Wajib Mencontoh Rasulullah dalam Mendidik Anak
Jum'at, 07 Agustus 2020 - 09:15 WIB
loading...
Kasih sayang dan kedekatan yang serasi dan harmonis dengan anak akan membantunya untuk bertahap memiliki karakter ikhlas. Foto ilustrasi/istimewa
A
A
A
Nabi Muhammad adalah seorang yang sibuk mengurus pemerintahan , memimpin pasukan, menegakkan hukum, bernegosiasi dengan delegasi, mengajar para sahabat, menerima wahyu, dan mendakwahkan Islam, bahkan mengirim surat kepada para raja dan pemimpin dunia.
Namun, di sela-sela kesibukannya, Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam ternyata seorang yang bertanggung jawab dan penuh perhatian kepada keluarga , kepada anak-istri, cucu, bahkan anak-anak di sekitarnya. Ia sosok pelindung dan seorang yang lemah-lembut terhadap keluarga. Hal itu seperti yang diakuinya dalam salah satu hadis:
خَيْرُكُمْ خَيْرُكُمْ لأَهْلِهِ وَأَنَا خَيْرُكُمْ لأَهْلِي
“Yang terbaik di antara kalian adalah yang terbaik terhadap keluarga. Dan aku adalah yang terbaik kepada keluarga” (HR al-Tirmidzi, Ibnu Majah, dan Ibnu Hibban).
Rasulullah SAW juga sosok penyayang dan ramah kepada anak-anak. Hal ini diakui langsung oleh Anas ibn Malik yang kesehariannya lebih banyak bersama Nabi Muhammad, “Aku belum pernah melihat seseorang yang lebih sayang kepada keluarga selain Rasulullah SAW.” (Baca juga : Besarnya Pahala Orang Tua Mendidik Anak Perempuan )
Keakraban Rasulullah SAW kepada mereka terlihat jelas dalam berbagai kesempatan. Pernah pada suatu ketika, ia mencium salah seorang cucunya, al-Hasan ibn ‘Ali. Kejadian itu disaksikan langsung oleh al-Aqra‘ ibn Habis. Al-Aqra‘ pun berkomentar, “Aku memiliki sepuluh orang anak, tapi tak ada satu pun yang biasa kucium. ” Rasulullah SAW menoleh ke arahnya dan menjawab, ”Siapa yang tak sayang, maka tak disayang,” (HR Bukhari dan Muslim).
Dalam konteks ini, ittiba’ (mengikuti tuntunan) Rasulullah SAW sangat penting dan utama. Mengikuti Rasulullah adalah merupakan syarat diterimanya amal seorang hamba. Perlu ikhlas dalam melakukan ibadah. Perkara ikhlas merupakan amalan hati yang sangat berat kecuali kepada orang yang diberi taufik oleh Allah azza wa jalla. Termasuk dalam hal ini adalah mendidik karakter ikhlas kepada anak juga butuh kesungguhan, latihan, dan difahamkan terus menerus agar anak ikhlas dalam menuntut ilmu dan juga ikhlas dalam beribadah.
Imam Ibnu Jama’ah rahimahullah (wafat 733H) menjelaskan, ikhlas dalam permulaan menuntut ilmu bagi anak-anak tidak boleh menjadi syarat. Karena jika demikian, mungkin anak-anak bahkan para pemula yang beranjak dewasa tidak akan mendapat kesempatan belajar agama. Akan ada banyak orang yang buta terhadap ilmu agama jika ikhlas menjadi syarat utama untuk diterimanya seorang untuk memulai belajar memahami ilmu. Sebab banyak diantara mereka yang kesulitan untuk memulai dengan ikhlas. (Kitab Tadzkiratul As-Sami’ wa al-mutakalim fi Adab al ‘Alim wa al-Mutakallim).
Realitanya terkadang anak-anak belum memahami hakikat ikhlas . Mereka belajar bisa jadi karena diperintahkan orang tua, pengaruh teman, atau sekolah dan belajar agama karena memang di lingkungannya hal ini menjadi kebiasaan dan tradisi.
