Kisah Dakwah Nabi Ibrahim dengan Cara Menghancurkan Berhala
Sabtu, 12 Agustus 2023 - 19:17 WIB
loading...
Allah mengubah neraka buatan manusia itu menjadi taman hijau yang sejuk bagi Ibrahim. Foto/Ilustrasi: Ist
A
A
A
Sudah menjadi tradisi, tatkala mendekati hari perayaan, penduduk Babilon ramai-ramai berangkat ke hutan untuk melepaskan lelah, memulihkan tenaga mereka, dan melaksanakan upacara perayaan itu. Akibatnya, kota menjadi sepi.
Kala itu, Ibrahim sedang sakit sehingga tidak ikut upacara perayaan. "Sesungguhnya, itulah hari gembira bagi sang tokoh tauhid, sebagaimana bagi para musyrik itu," tulis ulama fikih , ushul, tafsir dan ilmu kalam, Ja'far Subhani, dalam bukunya berjudul "Ar-Risalah, Sejarah Kehidupan Rasulullah SAW" (PT Lentera Basritama , 2004)
Bagi kaum musyrik , jelasnya, itu adalah pesta perayaan yang sangat tua. Mereka pergi ke kaki gunung di lapangan-lapangan hijau untuk melaksanakan upacara perayaan dan menghidupkan adat kebiasaan nenek moyang mereka.
Baca juga: Rasulullah SAW Mengakui Mirip Nabi Ibrahim
Bagi si jawara tauhid, hari itu pun merupakan hari raya besar pertama yang telah lama dirindukannya, untuk menghancurkan manifestasi kekafiran dan kemusyrikan, ketika kota sedang bersih dan lawan-lawannya.
Ketika "kloter" terakhir penduduk meninggalkan kota, Ibrahim merasa bahwa saat itulah kesempatannya. Dengan hati penuh keyakinan dan iman kepada Allah, beliau memasuki rumah berhala.
Di dalamnya beliau menemukan penggalan-penggalan kayu berpahat, berhala-berhala yang tak bernyawa. Ia ingat akan banyaknya makanan yang biasa dibawa oleh para penyembah berhala ke kuil mereka sebagai sajian untuk beroleh rahmat.
Beliau lalu mengambil sepiring roti yang ada di situ. Sambil mengunjukkannya kepada berhala-berhala itu, beliau berkata mengejek, "Mengapa tidak kamu makan segala macam makanan ini?"
Tentulah tuhan buatan kaum musyrik itu tak mampu bergerak sedikit pun, apalagi memakan sesuatu. Keheningan membisu menguasai kuil berhala yang luas itu, yang hanya terpecah oleh pukulan-pukulan keras Ibrahim pada tangan, kaki, dan tubuh berhala-berhala itu.
Ia menghancurkan semua berhala itu, hingga menjadi tumpukan puing kayu dan logam yang berhamburan di tengah kuil itu. Tetapi, ia membiarkan berhala yang paling besar, lalu meletakkan kapak di bahunya.
Kala itu, Ibrahim sedang sakit sehingga tidak ikut upacara perayaan. "Sesungguhnya, itulah hari gembira bagi sang tokoh tauhid, sebagaimana bagi para musyrik itu," tulis ulama fikih , ushul, tafsir dan ilmu kalam, Ja'far Subhani, dalam bukunya berjudul "Ar-Risalah, Sejarah Kehidupan Rasulullah SAW" (PT Lentera Basritama , 2004)
Bagi kaum musyrik , jelasnya, itu adalah pesta perayaan yang sangat tua. Mereka pergi ke kaki gunung di lapangan-lapangan hijau untuk melaksanakan upacara perayaan dan menghidupkan adat kebiasaan nenek moyang mereka.
Baca juga: Rasulullah SAW Mengakui Mirip Nabi Ibrahim
Bagi si jawara tauhid, hari itu pun merupakan hari raya besar pertama yang telah lama dirindukannya, untuk menghancurkan manifestasi kekafiran dan kemusyrikan, ketika kota sedang bersih dan lawan-lawannya.
Ketika "kloter" terakhir penduduk meninggalkan kota, Ibrahim merasa bahwa saat itulah kesempatannya. Dengan hati penuh keyakinan dan iman kepada Allah, beliau memasuki rumah berhala.
Di dalamnya beliau menemukan penggalan-penggalan kayu berpahat, berhala-berhala yang tak bernyawa. Ia ingat akan banyaknya makanan yang biasa dibawa oleh para penyembah berhala ke kuil mereka sebagai sajian untuk beroleh rahmat.
Beliau lalu mengambil sepiring roti yang ada di situ. Sambil mengunjukkannya kepada berhala-berhala itu, beliau berkata mengejek, "Mengapa tidak kamu makan segala macam makanan ini?"
Tentulah tuhan buatan kaum musyrik itu tak mampu bergerak sedikit pun, apalagi memakan sesuatu. Keheningan membisu menguasai kuil berhala yang luas itu, yang hanya terpecah oleh pukulan-pukulan keras Ibrahim pada tangan, kaki, dan tubuh berhala-berhala itu.
Ia menghancurkan semua berhala itu, hingga menjadi tumpukan puing kayu dan logam yang berhamburan di tengah kuil itu. Tetapi, ia membiarkan berhala yang paling besar, lalu meletakkan kapak di bahunya.
Lihat Juga :