Begini Cara Israel Mengubah Demografi setelah Duduki Palestina
Senin, 23 Oktober 2023 - 08:27 WIB
loading...
Posisi orang-orang Palestina yang terusir digantikan oleh orang-orang Zionis Yahudi dari berbagai jenis bangsa dan warna. Foto/Ilustrasi: Ist
A
A
A
Pada awal abad ke-19, jumlah kaum Yahudi di Palestina tidak lebih dari 5 ribu jiwa. Angka ini meningkat menjelang program kerja aktif eksodus Yahudi ke Palestina sekitar tahun 1880 hingga mencapai 23 ribu jiwa.
"Ketika pasukan Israel menduduki Palestina pada tahun 1918, jumlah penduduk Palestina sekitar 665 ribu jiwa," tulis Dr Muhsin Muhammad Shaleh dalam bukunya yang berjudul "Ardhu Filistin wa Sya’buha" dan diterjemahkan Warsito, Lc menjadi "Tanah Palestina dan Rakyatnya".
Dari jumlah tersebut sebanyak 550 ribu jiwa warga muslim , 60 ribu jiwa warga Nasrani , dan 55 ribu jiwa warga Yahudi. Kala itu, orang Arab mencapai 91,73% dari seluruh jumlah penduduk. "Sedang Yahudi 8,27% yang mayoritasnya mereka itu adalah para pendatang asing yang datang dari Rusia dan Eropa Timur selama 40 tahun sebelumnya," paparnya.
Baca juga: Ini Mengapa Palestina Disebut Tanah Kan'an
Di bawah penjajahan Inggris , yang telah berjanji mendirikan negara nasional bagi Yahudi di Palestina, terbuka lebar-lebar pintu migrasi Yahudi ke Palestina dan pembangunan permukiman-permukiman Yahudi. Sehingga selama tahun 1919 – 1948 saja orang-orang Yahudi yang migrasi ke Palestina sebanyak 483 ribu Yahudi.
Menurut Muhsin Muhammad Shaleh, sampai keluarnya keputusan PBB mengenai pembagian Palestina pada November 1947 orang-orang Arab Muslim Palestina masih tetap mayoritas.
Sesuai dengan maklumat (informasi) dari lajnah PBB yang menyarankan pembagian Palestina, maka jumlah penduduk Arab Muslim Palestina mencapai 1.237.374 jiwa atau 67,05% dari total jumlah penduduk yang ada, sedang Yahudi sekitar 608.225 jiwa atau 32,95% dari total jumlah penduduk. Angka ini berdasarkan data resmi pihak Inggris tahun 1946.
"Keputusan PBB yang zalim dengan membagi Palestina ini telah berupaya memberikan legalitas bagi pendirian entitas 'negara' Zionis Yahudi di tanah Palestina," ujar Muhsin Muhammad Shaleh.
Wujud kezaliman yang paling menonjol akibat dari keputusan PBB ini adalah tercerai-berai dan terusirnya warga Palestina.
Di wilayah yang dibagi, di mana orang Yahudi mendapat bagian 54% tanah, orang Yahudi yang tinggal hanya 498 orang dan orang Arab Muslimnya 497 ribu jiwa. Sedang di wilayah yang dibagi, di mana orang Arab Palestina Muslim mendapat 45% tanah, orang Arab Palestina yang tinggal sebanyak 725 ribu jiwa sementara Yahudi hanya 10 ribu orang saja.
"Ketika pasukan Israel menduduki Palestina pada tahun 1918, jumlah penduduk Palestina sekitar 665 ribu jiwa," tulis Dr Muhsin Muhammad Shaleh dalam bukunya yang berjudul "Ardhu Filistin wa Sya’buha" dan diterjemahkan Warsito, Lc menjadi "Tanah Palestina dan Rakyatnya".
Dari jumlah tersebut sebanyak 550 ribu jiwa warga muslim , 60 ribu jiwa warga Nasrani , dan 55 ribu jiwa warga Yahudi. Kala itu, orang Arab mencapai 91,73% dari seluruh jumlah penduduk. "Sedang Yahudi 8,27% yang mayoritasnya mereka itu adalah para pendatang asing yang datang dari Rusia dan Eropa Timur selama 40 tahun sebelumnya," paparnya.
Baca juga: Ini Mengapa Palestina Disebut Tanah Kan'an
Di bawah penjajahan Inggris , yang telah berjanji mendirikan negara nasional bagi Yahudi di Palestina, terbuka lebar-lebar pintu migrasi Yahudi ke Palestina dan pembangunan permukiman-permukiman Yahudi. Sehingga selama tahun 1919 – 1948 saja orang-orang Yahudi yang migrasi ke Palestina sebanyak 483 ribu Yahudi.
Menurut Muhsin Muhammad Shaleh, sampai keluarnya keputusan PBB mengenai pembagian Palestina pada November 1947 orang-orang Arab Muslim Palestina masih tetap mayoritas.
Sesuai dengan maklumat (informasi) dari lajnah PBB yang menyarankan pembagian Palestina, maka jumlah penduduk Arab Muslim Palestina mencapai 1.237.374 jiwa atau 67,05% dari total jumlah penduduk yang ada, sedang Yahudi sekitar 608.225 jiwa atau 32,95% dari total jumlah penduduk. Angka ini berdasarkan data resmi pihak Inggris tahun 1946.
"Keputusan PBB yang zalim dengan membagi Palestina ini telah berupaya memberikan legalitas bagi pendirian entitas 'negara' Zionis Yahudi di tanah Palestina," ujar Muhsin Muhammad Shaleh.
Wujud kezaliman yang paling menonjol akibat dari keputusan PBB ini adalah tercerai-berai dan terusirnya warga Palestina.
Di wilayah yang dibagi, di mana orang Yahudi mendapat bagian 54% tanah, orang Yahudi yang tinggal hanya 498 orang dan orang Arab Muslimnya 497 ribu jiwa. Sedang di wilayah yang dibagi, di mana orang Arab Palestina Muslim mendapat 45% tanah, orang Arab Palestina yang tinggal sebanyak 725 ribu jiwa sementara Yahudi hanya 10 ribu orang saja.
Lihat Juga :