Kisah Al-Mutsanna Pimpin Pasukan Muslim Bebaskan Surga Dunia Bernama Irak
Sabtu, 13 Januari 2024 - 16:58 WIB
loading...
A
A
A
Selanjutnya, Haekal mengatakan, kalau kita meneruskan perjalanan menyusuri Sungai Furat, kita akan berhadapan dengan kota Mada'in, ibu kota Persia, yang merupakan pusat segala kemewahan dan kenikmatan hidup di seluruh dunia. Betapa besarnya kemewahan Persia ketika itu, tak dapat ditandingi oleh bangsa lain. Tetapi saat itu pula Persia mulai tergelincir menuju kejatuhan dan kehancurannya.
Baca juga: Benarkah Sayyidina Ali Menolak Kepemimpinan Khalifah Abu Bakar?
Barangkali nama-nama yang kita sebutkan itu dapat melukiskan kebesaran sejarah kawasan ini, yang terletak di kedua sisi Delta Furat dan Tigris. Semua ini akan menimbulkan kenangan indah tentang taman-taman, tentang tanaman anggur dan kehijauan kebun-kebun di sekitar kota itu, membentang luas tak berujung dengan warna warni yang sungguh cemerlang, dengan semerbak bunga-bunga dipancarkan ke udara yang kita hirup.
Baru sebagian saja kesuburan daerah ini yang tampak, orang sudah menamakannya "Surga Dunia;" karena hasil buminya yang begitu melimpah, karena keindahannya yang tak kalah indah dengan Syam, bahkan mungkin melebihinya.
Abu Bakar melihat apa yang dikatakan oleh Musanna asy-Syaibani itu memang benar juga. Ia berpendapat sudah menjadi kewajiban Muslimin mengamankan penduduk kawasan itu. Kalau kemudian mereka bersedia menerima dakwah Islam dan mengusir kekuasaan Persia di sana, maka itulah yang lebih baik. Tetapi kalau tidak pasukan Muslimin akan memerangi kekuasaan Persia, supaya kebebasan menyatakan pendapat itu terbuka luas. Suara kebenaran pasti menang, dengan memberikan alasan dan ajakan yang baik.
Khalid bin Walid
Abu Bakar bermusyawarah dengan sahabat-sahabatnya. Kepada mereka disampaikannya keterangan yang diperolehnya dari Musanna. "Berilah aku kekuasaan dari pihak kaumku. Aku akan memerangi siapa saja orang Persia yang menganggap aku lemah. Dari pihakku saja sudah cukup untuk menggantikan kalian," kata Abu Bakar.
Tatkala mereka saling bertukar pikiran itu, ada yang berpendapat bahwa dalam hal ini diperlukan sekali pendapat Khalid bin al-Walid yang sekaligus akan menunjukkan apa yang harus dilakukan jika pihak Persia mengadakan perlawanan kepada pasukan Muslimin.
Baca juga: Kisah Ketawadhuan Khalifah Abu Bakar yang Membuat Umar Takjub
Sementara itu Khalid masih tinggal di Yamamah dengan kedua istrinya, Umm Tamim dan putri Mujja'ah, sedang beristirahat setelah ekspedisi 'Aqriba'. Ia hidup tenteram dengan kedua istrinya itu.
Baca juga: Benarkah Sayyidina Ali Menolak Kepemimpinan Khalifah Abu Bakar?
Barangkali nama-nama yang kita sebutkan itu dapat melukiskan kebesaran sejarah kawasan ini, yang terletak di kedua sisi Delta Furat dan Tigris. Semua ini akan menimbulkan kenangan indah tentang taman-taman, tentang tanaman anggur dan kehijauan kebun-kebun di sekitar kota itu, membentang luas tak berujung dengan warna warni yang sungguh cemerlang, dengan semerbak bunga-bunga dipancarkan ke udara yang kita hirup.
Baru sebagian saja kesuburan daerah ini yang tampak, orang sudah menamakannya "Surga Dunia;" karena hasil buminya yang begitu melimpah, karena keindahannya yang tak kalah indah dengan Syam, bahkan mungkin melebihinya.
Abu Bakar melihat apa yang dikatakan oleh Musanna asy-Syaibani itu memang benar juga. Ia berpendapat sudah menjadi kewajiban Muslimin mengamankan penduduk kawasan itu. Kalau kemudian mereka bersedia menerima dakwah Islam dan mengusir kekuasaan Persia di sana, maka itulah yang lebih baik. Tetapi kalau tidak pasukan Muslimin akan memerangi kekuasaan Persia, supaya kebebasan menyatakan pendapat itu terbuka luas. Suara kebenaran pasti menang, dengan memberikan alasan dan ajakan yang baik.
Khalid bin Walid
Abu Bakar bermusyawarah dengan sahabat-sahabatnya. Kepada mereka disampaikannya keterangan yang diperolehnya dari Musanna. "Berilah aku kekuasaan dari pihak kaumku. Aku akan memerangi siapa saja orang Persia yang menganggap aku lemah. Dari pihakku saja sudah cukup untuk menggantikan kalian," kata Abu Bakar.
Tatkala mereka saling bertukar pikiran itu, ada yang berpendapat bahwa dalam hal ini diperlukan sekali pendapat Khalid bin al-Walid yang sekaligus akan menunjukkan apa yang harus dilakukan jika pihak Persia mengadakan perlawanan kepada pasukan Muslimin.
Baca juga: Kisah Ketawadhuan Khalifah Abu Bakar yang Membuat Umar Takjub
Sementara itu Khalid masih tinggal di Yamamah dengan kedua istrinya, Umm Tamim dan putri Mujja'ah, sedang beristirahat setelah ekspedisi 'Aqriba'. Ia hidup tenteram dengan kedua istrinya itu.
Lihat Juga :