Berjuang Meluruskan Niat Itu Berat, Begini Penjelasannya
Kamis, 24 Agustus 2023 - 19:35 WIB
loading...
A
A
A
Dan niat tempatnya adalah di dalam hati, tidak harus diucapkan tanpa ada perselisihan di antara ulama. Ibnu Abil Izzi berkata: “Tidak ada seorang pun dari imam mazhab empat baik Syai‘i ataupun imam lainnya yang mensyaratkan agar niat dilafalkan, karena niat itu dalam hati dengan kesepakatan ulama.”
Oleh karena itu, melafalkan niat justru beribadah tanpa dasar agama dan contoh Nabi SAW, bahkan memberikan dampak negatif.
Baca juga: Cara Memperbaiki dan Meluruskan Niat Ibadah
Diceritakan, ada seorang awam dari penduduk Nejed pernah di Masjidil Haram hendak menunaikan shalat Zuhur, kebetulan di sampingnya adalah seorang yang suka mengeraskan/melafalkan niatnya. Tatkala sudah iqamat, orang tersebut berkata: “Ya Allah, saya niat untuk salat Zuhur empat rakaat karena Allah di belakang imam Masjidil Haram.”
Tatkala orang tersebut hendak melakukan takbiratul ihram, berkatalah si awam tadi: “Sebentar saudara! Masih kurang tanggal, hari, bulan, dan tahunnya!!” Akhirnya, orang itu pun bengong terheran heran! (lihat Syarh al-Arba‘in an-Nawawiyyah (hlm. 14–15) karya Ibnu Utsaimin)
Bolehnya membuat contoh-contoh untuk memudahkan pemahaman kepada pendengar. Lihatlah bagaimana Rasulullah SAW memberikan contoh dengan hijrah setelah menyebutkan sebuah kaidah bahwa setiap amal tergantung dengan niatnya.
Hal ini memberikan pelajaran bagi para dai, mubaligh, ustadz, dan sebagainya untuk berusaha semaksimal mungkin mentransfer ilmu kepada pendengar dengan bahasa yang mudah dicerna oleh otak mereka, jangan menggunakan bahasa-bahasa yang terbelit-belit.
Menarik sekali, apa yang dikatakan oleh Al-Ashma’i tatkala mengatakan: “Saya apabila mendengar Abu Amr bin al Ala’ berbicara, saya mengiranya orang biasa, karena dia berbicara dengan bahasa yang sederhana.”
Padahal tahukah Anda siapa Abu Amr bin al-Ala’? Dia adalah pakar bahasa Arab dan bacaan bacaan Al-Qur’an.
Baca juga: Kiat Meluruskan Niat Dalam Setiap Amalan Ibadah
Oleh karena itu, melafalkan niat justru beribadah tanpa dasar agama dan contoh Nabi SAW, bahkan memberikan dampak negatif.
Baca juga: Cara Memperbaiki dan Meluruskan Niat Ibadah
Diceritakan, ada seorang awam dari penduduk Nejed pernah di Masjidil Haram hendak menunaikan shalat Zuhur, kebetulan di sampingnya adalah seorang yang suka mengeraskan/melafalkan niatnya. Tatkala sudah iqamat, orang tersebut berkata: “Ya Allah, saya niat untuk salat Zuhur empat rakaat karena Allah di belakang imam Masjidil Haram.”
Tatkala orang tersebut hendak melakukan takbiratul ihram, berkatalah si awam tadi: “Sebentar saudara! Masih kurang tanggal, hari, bulan, dan tahunnya!!” Akhirnya, orang itu pun bengong terheran heran! (lihat Syarh al-Arba‘in an-Nawawiyyah (hlm. 14–15) karya Ibnu Utsaimin)
Bolehnya membuat contoh-contoh untuk memudahkan pemahaman kepada pendengar. Lihatlah bagaimana Rasulullah SAW memberikan contoh dengan hijrah setelah menyebutkan sebuah kaidah bahwa setiap amal tergantung dengan niatnya.
Hal ini memberikan pelajaran bagi para dai, mubaligh, ustadz, dan sebagainya untuk berusaha semaksimal mungkin mentransfer ilmu kepada pendengar dengan bahasa yang mudah dicerna oleh otak mereka, jangan menggunakan bahasa-bahasa yang terbelit-belit.
Menarik sekali, apa yang dikatakan oleh Al-Ashma’i tatkala mengatakan: “Saya apabila mendengar Abu Amr bin al Ala’ berbicara, saya mengiranya orang biasa, karena dia berbicara dengan bahasa yang sederhana.”
Padahal tahukah Anda siapa Abu Amr bin al-Ala’? Dia adalah pakar bahasa Arab dan bacaan bacaan Al-Qur’an.
Baca juga: Kiat Meluruskan Niat Dalam Setiap Amalan Ibadah
(mhy)
Lihat Juga :