Pembebasan Irak: Kontroversi Banjir Darah yang Diciptakan Khalid bin Walid
Kamis, 18 Januari 2024 - 14:16 WIB
loading...
A
A
A
Kebiadaban ini masih dianggap termasuk nilai-nilai peradaban, dan kesiapan manusia berperang masih dipandang sebagai keperluan pokok dalam kehidupan bangsa-bangsa, bahkan keperluan pokok untuk mempertahankan eksistensinya supaya dapat mempertahankan diri dari kepunahan.
Menurut Haekal, apa yang akan menjadi pegangan seorang jenderal dalam suatu peperangan, yang mungkin menambah atau mengurangi kebiadabannya, bukanlah hal yang amat penting dalam kehidupan umat manusia.
Baca juga: Pembebasan Irak: Kisah Benteng Perempuan dan Seorang Putri Bangsawan Persia
Di segala zaman, katanya, manusia sudah biasa menganggap kemenangan itu dapat memaafkan segala yang sudah lalu. Dalam berbagai pertempuran kemenangan memang di pihak Khalid bin Walid selalu, maka dengan segala kemenangannya itu ia dapat dimaafkan, kalaupun permintaan maaf itu memang diperlukan.
"Untuk meyakinkan alasan ini, rasanya cukup jika kita ketahui, bahwa kemenangan-kemenangan Khalid dan segala tindakannya itu telah melumpuhkan semangat dan moral orang-orang Persia dan orang-orang Arab pendukungnya," ujarnya.
"Mereka jadi ketakutan, dan sesudah peristiwa Ullais itu memang tak ada lagi dari mereka yang berpikir hendak mengadakan pembalasan, seperti yang terjadi sebelumnya di Mazar dan Hafir," lanjut Haekal.
Bahkan kehancuran Persia itu begitu dalam menusuk hati Kisra Ardasyir sehingga ia tak lagi mampu melawan penyakit yang dideritanya dan meminta Bahman mendampinginya sampai dia mati berulam jantung.
Bagaimana lagi orang-orang Persia dan sekutu-sekutunya orang Arab itu masih akan memikirkan balas dendam, padahal pasukan Muslimin memang benar-benar cinta mati, dan kecintaan mereka pada mati itu justru membuat mereka hidup!
Kemudian mereka juga melihat panglima perangnya itu seolah dewa perang yang menjelma menjadi manusia! Tidakkah lebih baik buat mereka - dan ini yang mereka saksikan - meletakkan senjata saja dan menyerah kepada nasib?!
Baca juga: Pembebasan Irak: Doa Khalid bin Walid dan Kisah Sungai Darah
Menurut Haekal, apa yang akan menjadi pegangan seorang jenderal dalam suatu peperangan, yang mungkin menambah atau mengurangi kebiadabannya, bukanlah hal yang amat penting dalam kehidupan umat manusia.
Baca juga: Pembebasan Irak: Kisah Benteng Perempuan dan Seorang Putri Bangsawan Persia
Di segala zaman, katanya, manusia sudah biasa menganggap kemenangan itu dapat memaafkan segala yang sudah lalu. Dalam berbagai pertempuran kemenangan memang di pihak Khalid bin Walid selalu, maka dengan segala kemenangannya itu ia dapat dimaafkan, kalaupun permintaan maaf itu memang diperlukan.
"Untuk meyakinkan alasan ini, rasanya cukup jika kita ketahui, bahwa kemenangan-kemenangan Khalid dan segala tindakannya itu telah melumpuhkan semangat dan moral orang-orang Persia dan orang-orang Arab pendukungnya," ujarnya.
"Mereka jadi ketakutan, dan sesudah peristiwa Ullais itu memang tak ada lagi dari mereka yang berpikir hendak mengadakan pembalasan, seperti yang terjadi sebelumnya di Mazar dan Hafir," lanjut Haekal.
Bahkan kehancuran Persia itu begitu dalam menusuk hati Kisra Ardasyir sehingga ia tak lagi mampu melawan penyakit yang dideritanya dan meminta Bahman mendampinginya sampai dia mati berulam jantung.
Bagaimana lagi orang-orang Persia dan sekutu-sekutunya orang Arab itu masih akan memikirkan balas dendam, padahal pasukan Muslimin memang benar-benar cinta mati, dan kecintaan mereka pada mati itu justru membuat mereka hidup!
Kemudian mereka juga melihat panglima perangnya itu seolah dewa perang yang menjelma menjadi manusia! Tidakkah lebih baik buat mereka - dan ini yang mereka saksikan - meletakkan senjata saja dan menyerah kepada nasib?!
Baca juga: Pembebasan Irak: Doa Khalid bin Walid dan Kisah Sungai Darah
(mhy)
Lihat Juga :