alexametrics

Kisah Sahabat Nabi

Benarkah Sayyidina Ali Menolak Kepemimpinan Khalifah Abu Bakar?

loading...
Benarkah Sayyidina Ali Menolak Kepemimpinan Khalifah Abu Bakar?
Ilustrasi Khalifah Abu Bakar. Fito/Ilustrasi/Ist
SEPENINGGAL Rasulullah shalallahu alaihi wa salam (SAW), kaum Muslimin berpikir tentang kekhalifahan itu menurut pandangan Arab murni. Kebetulan pula Rasulullah Sallallahu 'alaihi wasallam tidak mewasiatkan kekhalifahan itu kepada siapa pun. (Baca juga: Murtad dan Penolakan Membayar Zakat Pascawafatnya Rasulullah)

Kaum Ansar dengan Muhajirin berselisih mengenai siapa pelanjut Rasulullah. Bahkan ada yang menyebut di dalam tubuh kaum Muhajirin sendiri juga terjadi perpecahan dengan Banu Hasyim.

Muhammad Husain Haikal dalam As-Siddiq Abu Bakr menggambarkan sesudah baiat umum terhadap Abu Bakar, tak ada alasan untuk meragukan, bahwa sebenarnya penduduk Madinah sudah cukup bersungguh-sungguh dalam memikirkan pemilihan Khalifah pertama itu, dan dasarnya memang tak terdapat, baik dalam Qur'an maupun dalam Sunah.

“Maka mereka waktu itu memilih penduduk yang tinggal di Madinah yang di kalangan Muslimin dipandang lebih tepat untuk memegang pimpinan. Andaikata masalah ini sampai melampaui batas ke luar Madinah, sampai kepada suku-suku Arab di luar kota Madinah tentu soalnya akan jadi lain,” tutur Haekal.



Pengukuhan Abu Bakar itu adalah suatu hal tiba-tiba yang menguntungkan — memakai kata-kata Umar bin Khattab. Tradisi yang dipakai dalam memilih Abu Bakar bukan itu pula yang dipakai dalam memilih kedua Khalifah sesudah itu — Umar dan Usman bin Affan.

Sebelum meninggal, Abu Bakar sudah berwasiat agar memilih Umar bin Khattab. Kemudian pengganti berikutnya oleh Umar diserahkan kepada enam orang yang nama-namanya disebutkan, agar memilih seorang di antara sesama mereka.



Setelah Usman terbunuh serta timbul perselisihan sesudah itu antara Ali bin Abi Thalib dengan Muawiyah, pihak Banu Umayyah melanjutkan kekuasaan itu secara turun-temurun dengan warisan yang diterima anak dari bapak.

Menurut Haekal, kalau demikian sumber peristiwa itu tak ada alasan untuk mengatakan, bahwa dalam menjalankan kekuasaan, dalam Islam sudah ada suatu sistem yang baku. Tetapi yang ada ialah ijtihad yang didasarkan kepada peristiwa-peristiwa yang terjadi dalam masyarakat Islam yang berubah-ubah dan didasarkan pada aneka macam bentuk sesuai dengan perubahan situasi.

Sedangkan sistem pemerintahan yang dijalankan oleh Abu Bakar dalam hal ini menurut pola Arab yang murni. Hubungannya dengan masa Nabi yang masih dekat, serta hubungan Abu Bakar sendiri secara pribadi dengan Rasulullah dan pengaruhnya dalam dirinya, memberi bekas padanya yang kemudian mengalami perubahan karena situasi dan meluasnya kawasan Islam.
halaman ke-1 dari 9
Ikuti Kuis Berhadiah Puluhan Juta Rupiah di SINDOnews
cover top ayah
فَلَا تُعۡجِبۡكَ اَمۡوَالُهُمۡ وَلَاۤ اَوۡلَادُهُمۡ‌ؕ اِنَّمَا يُرِيۡدُ اللّٰهُ لِيُعَذِّبَهُمۡ بِهَا فِى الۡحَيٰوةِ الدُّنۡيَا وَتَزۡهَقَ اَنۡفُسُهُمۡ وَهُمۡ كٰفِرُوۡنَ
Maka janganlah harta dan anak-anak mereka membuatmu kagum. Sesungguhnya Allah akan menyiksa mereka dengan harta itu dalam kehidupan dunia dan kelak akan mati dalam keadaan kafir.

(QS. At-Taubah:55)
cover bottom ayah
preload video
Aktifkan notifikasi browser anda untuk mendapatkan update berita terkini SINDOnews.
Aktifkan
Tidak