Kisah Sahih dalam Sunnah

Kisah Nabi Isa dan Pencuri yang Bersumpah Atas Nama Allah

loading...
Kisah Nabi Isa dan Pencuri yang Bersumpah Atas Nama Allah
Kisah ini menjadi salah satu pijakan para ulama dalam menetapkan kaidah fiqih. Foto/Ilustrasi/Ist
Kisah ini pendek dan sederhana, tetapi mengandung pesan yang mendalam. Ia menunjukkan keluhuran dan keteladanan para nabi dan rasul dalam mengagungkan dan menyucikan asma Allah. Tak terkecuali Nabi Isa ‘alaihissalam yang pernah membenarkan pengakuan seorang pencuri yang bersumpah atas nama Allah. (Baca juga: Jibril Sumpal Mulut Fira'un dengan Lumpur Ketika Akan Bersyahadat )

Kisah ini diriwayatkan oleh al-Bukhari dan Muslim dalam Shahîh masing-masing dari Abu Hurairah yang menyebutkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bercerita:

رَأَى عِيسَى ابْنُ مَرْيَمَ رَجُلًا يَسْرِقُ، فَقَالَ لَهُ: أَسَرَقْتَ؟ قَالَ: كَلَّا وَاللَّهِ الَّذِي لاَ إِلَهَ إِلَّا هُوَ، فَقَالَ عِيسَى: آمَنْتُ بِاللَّهِ، وَكَذَّبْتُ عَيْنِي

“Pada suatu ketika, Nabi Isa melihat seorang lelaki yang mencuri. Lantas oleh Nabi Isa, si pencuri ditanya, ‘Apakah engkau mencuri?’ Pencuri itu menjawab, ‘Demi Allah, Dzat yang tidak ada Tuhan selain Dia, tidak!’ Nabi Isa berkata, ‘Aku beriman kepada Allah dan mendustakan kedua mataku’.”

Baca juga: Rasulullah Saksikan Protes Nabi Musa kepada Nabi Adam



Dikisahkan, Nabi Isa ‘alaihissalam pernah melihat seorang maling dengan mata kepalanya sendiri. Namun setelah diinterogasi oleh Nabi Isa, lelaki itu justru bersumpah dengan nama Allah bahwa dirinya tidak mencuri. Maka Nabi Isa pun mendustakan penglihatan matanya dan membenarkan pengakuan si lelaki yang mencuri.

Baca juga: Permintaan Pertama: Mencabut Rasa Cinta kepada Wanita

Kisah ini didasarkan pada hadis yang diriwayatkan oleh Bukhari dalam Kitab Ahadisil Anbiya’, bab firman Allah, "Dan ceritakanlah kisah Maryam di dalam Al-Qur'an" (QS Maryam: 16).(6/478, no. 3443). Juga diriwayatkan oleh Muslim dalam Shahih-nya dalam Kitabul Fadhail, bab keutamaan Isa (4/1838), no. 2366. Hadis ini dalam Syarah An-Nawawi, 15/506.

Baca juga: Allah Ta'ala Paling Mencintai Hamba yang Berakhlak Baik

Para Rasul dan Nabi adalah manusia dengan cetakan tersendiri, khususnya dalam hal ta’zim kepada Tuhan mereka dan pensucian mereka kepada-Nya.

Baca juga: Tiga Amalan untuk Mendatangkan Kecintaan Allah Ta'ala

Nabi Isa bukan orang bodoh yang tidak bisa membedakan antara orang jujur dengan pendusta, akan tetapi Allah di hati Nabi Isa adalah lebih agung dari sekadar Dia digunakan oleh seseorang untuk bersumpah secara dusta.

Pencuri ini berhasil lolos dari Nabi Isa. Akan tetapi mana mungkin dia akan lolos dari azab dan balasan Allah?

Baca juga: Ridha Dengan Bala untuk Meraih Cinta Allah Ta'ala

Para Rasul dan Nabi tidak diutus sebagai polisi. Allah-lah yang akan mengawasi, mengurusi, dan menghisab. Allah tidak membebani para Rasul – lebih-lebih jika mereka bukan pemimpin dan hakim – untuk menghisab dan menghukum manusia.

Syaikh ‘Umar Sulaiman al-Asyqor dalam Kisah-Kisah Shahih Dalam Al-Qur’an dan Sunnah menjelaskan dari kisah di atas dapat dipetik pelajaran dan tauladan yang sangat berharga, di antaranya:

Baca juga: Zubair: Orang Pertama yang Menghunuskan Pedang di Jalan Allah

1. Para nabi dan rasul tidak mengetahui perkara gaib dan tersembunyi kecuali apa yang diberitahukan Allah melalui wahyu.

2. Para dan rasul bukan manusia yang mampu membedakan mana orang yang jujur dan mana orang yang berdusta.
halaman ke-1
cover top ayah
شَهۡرُ رَمَضَانَ الَّذِىۡٓ اُنۡزِلَ فِيۡهِ الۡقُرۡاٰنُ هُدًى لِّلنَّاسِ وَ بَيِّنٰتٍ مِّنَ الۡهُدٰى وَالۡفُرۡقَانِۚ فَمَنۡ شَهِدَ مِنۡكُمُ الشَّهۡرَ فَلۡيَـصُمۡهُ ؕ وَمَنۡ کَانَ مَرِيۡضًا اَوۡ عَلٰى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِّنۡ اَيَّامٍ اُخَرَؕ يُرِيۡدُ اللّٰهُ بِکُمُ الۡيُسۡرَ وَلَا يُرِيۡدُ بِکُمُ الۡعُسۡرَ وَلِتُکۡمِلُوا الۡعِدَّةَ وَلِتُکَبِّرُوا اللّٰهَ عَلٰى مَا هَدٰٮكُمۡ وَلَعَلَّکُمۡ تَشۡكُرُوۡنَ
Bulan Ramadan adalah (bulan) yang di dalamnya diturunkan Al-Qur'an, sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang benar dan yang batil). Karena itu, barangsiapa di antara kamu ada di bulan itu, maka berpuasalah. Dan barangsiapa sakit atau dalam perjalanan (dia tidak berpuasa), maka (wajib menggantinya), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. Hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, agar kamu bersyukur.

(QS. Al-Baqarah:185)
cover bottom ayah
TULIS KOMENTAR ANDA!