Kisah Al-Mutsanna Pimpin Pasukan Muslim Bebaskan Surga Dunia Bernama Irak
Sabtu, 13 Januari 2024 - 16:58 WIB
loading...
Kalau Muslimin berhasil membebaskan Irak berarti berita baik untuk langkah selanjutnya yang lebih besar. Ilustrasi: Ist
A
A
A
Al-Mutsanna bin Haritsah asy-Syaibani adalah pemimpin pasukan dalam awal masa penaklukan Kekaisaran Sasaniyah di era Khalifah Abu Bakar Ash-Shiddiq . Beliau wafat sebelum kemenangan pasukan Muslim dalam Pertempuran Qadisiyyah.
Ia menjadi tokoh yang dihormati dalam sejarah Irak modern karena keterlibatan militernya tersebut, dan namanya pernah dijadikan nama gerakan politik Pan Arabisme Nadi al-Muthanna di Irak. Selain itu namanya juga diabadikan sebagai nama Kegubernuran Al Muthanna yang terletak di selatan Irak.
Muhammad Husain Haekal dalam bukunya berjudul "Abu Bakr As-Siddiq" yang diterjemahkan dari bahasa Arab oleh Ali Audah (PT Pustaka Litera AntarNusa, 1987) menyebut kalau Muslimin berhasil membebaskan Irak berarti berita baik untuk langkah selanjutnya yang lebih besar.
Baca juga: Al-Musanna Pahlawan Asal Bahrain Pelopor Pembebasan Irak
Delta di kedua sungai ini - dengan segala kesuburan dan hasil buminya - bukanlah daerah penghasil bumi tersubur dan terbaik di Irak . Bahkan Sungai Tigris dan Sungai Furat sudah mengalir sejajar hampir tiga ratus mil sebelum bermuara.
Jadi bukan hanya daerah-daerah subur sejajar itu saja yang membuat taman surga yang tak kalah dengan taman-taman di Syam yang telah mempesonakan penduduk Hijaz itu, tetapi juga di sana terdapat peninggalan-peninggalan sejarah yang telah membuat kagum penduduk Semenanjung itu sendiri, bahkan penduduk dunia seluruhnya.
Misalnya kota Ur yang menurut penemuan-penemuan belakangan ini yang oleh sebagian orang dibandingkan dengan peninggalan-peninggalan Firaun, terdapat di kawasan ini.
Menurut Haekal, kalau kita pergi ke utara tak jauh dari kedua sungai yang sejajar itu, kita akan bertemu dengan peninggalan-peninggalan purbakala Babilonia.
Di pantai Furat itu kita akan melihat pula menara Babel berdiri tegak seolah sedang berkisah tentang kebesaran Asiria dan sejarahnya yang gemilang.
"Dan kalau sekarang kita bicara tentang menara ini, tak habis-habisnya akan timbul rasa kagum dalam hati kita. Betapa pula hal itu sudah berlalu empat ribu tahun silam, dan betapa besar pengaruhnya dalam hati orang Arab yang pernah mendengar kisahnya!" tulis Haekal.
Ia menjadi tokoh yang dihormati dalam sejarah Irak modern karena keterlibatan militernya tersebut, dan namanya pernah dijadikan nama gerakan politik Pan Arabisme Nadi al-Muthanna di Irak. Selain itu namanya juga diabadikan sebagai nama Kegubernuran Al Muthanna yang terletak di selatan Irak.
Muhammad Husain Haekal dalam bukunya berjudul "Abu Bakr As-Siddiq" yang diterjemahkan dari bahasa Arab oleh Ali Audah (PT Pustaka Litera AntarNusa, 1987) menyebut kalau Muslimin berhasil membebaskan Irak berarti berita baik untuk langkah selanjutnya yang lebih besar.
Baca juga: Al-Musanna Pahlawan Asal Bahrain Pelopor Pembebasan Irak
Delta di kedua sungai ini - dengan segala kesuburan dan hasil buminya - bukanlah daerah penghasil bumi tersubur dan terbaik di Irak . Bahkan Sungai Tigris dan Sungai Furat sudah mengalir sejajar hampir tiga ratus mil sebelum bermuara.
Jadi bukan hanya daerah-daerah subur sejajar itu saja yang membuat taman surga yang tak kalah dengan taman-taman di Syam yang telah mempesonakan penduduk Hijaz itu, tetapi juga di sana terdapat peninggalan-peninggalan sejarah yang telah membuat kagum penduduk Semenanjung itu sendiri, bahkan penduduk dunia seluruhnya.
Misalnya kota Ur yang menurut penemuan-penemuan belakangan ini yang oleh sebagian orang dibandingkan dengan peninggalan-peninggalan Firaun, terdapat di kawasan ini.
Menurut Haekal, kalau kita pergi ke utara tak jauh dari kedua sungai yang sejajar itu, kita akan bertemu dengan peninggalan-peninggalan purbakala Babilonia.
Di pantai Furat itu kita akan melihat pula menara Babel berdiri tegak seolah sedang berkisah tentang kebesaran Asiria dan sejarahnya yang gemilang.
"Dan kalau sekarang kita bicara tentang menara ini, tak habis-habisnya akan timbul rasa kagum dalam hati kita. Betapa pula hal itu sudah berlalu empat ribu tahun silam, dan betapa besar pengaruhnya dalam hati orang Arab yang pernah mendengar kisahnya!" tulis Haekal.
Lihat Juga :