Orang tua dan pendidik hendaknya terus memotivasinya agar niatnya ikhlas untuk mencari ridha dan pahala dari Allah Subhanahu wa ta’ala. Terus menerus tanpa bosan memberi semangat dan secara bertahap diberi pengertian bahwa semua amalan harus lurus niatnya untuk mencari keridhaan-Nya. Kisahkan pula hadis yang agung Rasulullah Shalallaahu ‘alaihi wa sallam tentang ancaman berat ketika tujuannya belajar ilmu syar’i tidak ikhlas. (Baca jua : Agar Muslimah Berhijab Aman Berwudhu di Tempat Terbuka )
Namun, di sela-sela kesibukannya, Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam ternyata seorang yang bertanggung jawab dan penuh perhatian kepada keluarga , kepada anak-istri, cucu, bahkan anak-anak di sekitarnya. Ia sosok pelindung dan seorang yang lemah-lembut terhadap keluarga. Hal itu seperti yang diakuinya dalam salah satu hadis:
خَيْرُكُمْ خَيْرُكُمْ لأَهْلِهِ وَأَنَا خَيْرُكُمْ لأَهْلِي
“Yang terbaik di antara kalian adalah yang terbaik terhadap keluarga. Dan aku adalah yang terbaik kepada keluarga” (HR al-Tirmidzi, Ibnu Majah, dan Ibnu Hibban).
Rasulullah SAW juga sosok penyayang dan ramah kepada anak-anak. Hal ini diakui langsung oleh Anas ibn Malik yang kesehariannya lebih banyak bersama Nabi Muhammad, “Aku belum pernah melihat seseorang yang lebih sayang kepada keluarga selain Rasulullah SAW.” (Baca juga : Besarnya Pahala Orang Tua Mendidik Anak Perempuan )
Keakraban Rasulullah SAW kepada mereka terlihat jelas dalam berbagai kesempatan. Pernah pada suatu ketika, ia mencium salah seorang cucunya, al-Hasan ibn ‘Ali. Kejadian itu disaksikan langsung oleh al-Aqra‘ ibn Habis. Al-Aqra‘ pun berkomentar, “Aku memiliki sepuluh orang anak, tapi tak ada satu pun yang biasa kucium. ” Rasulullah SAW menoleh ke arahnya dan menjawab, ”Siapa yang tak sayang, maka tak disayang,” (HR Bukhari dan Muslim).
Dalam konteks ini, ittiba’ (mengikuti tuntunan) Rasulullah SAW sangat penting dan utama. Mengikuti Rasulullah adalah merupakan syarat diterimanya amal seorang hamba. Perlu ikhlas dalam melakukan ibadah. Perkara ikhlas merupakan amalan hati yang sangat berat kecuali kepada orang yang diberi taufik oleh Allah azza wa jalla. Termasuk dalam hal ini adalah mendidik karakter ikhlas kepada anak juga butuh kesungguhan, latihan, dan difahamkan terus menerus agar anak ikhlas dalam menuntut ilmu dan juga ikhlas dalam beribadah.
Imam Ibnu Jama’ah rahimahullah (wafat 733H) menjelaskan, ikhlas dalam permulaan menuntut ilmu bagi anak-anak tidak boleh menjadi syarat. Karena jika demikian, mungkin anak-anak bahkan para pemula yang beranjak dewasa tidak akan mendapat kesempatan belajar agama. Akan ada banyak orang yang buta terhadap ilmu agama jika ikhlas menjadi syarat utama untuk diterimanya seorang untuk memulai belajar memahami ilmu. Sebab banyak diantara mereka yang kesulitan untuk memulai dengan ikhlas. (Kitab Tadzkiratul As-Sami’ wa al-mutakalim fi Adab al ‘Alim wa al-Mutakallim).
Realitanya terkadang anak-anak belum memahami hakikat ikhlas . Mereka belajar bisa jadi karena diperintahkan orang tua, pengaruh teman, atau sekolah dan belajar agama karena memang di lingkungannya hal ini menjadi kebiasaan dan tradisi.
Orang tua dan pendidik hendaknya terus memotivasinya agar niatnya ikhlas untuk mencari ridha dan pahala dari Allah Subhanahu wa ta’ala. Terus menerus tanpa bosan memberi semangat dan secara bertahap diberi pengertian bahwa semua amalan harus lurus niatnya untuk mencari keridhaan-Nya. Kisahkan pula hadis yang agung Rasulullah Shalallaahu ‘alaihi wa sallam tentang ancaman berat ketika tujuannya belajar ilmu syar’i tidak ikhlas. (Baca jua : Agar Muslimah Berhijab Aman Berwudhu di Tempat Terbuka )
Lihat Juga :