Pembebasan Irak: Kisah Khalid bin Walid Kalahkan Pasukan Persia di Mazar
Selasa, 16 Januari 2024 - 11:28 WIB
loading...
A
A
A
Ekspedisi Mazar
Beralasan sekali jika kemudian timbul rasa khawatir dalam hati Musanna dan pasukannya itu. Kehancuran Ormizd itu telah menimbulkan rasa dendam yang besar dalam hati pasukan Persia. Mereka datang semua dengan niat hendak membalas dendam. Mereka mengira, dengan hancurnya Mutsanna dan pasukannya yang kini jauh dari markas komando itu, tujuan mereka sudah akan tercapai .
Setelah Khalid sampai di Mazar pihak Persia takut juga meskipun kedatangannya itu tak sampai mengurangi semangatnya. Kobad dan Anusyagan melihat ada kesempatan baik untuk membalas kehancurannya di Hafir itu.
Mereka bertekad menghilangkan coreng di kening, hendak menebus rasa malu dan aib selama ini. Mereka bakar semangat pasukan yang dulu bersama-sama, mereka kerahkan ke medan pertempuran dengan mengobarkan api dendam yang tak pernah padam ke dalam hati pasukan itu.
Dalam benak ketiga panglima ini terbayang, bahwa kalau mereka menyerang Khalid sebelum orang ini siap tempur, kemenangan terhadap pasukan Muslimin pasti di tangan mereka, dan akan dapat mengusir mereka kembali ke Semenanjung dengan kepala tersungkur. Segala harapan dalam angan-angan mereka untuk memerangi Kisra atau pasukannya akan terkikis.
Baca juga: Pembebasan Irak: Kisah Surat Khalid yang Menyebut Pasukan Muslim Cinta Mati
Khalid dalam Perang Mazar
Melihat persiapan pasukan Persia itu, Khalid tetap dengan rencananya yang dibawanya dari Jembatan Besar, dan dengan kekuatannya itu ia akan menyerang mereka.
Mutsanna dan pasukannya melihat Khalid yang berada di depannya itu merupakan pertolongan Allah yang diberikan kepada mereka sebagai suatu mukjizat. Perasaan takut itu sekarang berubah menjadi yakin akan mendapat kemenangan. Maut akan dihadapinya dengan senyum, bukan dengan rasa takut.
Benar apa yang dikatakan Khalid kepada Ormizd dulu: "Aku datang kepadamu dengan pasukan yang cinta mati, seperti juga kalian yang cinta hidup."
Kedua belah pihak akhirnya bertempur berhadap-hadapan. Qarin, Kobad dan Anusyagan terbunuh di depan mata pasukannya sendiri. Pedang pasukan Muslimin memenggal leher serdadu-serdadu Persia itu dari segenap penjuru.
Beralasan sekali jika kemudian timbul rasa khawatir dalam hati Musanna dan pasukannya itu. Kehancuran Ormizd itu telah menimbulkan rasa dendam yang besar dalam hati pasukan Persia. Mereka datang semua dengan niat hendak membalas dendam. Mereka mengira, dengan hancurnya Mutsanna dan pasukannya yang kini jauh dari markas komando itu, tujuan mereka sudah akan tercapai .
Setelah Khalid sampai di Mazar pihak Persia takut juga meskipun kedatangannya itu tak sampai mengurangi semangatnya. Kobad dan Anusyagan melihat ada kesempatan baik untuk membalas kehancurannya di Hafir itu.
Mereka bertekad menghilangkan coreng di kening, hendak menebus rasa malu dan aib selama ini. Mereka bakar semangat pasukan yang dulu bersama-sama, mereka kerahkan ke medan pertempuran dengan mengobarkan api dendam yang tak pernah padam ke dalam hati pasukan itu.
Dalam benak ketiga panglima ini terbayang, bahwa kalau mereka menyerang Khalid sebelum orang ini siap tempur, kemenangan terhadap pasukan Muslimin pasti di tangan mereka, dan akan dapat mengusir mereka kembali ke Semenanjung dengan kepala tersungkur. Segala harapan dalam angan-angan mereka untuk memerangi Kisra atau pasukannya akan terkikis.
Baca juga: Pembebasan Irak: Kisah Surat Khalid yang Menyebut Pasukan Muslim Cinta Mati
Khalid dalam Perang Mazar
Melihat persiapan pasukan Persia itu, Khalid tetap dengan rencananya yang dibawanya dari Jembatan Besar, dan dengan kekuatannya itu ia akan menyerang mereka.
Mutsanna dan pasukannya melihat Khalid yang berada di depannya itu merupakan pertolongan Allah yang diberikan kepada mereka sebagai suatu mukjizat. Perasaan takut itu sekarang berubah menjadi yakin akan mendapat kemenangan. Maut akan dihadapinya dengan senyum, bukan dengan rasa takut.
Benar apa yang dikatakan Khalid kepada Ormizd dulu: "Aku datang kepadamu dengan pasukan yang cinta mati, seperti juga kalian yang cinta hidup."
Kedua belah pihak akhirnya bertempur berhadap-hadapan. Qarin, Kobad dan Anusyagan terbunuh di depan mata pasukannya sendiri. Pedang pasukan Muslimin memenggal leher serdadu-serdadu Persia itu dari segenap penjuru.
Lihat Juga :