Kisah Kelahiran Nabi Ibrahim, Namrud dan Misteri Babilon
Minggu, 20 Agustus 2023 - 16:04 WIB
loading...
A
A
A
Baca juga: Kisah Nabi Ibrahim Mengajarkan Agama Tauhid
Ketika Musa mengguncang kekuasaan Fir'aun dengan logikanya yang kuat dan menguak kebohongannya dalam suatu pertemuan umum, para pendukung Fir'aun berkata kepadanya, "Apakah kamu membiarkan Musa dan kaumnya membuat kerusakan di negeri ini (Mesir) dan meninggalkan kamu serta tuhan-tuhanmu?" (QS, Surah al-A'raf, 7:127).
Telah termasyhur bahwa Fir'aun mengaku sebagai tuhan dan biasa menyerukan, "Aku adalah tuhanmu yang tertinggi." Namun ayat ini menunjukkan bahwa ia juga seorang penyembah berhala.
Dukungan terbesar yang diperoleh Namrud datang dari para astrolog dan penenung yang dipandang sebagai orang-orang pintar di zaman itu. Ketundukan mereka ini membuka jalan bagi Namrud untuk memanfaatkan kaum tertindas dan kalangan bodoh.
Selain itu, sebagian famili Ibrahim, misalnya Azar yang membuat berhala dan juga memahami astrologi, termasuk pengikut Namrud. Ini saja sudah merupakan halangan besar bagi Ibrahim, karena di samping harus berjuang melawan kepercayaan umum itu, ia juga harus menghadapi perlawanan kaum kerabatnya sendiri.
Namrud telah menerjunkan diri ke dalam laut kepercayaan takhayul. Ia telah membentangkan permadani untuk pesta dan minum-minum ketika para astrolog membunyikan lonceng bahaya pertama seraya mengatakan, "Pemerintahan Anda akan runtuh melalui seorang putra negeri ini."
Baca juga: Beda Ajaran Tauhid Nabi Ibrahim dan Nabi Sebelumnya
Ketakutan laten Namrud bangkit. Ia bertanya, "Apakah ia telah lahir atau belum?"
Para astrolog itu menjawab bahwa ia belum lahir. Ia kemudian memerintahkan supaya diadakan pemisahan antara perempuan dan laki-laki-di malam yang, menurut ramalan para astrolog, kehamilan musuh mautnya itu akan terjadi.
Walaupun demikian, para algojonya membunuh anak-anak laki-laki. Para bidan diperintahkan untuk melaporkan rincian tentang anak-anak yang baru lahir ke suatu kantor khusus.
Ketika Musa mengguncang kekuasaan Fir'aun dengan logikanya yang kuat dan menguak kebohongannya dalam suatu pertemuan umum, para pendukung Fir'aun berkata kepadanya, "Apakah kamu membiarkan Musa dan kaumnya membuat kerusakan di negeri ini (Mesir) dan meninggalkan kamu serta tuhan-tuhanmu?" (QS, Surah al-A'raf, 7:127).
Telah termasyhur bahwa Fir'aun mengaku sebagai tuhan dan biasa menyerukan, "Aku adalah tuhanmu yang tertinggi." Namun ayat ini menunjukkan bahwa ia juga seorang penyembah berhala.
Dukungan terbesar yang diperoleh Namrud datang dari para astrolog dan penenung yang dipandang sebagai orang-orang pintar di zaman itu. Ketundukan mereka ini membuka jalan bagi Namrud untuk memanfaatkan kaum tertindas dan kalangan bodoh.
Selain itu, sebagian famili Ibrahim, misalnya Azar yang membuat berhala dan juga memahami astrologi, termasuk pengikut Namrud. Ini saja sudah merupakan halangan besar bagi Ibrahim, karena di samping harus berjuang melawan kepercayaan umum itu, ia juga harus menghadapi perlawanan kaum kerabatnya sendiri.
Namrud telah menerjunkan diri ke dalam laut kepercayaan takhayul. Ia telah membentangkan permadani untuk pesta dan minum-minum ketika para astrolog membunyikan lonceng bahaya pertama seraya mengatakan, "Pemerintahan Anda akan runtuh melalui seorang putra negeri ini."
Baca juga: Beda Ajaran Tauhid Nabi Ibrahim dan Nabi Sebelumnya
Ketakutan laten Namrud bangkit. Ia bertanya, "Apakah ia telah lahir atau belum?"
Para astrolog itu menjawab bahwa ia belum lahir. Ia kemudian memerintahkan supaya diadakan pemisahan antara perempuan dan laki-laki-di malam yang, menurut ramalan para astrolog, kehamilan musuh mautnya itu akan terjadi.
Walaupun demikian, para algojonya membunuh anak-anak laki-laki. Para bidan diperintahkan untuk melaporkan rincian tentang anak-anak yang baru lahir ke suatu kantor khusus.
Lihat Juga :