arafah.
Baca juga: Tata Cara Haji: Hal-Hal yang Perlu Dikerjakan di Hari Tarwiyah
Lalu bermalam di Muzdalifah hingga terbit fajar. Kemudian salat Subuh di awal waktunya, lalu menuju Masy’aril Haram, yaitu bukit yang berada di Muzdalifah, jika hal itu memungkinkan baginya. Jika tidak, maka seluruh Muzdalifah adalah mauqif (tempat berhenti yang disyari’atkan).
Di sana hendaknya jemaah haji menghadap kiblat dan memanjatkan pujian kepada Allah, bertakbir, mengesakan dan berdo’a kepadaNya. Jika pagi telah tampak sangat menguning, sebelum terbit matahari, para jemaah haji berangkat menuju Mina dengan mengumandangkan talbiyah, demikian ia terus bertalbiyah hingga sampai melempar jumrah aqabah.
Adapun bagi orang-orang yang lemah dan para wanita maka mereka dibolehkan langsung menuju Mina pada akhir malam. Hal itu berdasarkan hadis Ibnu Abbas ra, ia berkata:
“Nabi SAW mengutusku ketika akhir waktu malam dari rombongan orang-orang (di Muzdalifah) dengan membawa perbekalan Nabiullah SAW.” [HR.Muslim].
Yusuf bin Abdullah bin Ahmad Al-Ahmad dalam buku berjudul "Shifatul Hajji wal Umrati wa Ahkamish Shalati fi Masjidin Nabawi" yang dalam edisi Indonesia menjadi "Tata Cara Haji, Umrah dan Hukum Shalat di Masjid Nabawi" mengingatkan diharamkan mengakhirkan salat Isya’ hingga lewat pertengahan malam, berdasarkan sabda Nabi Muhammad SAW :
وَوَقْتُ صَلاَةِ الْعِشَاءِ إِلَى نِصْفِ اللَّيْلِ الأَوْسَطِ
“Waktu Isya’ adalah sampai pertengahan malam.” (HR Muslim).
Jika ia takut akan lewatnya waktu, hendaknya ia salat Maghrib dan Isya’ di tempat mana saja, meskipun di Arafah.
Baca juga: Tata Cara Haji: Hal-Hal yang Perlu Dikerjakan di Hari Tarwiyah
Lalu bermalam di Muzdalifah hingga terbit fajar. Kemudian salat Subuh di awal waktunya, lalu menuju Masy’aril Haram, yaitu bukit yang berada di Muzdalifah, jika hal itu memungkinkan baginya. Jika tidak, maka seluruh Muzdalifah adalah mauqif (tempat berhenti yang disyari’atkan).
Di sana hendaknya jemaah haji menghadap kiblat dan memanjatkan pujian kepada Allah, bertakbir, mengesakan dan berdo’a kepadaNya. Jika pagi telah tampak sangat menguning, sebelum terbit matahari, para jemaah haji berangkat menuju Mina dengan mengumandangkan talbiyah, demikian ia terus bertalbiyah hingga sampai melempar jumrah aqabah.
Adapun bagi orang-orang yang lemah dan para wanita maka mereka dibolehkan langsung menuju Mina pada akhir malam. Hal itu berdasarkan hadis Ibnu Abbas ra, ia berkata:
“Nabi SAW mengutusku ketika akhir waktu malam dari rombongan orang-orang (di Muzdalifah) dengan membawa perbekalan Nabiullah SAW.” [HR.Muslim].
Lihat Juga :