Wawasan Al-Qur'an: Ini Ayat-Ayat yang Jadi Dalil Larangan Seni Suara

Sabtu, 25 Juli 2020 - 05:00 WIB
loading...
Wawasan Al-Quran: Ini Ayat-Ayat yang Jadi Dalil Larangan Seni Suara
Allah sendiri berfirman dengan menyampaikan kalimat-kalimat yang memiliki irama dan nada. Ilustrasi/SINDOnews
A A A
SAMPAI saat ini masih terjadi beda pendapat di kalangan ulama terkait seni suara atau nyanyian. Ada ulama yang membolehkan ada juga yang melarang atau mengharamkan. Prof M Quraish Shihab dalam Wawasan Al-Quran , Tafsir Maudhu'i atas Pelbagai Persoalan Umat, mengatakan setidaknya ada tiga ayat dalam Al-Qur'an yang dijadikan alasan oleh sementara ulama untuk melarang --paling sedikit dalam arti memakruhkan-- nyanyian, yaitu: surat Al-Isra : 64, Al-Najm : 59-61, dan Luqman : 6.

Baca juga: Wawasan Al-Qur'an tentang Seni Lukis, Pahat, dan Patung

Surat Al-Isra dimaksud adalah perintah Allah kepada setan:

وَاسْتَفْزِزْ مَنِ اسْتَطَعْتَ مِنْهُمْ بِصَوْتِكَ وَأَجْلِبْ عَلَيْهِمْ بِخَيْلِكَ وَرَجِلِكَ وَشَارِكْهُمْ فِي الْأَمْوَالِ وَالْأَوْلَادِ وَعِدْهُمْ ۚ وَمَا يَعِدُهُمُ الشَّيْطَانُ إِلَّا غُرُورًا

Dan hasunglah siapa yang kamu sanggupi di antara mereka dengan ajakanmu, dan kerahkanlah terhadap mereka pasukan berkuda dan pasukanmu yang berjalan kaki dan berserikatlah dengan mereka pada harta dan anak-anak dan beri janjilah mereka. Dan tidak ada yang dijanjikan oleh syaitan kepada mereka melainkan tipuan belaka. (QS Al-Isra : 64)

Kata suaramu dalam ayat tersebut menurut sementara ulama adalah nyanyian. Tetapi benarkah demikian?

Baca juga: Musik dan Tarian Sebagai Pembantu Kehidupan Keagamaan (1)

Menurut Quraish, membatasi arti suara dengan nyanyian merupakan pembatasan yang tidak berdasar, dan kalaupun itu diartikan nyanyian, maka nyanyian yang dimaksud adalah yang didendangkan oleh setan, sebagaimana bunyi ayat ini. Dan suatu ketika ada nyanyian yang dilagukan oleh bukan setan, maka belum tentu termasuk yang dikecam oleh ayat ini.

Surat Al-Najm yang dimaksud adalah:

أَفَمِنْ هَٰذَا الْحَدِيثِ تَعْجَبُونَ
وَتَضْحَكُونَ وَلَا تَبْكُونَ
وَأَنْتُمْ سَامِدُونَ

Apakah kamu merasa heran terhadap pemberitaan ini (adanya Kiamat)? Kamu menertawakan dan tidak menangis? Sedang kamu samidun (QS Al-Najm : 59-61).

Baca juga: Musik dan Tarian Sebagai Pembantu Kehidupan Keagamaan (2-Habis)

Menurut Quraish, kata samidun diartikan oleh yang melarang seni suara dengan arti dalam keadaan menyanyi-nyanyi. Arti ini tidak disepakati oleh ulama, karena kata tersebut walaupun digunakan oleh suku Himyar (salah satu suku bangsa Arab) dalam arti demikian.

Akan tetapi dalam kamus-kamus bahasa seperti --Mujam Maqayis Al-Lughah-- dijelaskan bahwa akar kata samidun adalah samada yang maknanya berkisar pada berjalan bersungguh-sungguh tanpa menoleh ke kiri dan ke kanan, atau secara majazi dapat diartikan serius atau tidak mengindahkan selain apa yang dihadapinya.

Baca juga: Jibril Sumpal Mulut Fira'un dengan Lumpur Ketika Akan Bersyahadat

Dengan demikian, Quraish menjelaskan, kata samidun dalam ayat tersebut dapat diartikan lengah karena seorang yang lengah biasanya serius dalam menghadapi sesuatu dan tidak mengindahkan yang lain

Dalam Al-Quran dan Terjemahnya Departemen Agama RI kata samidun diartikan "lengah". Quraish berpendapat kalaupun kata tersebut dibatasi dalam arti nyanyian maka nyanyian yang dikecam di sini adalah yang dilakukan oleh orang-orang menertawakan adanya hari kiamat, dan atau melengahkan mereka dari peristiwa yang seharusnya memilukan mereka.

Baca juga: Kisah Nabi Isa dan Pencuri yang Bersumpah Atas Nama Allah

Selanjutnya, ayat ketiga yang dijadikan argumentasi keharaman menyanyi atau mendengarkannya adalah surat Luqman ayat 6.

وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَشْتَرِي لَهْوَ الْحَدِيثِ لِيُضِلَّ عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ بِغَيْرِ عِلْمٍ وَيَتَّخِذَهَا هُزُوًا ۚ أُولَٰئِكَ لَهُمْ عَذَابٌ مُهِينٌ
Halaman :
Komentar
Copyright © 2023 SINDOnews.com
read/ rendering in 0.2884 seconds (11.97#12.26)